Kanal24
No Result
View All Result
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
  • Login
  • Berita Terkini
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan
No Result
View All Result
Kanal24
No Result
View All Result

Triple Burden of Malnutrition Masih Menghantui Indonesia

Dinia by Dinia
December 24, 2025
in Pendidikan
0
Triple Burden of Malnutrition Masih Menghantui Indonesia

Dr. Nia Novita Wirawan, STP, M.Sc, Ahli Gizi Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya sekaligus Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan (Yordan/Kanal24)

37
VIEWS
Share on FacebookShare on Twitter

Kanal24, Malang – Meski tren perbaikan mulai terlihat, Indonesia hingga akhir 2024 masih bergulat dengan persoalan klasik namun kompleks:triple burden of malnutrition. Hal ini ditegaskan oleh Dr. Nia Novita Wirawan, STP, M.Sc, Ahli Gizi dari Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Brawijaya (FIKES UB) sekaligus Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan, Alumni, dan Kewirausahaan, dalam refleksi akhir tahun mengenai status gizi nasional.

Triple burden of malnutrition merujuk pada tiga masalah utama yang terjadi secara bersamaan. Pertama, undernutrition, yang mencakup stunting, wasting, gizi kurang, hingga gizi buruk. Kedua, overnutrition, berupa kelebihan berat badan dan obesitas yang justru terus meningkat, bahkan sejak usia dini. Ketiga, defisiensi zat gizi mikro, seperti anemia yang prevalensinya masih tinggi pada ibu hamil dan remaja putri.

ā€œData Survei Gizi Indonesia tahun 2024 memang menunjukkan tren penurunan, tetapi kecepatan penurunannya berbeda-beda di setiap masalah. Ini menandakan bahwa pekerjaan rumah kita masih sangat besar,ā€ ujar Dr. Nia.

Baca juga : FIKES UB Kukuhkan 80 Dietisien Baru, Perkuat Layanan Gizi Nasional

Ia menegaskan, persoalan gizi tidak bisa semata dibebankan pada pemerintah. Gizi adalah isu multisektoral, karena penyebabnya multifaktor—tidak hanya soal asupan makanan atau penyakit, tetapi juga ketersediaan pangan, lingkungan, perilaku, hingga sistem sosial dan ekonomi.

Seseorang bisa saja paham pentingnya membatasi gula dan lemak, namun jika pilihan makanan yang tersedia justru didominasi produk tinggi gula dan lemak, maka pengetahuan itu tidak serta-merta berujung pada perilaku sehat.

Makanan Viral dan Tantangan Perilaku Makan Generasi Muda

Perubahan budaya makan menjadi tantangan tersendiri, terutama di tengah derasnya arus media sosial. Fenomena makanan viral dan konten mukbang, menurut Dr. Nia, turut membentuk pola konsumsi generasi muda.

ā€œSekarang pilihan makanan sering kali bukan lagi soal sehat atau tidak sehat, tapi viral atau tidak viral,ā€ jelasnya.

Fear of Missing Out (FOMO) membuat banyak anak muda tetap mengonsumsi minuman manis atau makanan tinggi lemak meski tahu dampak buruknya. Dalam konteks ini, edukasi gizi tidak cukup berhenti pada peningkatan pengetahuan.

ā€œPengetahuan saja tidak cukup. Edukasi harus dirancang untuk mengubah perilaku, dan itu prosesnya panjang,ā€ kata Dr. Nia.

Ia menekankan pentingnya strategi edukasi jangka panjang (long-term investment). Edukasi hari ini belum tentu langsung berdampak besok, namun tetap harus dilakukan secara konsisten.

Salah satu pendekatan yang dinilai relevan adalah memviralkan makanan sehat. Jika makanan viral identik dengan tampilan menarik, maka makanan sehat pun harus dikemas dengan visual, rasa, dan narasi yang menarik tanpa mengorbankan nilai gizinya.

Food Environment: Konsumen Tidak Bisa Sendirian

Perubahan perilaku makan tidak bisa hanya dibebankan pada individu. Lingkungan pangan atau food environment memegang peran krusial.

ā€œTidak adil jika kita menyuruh masyarakat makan buah, tapi buahnya sulit didapat atau harganya lebih mahal dibanding minuman manis kemasan,ā€ tegas Dr. Nia.

Karena itu, edukasi juga harus menyasar penyedia makanan. Mulai dari pedagang, kantin sekolah, hingga industri pangan. Salah satu langkah strategis adalah penerapan label gizi sederhana berbasis warna—hijau untuk sehat, kuning untuk sedang, dan merah untuk tinggi gula, garam, atau lemak.

Dengan sistem ini, masyarakat cukup melihat warna untuk mengambil keputusan. ā€œKalau hari ini sudah ā€˜merah’ sekali, berarti konsumsi berikutnya harus lebih hati-hati,ā€ jelasnya.

Pemerintah sendiri tengah menggagas rambu-rambu pangan semacam ini sebagai bagian dari upaya membangun literasi gizi masyarakat.

MBG, PMT Lokal, dan Esensi Edukasi dalam Intervensi Gizi

Berbagai program pemerintah seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Pemberian Makanan Tambahan (PMT) Lokal dinilai Dr, Nia sudah dirancang cukup komprehensif, terutama dengan pendekatan daur hidup (life cycle)—mulai dari ibu hamil, balita, anak sekolah, hingga lansia.

Namun ia mengingatkan, intervensi gizi bukan sekadar memberi makan hingga kenyang.

ā€œFood supplementation seharusnya menjadi contoh nyata makanan bergizi seimbang. Itu media edukasi,ā€ ujar Dr. Nia.

