Kanal24, Malang – Derasnya arus seni kontemporer yang kian berani menabrak batas medium dan disiplin membuat seniman tak lagi cukup hanya bermain pada bentuk-bentuk tradisional. Ruang apresiasi seni menuntut keberanian baru—termasuk upaya mengangkat batik sebagai medium naratif yang mampu berbicara kepada lintas generasi.
Semangat inilah yang menghidupkan Pameran Titi Ragawi di Auditorium Universitas Brawijaya pada Senin (17/11/2025), sebuah perhelatan yang memadukan tradisi, simbol global, dan tafsir personal dari seniman batik Bambang Sarasno.
Pameran ini merupakan rangkaian kegiatan yang digelar oleh Yayasan Seni Budaya Indrokilo bekerja sama dengan Ikatan Alumni UB, berlangsung sejak 14 November dan diisi dengan penampilan seni serta talkshow tematik. Di antara ragam kegiatan itu, karya serial Titi Ragawi menjadi pusat perhatian: 12 karya batik berukuran besar yang masing-masing merepresentasikan zodiak dengan pendekatan visual dan filosofi baru.
Batik sebagai Bahasa Visual Lintas Generasi
Bambang Sarasno menjelaskan bahwa pemilihan zodiak bukan tanpa alasan. Simbol astrologi adalah bahasa universal yang dikenali berbagai budaya dan generasi. Menurutnya, tantangan batik saat ini adalah menjangkau publik yang lebih luas tanpa kehilangan akar tradisinya.
“Titi rasi itu kan rasi bintang. Titi berarti meniti atau menapak. Saya memilih zodiak karena hampir semua orang mengenalnya, dari generasi ke generasi. Ini bentuk pendekatan agar batik bisa hadir di ruang yang lebih global,” ujar Bambang.
Ia menegaskan bahwa publik masih kerap bias dalam memahami batik—banyak yang mengira batik adalah sekadar motif, padahal batik adalah teknik, sebuah proses panjang dengan filosofi mendalam. Zodiak ia pilih bukan untuk mengikuti tren, tetapi karena memiliki kesamaan karakter dengan batik Indonesia: setiap simbol astrologi membawa cerita, harapan, dan makna bagi pemiliknya. Pendekatan itu selaras dengan gagasan batik yang selalu memuat pesan filosofis dalam tiap motifnya.
Dalam karyanya, Bambang menggunakan teknik tradisional, namun mengambil jarak dari konvensi agar tetap relevan dengan pemaknaan seni masa kini. Ia mengolah visual zodiak dengan perpaduan warna, tekstur, dan detail yang lebih ekspresif, namun tetap berpijak pada teknik perintangan batik klasik.

Dari Proses Kreatif hingga Ketahanan Fisik: Menembus Batas Seni Batik
Bambang menyebut, proses kreatif dalam proyek Titi Ragawi bukan hanya soal menggambar dan memberi warna, tetapi soal ketekunan dan kemampuan problem solving. Setiap karya dikerjakan sendiri olehnya, termasuk dokumentasi serta proses penyelesaian teknis yang memakan waktu hampir 10 tahun untuk seluruh seri.
“Karyanya awalnya berukuran 3×4 meter. Tapi saya perkecil karena menyadari keterbatasan fisik saya. Fokusnya bukan hanya hasil akhir, tapi bagaimana mengatasi kesulitan-kesulitan di tengah prosesnya,” ujarnya.
Ia menambahkan, membatik bukan hanya melatih ketelitian, tetapi juga melatih kesabaran, spiritualitas, dan daya tahan mental. Dalam batik, setiap tahap memiliki ritme yang tak bisa dipaksa. Ada proses antre, menunggu, mengulang, lalu memperbaiki—sebuah sikap yang menurutnya sangat relevan dengan pendidikan karakter generasi muda saat ini.
“Melalui batik, kita belajar berpikir anti-mainstream, belajar sistematika, leadership, disiplin, bahkan menghargai proses. Kalau tidak menikmati prosesnya, tidak mungkin saya bertahan menyelesaikan ini,” kata Bambang.
Pameran Titi Ragawi memadukan batik dengan elemen multimedia seperti permainan cahaya, audio galaksi, dan atmosfer ruang yang imersif. Pendekatan ini semakin menegaskan bahwa batik bisa berdialog dengan perkembangan seni modern tanpa kehilangan akar tradisinya.
Di tengah maraknya karya digital dan seni instan, serial Titi Ragawi menjadi pengingat bahwa batik tetap relevan ketika diberi ruang reinterpretasi. Bukan sekadar warisan, tetapi medium eksplorasi kreatif yang mampu merangkul estetika global, generasi muda, dan penafsiran personal.
Pameran ini tidak hanya merayakan karya, tetapi juga merayakan proses: menapak, meniti, dan merayakan perjalanan panjang batik sebagai bahasa visual yang terus tumbuh bersama zaman.(Din/Dht)














