Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh
Alquran ibarat surat cinta Allah swt Sang Pencipta Kehidupan yang diperuntukkan bagi para hamba-Nya, khususnya bagi mereka yang telah mendeklarasikan keimanan kepada-Nya. Terdapat dua cara diturunkannya Alquran.
Pertama, Inzal, yaitu diturunkannya Alquran secara utuh (jumlatan wahidatan). Dalam metode ini Alquran diturunkan secara utuh dari Lauhul Mahfudz ke langit dunia. Hal ini terjadi pada malam Lailatul Qadar.
Kedua, Tanzil, yaitu diturunkannya Alquran secara bertahap. Penurunan Alquran secara bertahap berlangsung berangsur-angsur dari langit dunia kepada Rasulullah saw melalui perantara malaikat Jibril selama 23 tahun, membersamai setiap peristiwa yang dialami oleh Rasulullah saw untuk memberikan panduan, arahan, dan peneguhan atas segala apa pun yang dialami. Dari sinilah muncul ilmu asbabun nuzul.
Hikmah dari diturunkannya Alquran secara Tanzil ini adalah bahwa apa pun yang dilakukan oleh Rasulullah saw selalu atas bimbingan Allah swt, tindakan yang diarahkan dan dipandu oleh wahyu. Untuk menegaskan hal itu, Allah swt menyampaikan:
وَمَا يَنطِقُ عَنِ ٱلۡهَوَىٰٓ . إِنۡ هُوَ إِلَّا وَحۡيٞ يُوحَىٰ
“..dan tidaklah yang diucapkannya itu (Al-Qur’an) menurut keinginannya. Tidak lain (Al-Qur’an itu) adalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).”
(QS. An-Najm: 3-4)
Sehingga setiap perbuatan Rasulullah saw sangat layak menjadi contoh teladan untuk diikuti oleh umat manusia. Bahwa jika manusia ingin hidupnya tenteram dan sukses, mencapai performa puncak, maka cukup mengikuti saja apa pun tindakan dan sikap Rasulullah saw. Karena setiap gerak-gerik Nabi Muhammad dibangun atas bimbingan wahyu.
Hal ini juga memberikan sebuah pesan penting bagi umatnya bahwa apabila ingin hidupnya mencapai performa puncak maka selalulah berada dalam bimbingan wahyu. Artinya Alquran tidak cukup hanya dibaca, tetapi sudah harus dipraktikkan dalam setiap tindakan konkret.
Tentu sangat mungkin ada jarak dalam memahami setiap teks Alquran karena konstruk keilmuan dan tingkat pemahaman yang terbatas. Maka solusi shortcut-nya adalah dengan mengikuti para ulama yang memahami dengan baik makna setiap teks tersebut. Terlebih Rasulullah saw menyatakan bahwa para ulama adalah pewaris para nabi.
إن الْعُلُمَاءُ وَرَثَةُ اْلأَنْبِيَاءِ، إِنَّ اْلأَنْبِياَءَ لَمْ يُوَرِّثُوْا دِيْناَرًا وَلاَ دِرْهَماً إِنَّمَا وَرَّثُوْا الْعِلْمَ فَمَنْ أَخَذَ بِهِ فَقَدْ أَخَذَ بِحَظٍّ وَافِرٍ
“Sesungguhnya ulama adalah pewaris para nabi. Sungguh para nabi tidak mewariskan dinar dan dirham. Sungguh mereka hanya mewariskan ilmu maka barang siapa mengambil warisan tersebut ia telah mengambil bagian yang banyak.”
(Tirmidzi, Ahmad, Ad-Darimi, Abu Dawud).
Dengan diturunkannya Alquran secara berangsur-angsur sebenarnya adalah untuk membersamai setiap tindakan Rasulullah saw dan umatnya. Artinya jika kita menghadapi apa pun persoalan, maka kembalilah kepada Alquran dan arahan serta keteladanan Rasulullah saw (hadis) melalui pemahaman para ulama yang sholih dan lurus yang benar-benar memahami arahan Allah dan Rasulullah saw, bukan berdasarkan akal pemahamannya sendiri atas teks sumber wahyu.
Alquran seakan memberikan peta jalan di saat kita merasa buntu dalam menghadapi beragam dinamika kehidupan dunia.
Allah swt telah menjamin bahwa setiap persoalan hidup telah diberikan solusinya di dalam Alquran (Allah) dan As-Sunnah (Nabi) melalui pemahaman pewarisnya (ulama sholih).
Disaat kita dihadapkan pada beban hidup yang begitu berat dan sudah merasa putus asa atas realitas dan segala upaya, maka Allah swt menjawab, “Tenang, semua sudah ditakar”:
لَا یُكَلِّفُ ٱللَّهُ نَفۡسًا إِلَّا وُسۡعَهَاۚ …..