Baca juga : Peran Ahli Gizi Tak Tergantikan di Program MBG

Menu yang diberikan harus mencerminkan prinsip Isi Piringku, bukan hanya sekadar ada nasi, lauk, dan sayur, tetapi juga proporsi yang tepat. Karbohidrat tidak selalu harus nasi putih—bisa jagung, singkong, kentang, atau pangan lokal lainnya.

Lebih jauh, edukasi harus menyentuh anak, guru, dan orang tua. Guru menjadi frontliner penting dalam menjelaskan makna makanan yang dikonsumsi siswa. Lingkungan sekolah pun harus dikondisikan agar tidak kontradiktif, misalnya dengan kantin yang masih menjual makanan tidak sehat di saat MBG dijalankan.

Ketepatan Sasaran Masih Jadi Catatan Kritis

Soal kebijakan dan anggaran, Dr. Nia mengungkapkan bahwa pemerintah tengah melakukan nutrition spending analysis untuk memetakan efektivitas alokasi dana intervensi gizi, baik yang bersifat spesifik maupun sensitif.

Namun di lapangan, persoalan ketepatan sasaran masih menjadi tantangan. Berdasarkan pengalaman pendampingan PMT lokal di sejumlah kabupaten, ia menyebut sekitar 60 persen sudah tepat sasaran, sementara 40 persen masih belum sepenuhnya sesuai dengan kriteria petunjuk teknis.

ā€œPenerimanya ada, tapi tidak selalu sesuai kriteria yang ditetapkan. Ini masalah pemahaman juknis dan implementasi,ā€ jelasnya Dr. Nia.

Ia mengingatkan, evaluasi program harus dilakukan secara adil dan sistematis. Tidak bisa langsung menilai efektivitas jika proses dan input belum sepenuhnya dijalankan sesuai pedoman.

Penguatan Kolaborasi dan Monitoring Jadi Kunci

Menutup refleksinya, Dr. Nia menekankan bahwa agenda perbaikan gizi ke depan harus bertumpu pada tiga hal utama: kolaborasi multisektor, penguatan monitoring-evaluasi, dan edukasi perubahan perilaku yang berkelanjutan.

ā€œGizi tidak bisa diselesaikan oleh sektor kesehatan saja. Harus ada sinergi dengan pertanian, pendidikan, sanitasi, hingga kebijakan pangan,ā€ tegasnya.

Monitoring dan evaluasi tidak boleh sekadar formalitas, melainkan menjadi umpan balik nyata untuk perbaikan kebijakan. Dengan pendekatan holistik dan konsisten, intervensi gizi diharapkan tidak hanya berdampak jangka pendek, tetapi juga membangun kemandirian gizi masyarakat berbasis potensi lokal.(Din)

Post Views: 239
Tags: edukasi gizi masyarakatfood environment sehatgizi nasional indonesiakebijakan gizi nasionalkesehatan generasi mudaliterasi gizimakanan viral dan giziperubahan perilaku makanrefleksi akhir tahun gizitriple burden gizi
Previous Post

FISIP UB Membaca Setahun Kepemimpinan Prabowo-Gibran

Next Post

Disertasi FH UB Diversi Bersyarat bagi Anak Pelaku Pencurian

Dinia

Dinia

Next Post
Disertasi FH UB Diversi Bersyarat bagi Anak Pelaku Pencurian

Disertasi FH UB Diversi Bersyarat bagi Anak Pelaku Pencurian

Leave a Reply Cancel reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

  • Trending
  • Comments
  • Latest
ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

August 4, 2023
oval layer

5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

August 25, 2024
Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

August 3, 2023
AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

August 4, 2023
Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

Permainan Interaktif Menjadi Media KKN FP UB Pupuk Minat Baca Anak Desa Kromengan

39
Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

Pemkot Malang Tingkatkan Sinergi dan Soliditas Demi Keamanan Wilayah

8
Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

Budayakan Gaya Hidup Sehat, Fapet UB Gelar Latihan Jalan Nordik

7
Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

Manfaat Naik Turun Tangga Setiap Hari Bagi Kesehatan

7
Biaya Kuliah Luar Negeri Semakin Berat Bagi Indonesia

Biaya Kuliah Luar Negeri Semakin Berat Bagi Indonesia

February 17, 2026
Esensialisme di Era Sibuk: Pentingkan yang Penting Saja

Esensialisme di Era Sibuk: Pentingkan yang Penting Saja

February 17, 2026
Tren Busana Imlek 2026 Elegan Modern

Tren Busana Imlek 2026 Elegan Modern

February 17, 2026
Proteksi Dompet Digital Jadi Kunci Keamanan Transaksi

Proteksi Dompet Digital Jadi Kunci Keamanan Transaksi

February 16, 2026

Popular Stories

  • ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    ISLAM DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • 5 Gaya Rambut yang Tepat untuk Pipi Chubby agar Tampil Lebih Menarik

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Yuk Kenali Istilah Dalam Karate

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • AYAT-AYAT KREATIVITAS DAN INOVASI PELAYANAN

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
  • Tren Rambut Pria 2025: Gaya Modern dan Maskulin

    0 shares
    Share 0 Tweet 0
UB Radio 107.5 FM
107.5 FM
Tap to Play
  • Berita
  • Tentang Kanal24
  • Layanan
  • Pedoman Media Siber
Copyright Kanal24.com 2025

Welcome Back!

Login to your account below

Forgotten Password?

Retrieve your password

Please enter your username or email address to reset your password.

Log In
No Result
View All Result
  • Berita Terkiniā€Ž
  • Perspektif
  • Pendidikan
  • Hukum
  • Politik
  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Hiburan

Copyright Kanal24.com 2025