Kanal24, Malang – Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) terus memperkuat transformasi pembelajaran digital melalui optimalisasi Learning Management System (LMS) BRONE dan pemanfaatan Generative AI. Upaya ini dinilai penting untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, memperluas akses pendidikan, serta memastikan kurikulum vokasi semakin relevan dengan kebutuhan industri.
Hal tersebut disampaikan Dekan Fakultas Vokasi UB, Mukhammad Kholid Mawardi, S.Sos., M.A.B., Ph.D, dalam kegiatan Sosialisasi Implementasi LMS BRONE dan Pelatihan Generative AI yang dilaksanakan pada Selasa (27/01/2026), bertempat di Ruang Sidang Lantai 3 Gedung Laboratorium Vokasi dan Industri Kreatif, UB Kampus 2 Dieng, dan digelar oleh Fakultas Vokasi UB.
Baca juga:
Vokasi UB Tawarkan Pendidikan Praktik Berbasis Industri

Penguatan Literasi LMS di Lingkungan Vokasi
Dalam paparannya, Mukhammad Kholid Mawardi menegaskan bahwa penggunaan LMS BRONE perlu terus ditingkatkan dan diaktivasi secara merata di seluruh mata kuliah Fakultas Vokasi. Menurutnya, literasi dosen terhadap LMS menjadi kunci agar media pembelajaran digital ini benar-benar mampu mendukung proses belajar mengajar. LMS bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan yang tidak terhindarkan dalam dunia pendidikan, termasuk pendidikan vokasi yang menuntut pembelajaran lebih fleksibel dan interaktif.
Ia menjelaskan bahwa melalui LMS, dosen dapat menyajikan materi secara lebih terstruktur, sementara mahasiswa memperoleh kesempatan belajar yang lebih luas tanpa dibatasi ruang dan waktu. Dengan sistem ini, pembelajaran dapat berlangsung selama 24 jam dan diakses dari mana pun, sehingga selaras dengan karakter pendidikan vokasi yang adaptif dan responsif terhadap perkembangan zaman.
Peran Generative AI dalam Peningkatan Kualitas Materi

Lebih lanjut, Dekan Vokasi UB menilai Generative AI memiliki peran strategis dalam meningkatkan kualitas materi pembelajaran yang dimuat di LMS. Teknologi ini dapat membantu dosen dalam menyusun materi, topik, hingga referensi kurikulum yang sesuai dengan kebutuhan industri terkini. Dengan demikian, pengembangan kurikulum vokasi menjadi lebih cepat, tepat sasaran, dan berbasis kebutuhan nyata dunia kerja.
Pemanfaatan Generative AI juga diharapkan mampu mendorong dosen untuk berinovasi dalam merancang pembelajaran yang lebih menarik dan relevan. Hasil akhirnya, mahasiswa vokasi akan memperoleh pengetahuan dan keterampilan yang lebih komprehensif, sekaligus memiliki kesiapan profesional saat terjun ke sektor kerja sesuai bidangnya.
Integrasi AI dan Strategi Pengembangan Konten
Sementara itu, Dr. Ir. Wibisono Sukmo Wardhono, S.T., M.T. dari DIPP menjelaskan bahwa saat ini LMS BRONE belum terintegrasi secara teknis langsung dengan sistem Generative AI. Namun, AI dapat dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam pengembangan konten pembelajaran, khususnya materi multimedia. Konten yang dihasilkan melalui bantuan Generative AI inilah yang kemudian diunggah dan diintegrasikan ke dalam LMS BRONE.

Ia menekankan bahwa perkembangan Generative AI berlangsung sangat cepat, sehingga dosen perlu memiliki kemampuan prompting yang semakin spesifik. Instruksi yang jelas dan terarah akan menghasilkan materi pembelajaran yang lebih sesuai dengan tujuan dan kebutuhan pembelajaran. Oleh karena itu, pemahaman terhadap capaian pembelajaran menjadi aspek penting yang harus selalu dicantumkan dalam proses penyusunan prompt.
Etika Akademik dan Efektivitas Pembelajaran
Selain aspek teknis, isu etika juga menjadi perhatian utama dalam pemanfaatan Generative AI. Dr. Wibisono menegaskan pentingnya kejujuran akademik melalui pencantuman disclaimer pada setiap materi atau konten yang dihasilkan dengan bantuan AI. Praktik ini tidak hanya berlaku pada materi pembelajaran, tetapi juga dalam kegiatan penelitian, sejalan dengan standar akademik yang mulai diterapkan secara luas.
Melalui pelatihan dan sosialisasi ini, Fakultas Vokasi UB berharap dosen dapat meningkatkan kemampuannya dalam memanfaatkan LMS BRONE dan Generative AI secara efektif dan bertanggung jawab. Dengan berkurangnya beban teknis dan administratif, dosen diharapkan dapat lebih fokus pada pencapaian tujuan pembelajaran. Pada akhirnya, kegiatan ini menjadi langkah strategis untuk mempercepat ketercapaian pembelajaran yang lebih efisien, efektif, dan berorientasi pada kebutuhan industri. (nid/awn)