“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya…”
(QS. Al-Baqarah: 286)
Disaat kita merasakan kecemasan akan masa depan yang tidak menentu hingga muncul kekhawatiran dan ketakutan, atau terhadap kondisi ketidakpastian ekonomi bahkan takut miskin, maka Allah menjawab:
وَمَا مِن دَاۤبَّةࣲ فِی ٱلۡأَرۡضِ إِلَّا عَلَى ٱللَّهِ رِزۡقُهَا وَیَعۡلَمُ مُسۡتَقَرَّهَا وَمُسۡتَوۡدَعَهَاۚ كُلࣱّ فِی كِتَـٰبࣲ مُّبِینࣲ
“Dan tidak ada suatu binatang melata pun di bumi melainkan Allah-lah yang memberi rezekinya…”
(QS. Hud: 6)
Disaat kita dihinggapi kesedihan yang mendalam hingga meninggalkan luka hati atas kehilangan orang yang dicintai, kegagalan karier, atau dikhianati oleh sahabat sendiri atau orang lain. Maka Allah menjawab:
وَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ خَیۡرࣱ لَّكُمۡۖ وَعَسَىٰۤ أَن تُحِبُّوا۟ شَیۡـࣰٔا وَهُوَ شَرࣱّ لَّكُمۡۚ وَٱللَّهُ یَعۡلَمُ وَأَنتُمۡ لَا تَعۡلَمُونَ
“…Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal ia amat baik bagimu, dan boleh jadi (pula) kamu menyukai sesuatu, padahal ia amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”
(QS. Al-Baqarah: 216)
Disaat kita mengalami kegelisahan batin (kesehatan mental), hadir perasaan tidak tenang, merasa hampa, atau merasa tidak memiliki tujuan hidup karena beratnya persoalan yang dihadapi. Maka Allah menjawab, “Berdzikirlah”:
ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ وَتَطۡمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكۡرِ ٱللَّهِۗ أَلَا بِذِكۡرِ ٱللَّهِ تَطۡمَئِنُّ ٱلۡقُلُوبُ
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.
(QS. Ar-Ra’d: 28)
Disaat kita menghadapi perilaku buruk dalam dinamika hubungan sosial, didhalimi atau disakiti oleh orang, difitnah, atau ada kebencian dari orang lain yang memancing amarah kita. Maka Allah swt menjawab, “Bersikap ihsan-lah”, naikkan level kualitas diri:
وَلَا تَسۡتَوِی ٱلۡحَسَنَةُ وَلَا ٱلسَّیِّئَةُۚ ٱدۡفَعۡ بِٱلَّتِی هِیَ أَحۡسَنُ فَإِذَا ٱلَّذِی بَیۡنَكَ وَبَیۡنَهُۥ عَدَ ٰوَةࣱ كَأَنَّهُۥ وَلِیٌّ حَمِیمࣱ
“Dan tidaklah sama kebaikan dan kejahatan. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba orang yang antaramu dan antara dia ada permusuhan seolah-olah telah menjadi teman yang sangat setia.”
(QS. Fussilat: 34)
Disaat kita sedang menghadapi kegagalan dan muncul suatu penyesalan atas masa lalu, kemudian kita meratapi kesalahan itu, atau merasa pintu ampunan serta kesempatan sudah tertutup. Maka Allah swt menjawab, “Tetaplah optimis”:
قُلۡ یَـٰعِبَادِیَ ٱلَّذِینَ أَسۡرَفُوا۟ عَلَىٰۤ أَنفُسِهِمۡ لَا تَقۡنَطُوا۟ مِن رَّحۡمَةِ ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یَغۡفِرُ ٱلذُّنُوبَ جَمِیعًاۚ إِنَّهُۥ هُوَ ٱلۡغَفُورُ ٱلرَّحِیمُ
“Katakanlah: ‘Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya…’”
(QS. Az-Zumar: 53)
Disaat kita kebingungan karena dihadapkan pada sebuah pilihan sulit untuk mengambil keputusan yang membuat kita ragu dan bimbang akan hasilnya. Maka Allah menjawab, “Tawakkallah”:
فَإِذَا عَزَمۡتَ فَتَوَكَّلۡ عَلَى ٱللَّهِۚ إِنَّ ٱللَّهَ یُحِبُّ ٱلۡمُتَوَكِّلِینَ
“…Kemudian apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakal kepada-Nya.”
(QS. Ali Imran: 159)
Disaat kita menghadapi konflik dalam rumah tangga, adanya ketidakharmonisan atau perbedaan pandangan suami istri yang sering memicu perdebatan bahkan pertengkaran dalam keluarga (suami istri). Maka Allah menjawab, “Bersabarlah & husnudhon”:
وَعَاشِرُوهُنَّ بِٱلۡمَعۡرُوفِۚ فَإِن كَرِهۡتُمُوهُنَّ فَعَسَىٰۤ أَن تَكۡرَهُوا۟ شَیۡـࣰٔا وَیَجۡعَلَ ٱللَّهُ فِیهِ خَیۡرࣰا كَثِیرࣰا
“…Dan bergaullah dengan mereka secara patut (Ma’ruf). Kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.”
(QS. An-Nisa: 19)
Atau disaat kita bahkan diuji oleh suatu ujian yang paling “menguras” emosi dan batin yaitu ujian yang datang dari dalam rumah sendiri, keluarga dan anak-anak. Allah swt menyebutnya dengan istilah “Aaduwwun” atau musuh dalam selimut. Maka Allah swt menjawab, “Maafkan & tetap berlaku santun”:
یَـٰۤأَیُّهَا ٱلَّذِینَ ءَامَنُوۤا۟ إِنَّ مِنۡ أَزۡوَ ٰجِكُمۡ وَأَوۡلَـٰدِكُمۡ عَدُوࣰّا لَّكُمۡ فَٱحۡذَرُوهُمۡۚ وَإِن تَعۡفُوا۟ وَتَصۡفَحُوا۟ وَتَغۡفِرُوا۟ فَإِنَّ ٱللَّهَ غَفُورࣱ رَّحِیمٌ
“Wahai orang-orang yang beriman! Sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu, maka berhati-hatilah kamu terhadap mereka; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampunkan (mereka), maka sungguh, Allah Maha Pengampun, Maha Penyayang.”
(QS. At-Taghabun: 14)
Bahkan disaat kita ingin teguh menyuarakan kebenaran, ingin berbuat baik atau memegang teguh integritas, namun malah justru dikucilkan, dianggap aneh, atau dimusuhi oleh lingkungannya (termasuk keluarga sendiri). Maka Allah memberikan jawaban, “Tetaplah teguh”:
وَٱصۡبِرۡ عَلَىٰ مَا یَقُولُونَ وَٱهۡجُرۡهُمۡ هَجۡرࣰا جَمِیلࣰا
“Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka ucapkan dan jauhilah mereka dengan cara yang baik (hajran jamiila).”
(QS. Al-Muzzammil: 10)
Terlebih lagi disaat kita ingin berteriak atas ketidakadilan sistemik (eksploitasi) sehingga menjadikan perasaan kita terasa sesak saat melihatnya, disaat orang kecil seringkali tidak berdaya menghadapi tekanan penguasa atau suatu sistem. Maka Allah menjawab, “Aku Tidak Tidur” (Allah Mboten Sare):
وَلَا تَحۡسَبَنَّ ٱللَّهَ غَـٰفِلًا عَمَّا یَعۡمَلُ ٱلظَّـٰلِمُونَۚ إِنَّمَا یُؤَخِّرُهُمۡ لِیَوۡمࣲ تَشۡخَصُ فِیهِ ٱلۡأَبۡصَـٰرُ
“Dan janganlah sekali-kali kamu (Muhammad) mengira bahwa Allah lalai dari apa yang diperbuat oleh orang-orang yang zalim. Sesungguhnya Allah memberi penangguhan kepada mereka sampai hari yang pada waktu itu mata (mereka) terbelalak.”
(QS. Ibrahim: 42)
Bahkan jika kita sedang menderita sakit (fisik & non fisik), Allah menjawabnya, “Alquran ini adalah obat”:
وَنُنَزِّلُ مِنَ ٱلۡقُرۡءَانِ مَا هُوَ شِفَآءٞ وَرَحۡمَةٞ لِّلۡمُؤۡمِنِينَ وَلَا يَزِيدُ ٱلظَّٰلِمِينَ إِلَّا خَسَارٗا
Dan Kami turunkan dari Al-Qur’an (sesuatu) yang menjadi obat penawar dan rahmat bagi orang yang beriman, sedangkan bagi orang yang zalim (Al-Qur’an itu) hanya akan menambah kerugian.
(QS. Al-Isra’: 82)
Tidakkah semua jawaban Allah swt atas segala kompleksitas dinamika persoalan kehidupan manusia itu adalah bentuk kasih sayang Allah swt kepada kita, hamba-Nya? Masihkah kita mencari “jalan lain” dari jawaban Allah swt yang begitu terang benderang itu?
Alquran adalah “Surat Cinta Sang Khalik” yang diturunkan kepada umat manusia melalui kekasih-Nya, Nabi Muhammad, khusus untuk menyentuh setiap inci luka dan keresahan dalam batin kita.
Setiap ayatnya adalah bisikan lembut Allah yang seakan ingin berkata:
“Aku tahu apa yang kamu rasakan, dan inilah jalan keluarnya.”
Al-Qur’an tidak pernah membiarkan kita berjalan sendirian; ia adalah Companion (Sahabat) yang terus membersamai, beradaptasi dengan setiap dinamika zaman, dan menjawab setiap helaan napas kita dengan harapan yang baru.
Karena itu jadikanlah Alquran kompas hidup kita, karena selama Al-Qur’an masih ada di dada, tidak ada persoalan yang terlalu besar dan tidak ada kesedihan yang abadi. Sebab melalui firman-Nya, Allah selalu punya cara untuk memeluk hamba-Nya.
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Penulis adalah Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang














