Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh*
Puasa yang dilalui oleh orang beriman selama sebulan dalam setiap tahunnya, apabila dilakukan dengan penuh keimanan dan kesungguhan (imanan wahtisaban), tentunya akan melahirkan perilaku terbaik. Karena sesuatu yang dilakukan berulang-ulang akan melahirkan keteguhan hati yang pada akhirnya dapat mencerahkan pikiran dan jiwa (enlightenment).
Namun pertanyaannya, apakah puasa yang telah sekian tahun dilalui telah mampu mencerahkan jiwa para pelakunya? Sebuah pancaran cahaya yang menyinari dirinya sekaligus menerangi sekitarnya (effulgence) dengan berbagai ketenangan, kenyamanan sosial, dan kebermanfaatan bagi sesama.
Jika kita mengulang sesuatu tanpa peningkatan level, maka itu artinya kita sedang berjalan di tempat. Sebuah afirmasi bijak mengatakan, āJika kita selalu melakukan apa yang selalu kita lakukan, maka kita hanya akan mendapatkan apa yang selalu kita dapatkan.ā
Lalu bagaimana dengan puasa kita? Apakah selama sekian tahun berpuasa kita masih termasuk orang yang āberjalan di tempatā tanpa peningkatan signifikan dalam kehidupan kita, apalagi bagi lingkungan sekitar? Memang hal tersebut bukan sebuah kerugian, namun kita mungkin termasuk orang yang terjebak dalam mode auto-pilot, yaitu menjalani hidup tanpa kesadaran, hanya mengulang pola yang sama setiap hari tanpa ada level up sebagai hasil dari puasa yang telah dijalani selama bertahun-tahun.
Mari kita evaluasi bagaimana melakukan level up dari puasa kita. Setidaknya ada tiga level dalam menjalani puasa dengan meminjam klasifikasi Imam al-Ghazali, antara lain:
1. Level Perut
Ini adalah puasa pada level basic. Puasa perut yaitu puasa yang hanya sebatas menahan diri dari makan, minum, dan hal-hal yang membatalkan puasa secara fisik dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Ini adalah puasanya orang awam, para pemula, dan mungkin menjadi mayoritas dari orang yang berpuasa.
2. Level Mulut
Ini adalah puasa kelas intermediate, setingkat lebih tinggi dari puasa para pemula. Pada level ini puasa tidak hanya fisik, tetapi pancaindra juga ikut berpuasa. Mata dijaga dari melihat yang buruk, telinga dari ghibah, dan mulut dari kata-kata kasar.
Puasa bagi kalangan khusus ini sudah mulai masuk kelas VIP. Meminjam istilah Imam al-Ghazali, ini adalah puasa khawas. Puasa pada level ini telah menyentuh esensi pengendalian diri (self-control). Seluruh pancaindra diajak berpuasa, menahan mulut dari memproduksi pesan keburukan (rofats, fusuq, jidal). Mereka menyadari bahwa daripada menimbulkan dampak negatif, lebih baik memilih diam dan menahan diri dalam ucapan, tindakan, dan perbuatan.
Puasa bicara ini pernah dilakukan oleh Sayyidah Maryam sebagaimana firman Allah swt.:
{ ŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁ±Ų“Ū”Ų±ŁŲØŁŁ ŁŁŁŁŲ±ŁŁŁ Ų¹ŁŁŪ”ŁŁŲ§Ū ŁŁŲ„ŁŁ ŁŁŲ§ ŲŖŁŲ±ŁŁŁŁŁŁ Ł ŁŁŁ Ł±ŁŪ”ŲØŁŲ“ŁŲ±Ł Ų£ŁŲŁŲÆŁŲ§ ŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ų„ŁŁŁŁŁ ŁŁŲ°ŁŲ±Ū”ŲŖŁ ŁŁŁŲ±ŁŁŲŪ”Ł ŁŁ°ŁŁ ŲµŁŁŪ”Ł ŁŲ§ ŁŁŁŁŁŪ” Ų£ŁŁŁŁŁŁŁ Ł Ł±ŁŪ”ŁŁŁŪ”Ł Ł Ų„ŁŁŲ³ŁŁŁŁŲ§ }
āMaka makan, minum, dan bersenanghatilah engkau. Jika engkau melihat seseorang, maka katakanlah, āSesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan siapa pun pada hari ini.āā (QS. Maryam: 26).
Pada era kebisingan media (The Age of Noise) saat ini, mulut telah memberikan mandat kepada tangan (jempol) untuk mewakili komunikasi di media sosial. Maka melakukan puasa media, khususnya digital detox, dengan menahan diri dari upload konten flexing, war comment, cyber-bullying, dan sebagainya merupakan bentuk puasa pada level ini.
3. Level Puasa Hati
Ini adalah puasa kelas expert, level tertinggi (VVIP), puasa khusus al-khusus. Meminjam istilah al-Ghazali, yaitu khawasil khawas. Pada level ini seseorang tidak lagi sekadar menahan perut atau mulut, tetapi sudah berada pada level tertinggi: menata dan mengelola hati. Pikiran dan perasaan ikut berpuasa.
