Kanal24, Malang — Di tengah sejuknya malam Ramadan di Kota Malang, ratusan mahasiswa memenuhi ruang utama Masjid Raden Patah Universitas Brawijaya, Selasa (10/3/2026). Usai salat tarawih, mereka mengikuti tausiyah yang disampaikan Anies Rasyid Baswedan.
Namun yang dibicarakan malam itu bukan sekadar pesan spiritual Ramadan. Anies justru mengangkat persoalan yang menurutnya sedang menjadi pekerjaan rumah besar bangsa: defisit integritas.
“Bangsa ini sedang mengalami masalah integritas,” kata Anies di hadapan mahasiswa. “Tapi jangan bayangkan integritas itu baru dibicarakan ketika seseorang sudah punya jabatan.”
Menurutnya, integritas tidak dimulai di ruang kekuasaan, melainkan dari ruang-ruang kecil dalam kehidupan sehari-hari—termasuk di kampus.
Integritas Dimulai dari Kebiasaan Kecil
Anies mengingatkan bahwa integritas bukan sekadar soal tidak korupsi. Integritas adalah keutuhan antara nilai, tindakan, dan tanggung jawab.
Ia mencontohkan berbagai kebiasaan sederhana yang sebenarnya menjadi latihan integritas sejak masa kuliah: mengerjakan tugas secara jujur, memimpin organisasi tanpa memanfaatkan jabatan, hingga menepati janji.
“Integritas itu dibangun dari kebiasaan-kebiasaan kecil,” ujarnya.
Masalahnya, menurut Anies, generasi muda kini hidup di tengah berbagai godaan jalan pintas yang semakin mudah ditemukan.
Plagiarisme untuk menyelesaikan tugas lebih cepat. Manipulasi angka agar terlihat berhasil. Nepotisme untuk mendapatkan posisi.
“Plagiarisme untuk lulus cepat. Nepotisme untuk naik jabatan. Manipulasi angka supaya terlihat berhasil. Itu semua jalan pintas,” kata Anies.
Ia mengibaratkan praktik tersebut seperti atlet yang menggunakan doping untuk meraih medali.
“Mungkin terlihat cepat berhasil, tapi merusak otot integritas,” ujarnya.
Generasi Digital dan Banjir Informasi
Dalam dialog dengan mahasiswa, Anies juga menyoroti tantangan generasi muda yang hidup di dua dunia sekaligus: dunia nyata dan dunia digital.
Media sosial membuat informasi bergerak sangat cepat. Namun di sisi lain, banjir informasi itu juga memunculkan risiko disinformasi dan hoaks.
Karena itu, menurut Anies, kemampuan berpikir kritis menjadi benteng utama bagi generasi muda.
“Benteng paling kuat menghadapi disinformasi adalah kemampuan berpikir kritis,” katanya.
Ia menilai sistem pendidikan sering kali masih menilai keberhasilan siswa dari kemampuan meniru jawaban, bukan dari kemampuan bertanya.
“Semakin tinggi nilai siswa, semakin mirip jawabannya dengan yang diajarkan. Padahal masa depan membutuhkan kemampuan bertanya,” ujarnya.
Menurutnya, berpikir kritis akan melahirkan kreativitas, inovasi, dan pada akhirnya menghasilkan gagasan baru.
“Tidak mungkin ada inovasi tanpa kreativitas, dan tidak mungkin ada kreativitas tanpa berpikir kritis,” kata Anies.
Rumus Kepercayaan dalam Kepemimpinan
Dalam sesi tanya jawab, seorang mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Brawijaya menanyakan tentang hubungan integritas dengan kepercayaan publik terhadap pemimpin.
Menanggapi hal itu, Anies menyampaikan sebuah rumus sederhana tentang bagaimana kepercayaan terbentuk.
“Kepercayaan itu sama dengan kompetensi ditambah integritas ditambah kedekatan, lalu dikurangi kepentingan pribadi,” jelasnya.
Menurutnya, sebesar apa pun kompetensi seseorang, kepercayaan publik bisa runtuh ketika kepentingan pribadi menjadi dominan.
“Begitu kepentingan pribadi terlalu besar, kepercayaan langsung turun,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa kepemimpinan tidak ditentukan oleh jabatan formal, melainkan oleh kepercayaan orang-orang yang bersedia mengikuti.
“You are no leader if you have no follower,” kata Anies.
Mahasiswa dan Tanggung Jawab Moral
Selain integritas, Anies juga menyinggung peran mahasiswa dalam kehidupan demokrasi.
Ia mengingatkan bahwa mahasiswa memiliki posisi unik: berada di masa kini sekaligus menjadi pemilik masa depan.
Karena itu, ia meminta mahasiswa tidak bersikap pasif terhadap berbagai persoalan yang terjadi di masyarakat.
“Jangan diam ketika menyaksikan ada penyimpangan,” katanya.
Ia bahkan menyebut mahasiswa yang ideal bukanlah mahasiswa yang memiliki banyak waktu luang.
“Mahasiswa yang baik adalah mahasiswa yang sibuk,” ujar Anies.
Sibuk bukan sekadar dengan aktivitas organisasi atau akademik, tetapi sibuk mengembangkan kapasitas diri dan terlibat dalam persoalan publik.
Membayangkan Masa Depan
Di akhir tausiyah, Anies memberikan satu latihan sederhana kepada mahasiswa: membayangkan masa depan mereka sendiri.
Ia mengajak mahasiswa menulis CV masa depan, seolah-olah mereka sudah hidup 20 tahun mendatang.
“Tulis CV Anda tahun 2046. Apa karya Anda, apa kontribusi Anda bagi masyarakat,” katanya.
Menurutnya, masa depan tidak boleh dibiarkan berjalan tanpa arah.
“Bukan ‘besok bagaimana’, tapi ‘bagaimana besok disiapkan dari sekarang’,” ujarnya.
Bagi Anies, masa depan Indonesia tidak hanya ditentukan oleh kebijakan pemerintah atau elite politik, tetapi juga oleh nilai-nilai yang dibangun generasi muda hari ini.
“Bekali diri dengan kompetensi, kemampuan berpikir kritis, dan integritas,” katanya.
“Kalau itu dimiliki, Indonesia yang lebih baik bukan sekadar harapan, tetapi sesuatu yang bisa kita wujudkan bersama,” pungkasnya.(Din/Awn)