Level ini berarti menjaga pikiran agar tidak melenceng dari mengingat Tuhan serta membersihkan hati dari penyakit seperti iri, dengki, benci, dendam, dan sombong. Bahkan terhadap orang yang pernah menyakiti, dirinya mampu menahan gejolak keburukan. Hatinya tetap damai tanpa menyimpan sakit hati.
Orang pada level ini telah berdamai dengan dirinya atas berbagai persoalan hidup sekalipun sangat menyakitkan. Seluruh energi pikiran dan perasaannya tertuju hanya kepada Allah swt. Keindahan cinta ilahi menutup pandangannya terhadap dunia sehingga semua yang dialami dipahami sebagai manifestasi keagungan Allah swt.
Ia melihat semua makhluk sebagai wujud kasih sayang Allah. Tidak ada lagi kebencian maupun prasangka negatif terhadap siapa pun. Semua diperlakukan dengan kasih sayang karena cinta ilahi menguasai seluruh jiwanya. Pada level ini, puasa mencapai pencapaian spiritual tertinggi.
Inilah teladan Rasulullah saw. Sekalipun beliau dicaci oleh seorang wanita Yahudi tua nan buta di Madinah setiap hari, Rasulullah tetap menyuapinya dengan penuh kelembutan hingga beliau wafat. Wanita tersebut akhirnya masuk Islam setelah mengetahui bahwa orang yang selama ini dicacinya adalah Nabi Muhammad saw.
Puasa pada level ini menghasilkan hati yang bersih (clean heart, heart of gold), jiwa yang murni, tanpa dendam (zero grudge) dan tanpa prasangka negatif kepada orang lain.
Dikisahkan suatu hari para sahabat duduk bersama Rasulullah, lalu beliau bersabda, āSebentar lagi akan datang kepada kalian seorang laki-laki dari penghuni surga.ā Tidak lama kemudian datang seorang lelaki Anshar yang sederhana. Peristiwa ini terjadi selama tiga hari berturut-turut.
Abdullah bin Amr bin Ash kemudian ingin mengetahui amal lelaki tersebut. Setelah tinggal bersamanya tiga malam, ia tidak menemukan amalan luar biasa. Lelaki itu berkata, āAku tidak pernah menyimpan niat buruk kepada seorang Muslim pun dan tidak pernah iri atas nikmat yang Allah berikan kepada orang lain.ā
Orang pada level puasa tertinggi telah mampu mempuasakan hatinya sehingga jiwanya damai meskipun hidup di dunia yang penuh kebisingan dan gejolak.
Hati yang bersih dalam hubungannya dengan Allah melahirkan pribadi yang ikhlas. Hati yang bersih dalam hubungan sosial menjauhkan dari dengki dan suuzan. Hati yang bersih terhadap diri sendiri melahirkan rasa syukur atas segala keadaan. Inilah qalbun salim, hati yang selamat, yang mendapat perlindungan Allah swt.:
ŁŁŲ§ŁŁ Ų±ŁŲØŁŁ ŲØŁŁ ŁŲ¢ Ų£ŁŲŗŪ”ŁŁŁŪ”ŲŖŁŁŁŁ ŁŁŲ£ŁŲ²ŁŁŁŁŁŁŁŁŁ ŁŁŁŁŁ Ū” ŁŁŁ Ł±ŁŪ”Ų£ŁŲ±Ū”Ų¶Ł ŁŁŁŁŲ£ŁŲŗŪ”ŁŁŁŁŁŁŁŁŁŁ Ū” Ų£ŁŲ¬Ū”Ł ŁŲ¹ŁŁŁŁ .Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ų¹ŁŲØŁŲ§ŲÆŁŁŁ Ł ŁŁŪ”ŁŁŁ Ł Ł±ŁŪ”Ł ŁŲ®Ū”ŁŁŲµŁŁŁŁ
āIblis berkata, āTuhanku, karena Engkau telah memutuskan aku sesat, aku akan menjadikan kejahatan terasa indah bagi mereka di bumi dan menyesatkan mereka semuanya, kecuali hamba-hamba-Mu yang terpilih.āā (QS. Al-Hijr: 39ā40).
Serta hati yang menjadi jalan keselamatan saat berjumpa dengan Allah swt.:
ŁŁŁŪ”Ł Ł ŁŁŲ§ ŁŁŁŁŁŲ¹Ł Ł ŁŲ§ŁŁ ŁŁŁŁŲ§ ŲØŁŁŁŁŁŁ . Ų„ŁŁŁŁŲ§ Ł ŁŁŪ” Ų£ŁŲŖŁŁ Ł±ŁŁŁŁŁŁ ŲØŁŁŁŁŪ”ŲØŁ Ų³ŁŁŁŁŁ Ł
ā(Yaitu) pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih.ā (QS. Asy-Syuāara: 88ā89).
Semoga kita dapat mencapai level tertinggi dari perjalanan puasa kita. Aamiin.
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Penulis adalah Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang














