Kanal24, Malang – Menjelang pergantian tahun, banyak orang mulai menyusun resolusi baru untuk menyambut 2026 dengan semangat dan harapan yang lebih segar. Meski demikian, tak sedikit yang akhirnya gagal menjalankan rencana tersebut karena kurangnya perencanaan, konsistensi, atau tujuan yang terlalu ambisius. Studi Oscarsson dkk pada 2020 menunjukkan bahwa hanya sekitar 55% individu berhasil memenuhi resolusinya, sementara 45% lainnya berhenti di tengah jalan. Penelitian tersebut juga menemukan bahwa orang yang berani menghadapi masalah secara langsung memiliki peluang keberhasilan lebih tinggi dibanding mereka yang cenderung menghindar. Agar resolusi tidak hanya menjadi daftar keinginan yang kembali diulang setiap tahun, diperlukan pendekatan yang lebih matang dan terukur. Psikolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Tri Hayuning Tyas, membagikan tujuh langkah praktis agar resolusi awal tahun dapat dirumuskan dengan jelas, direncanakan dengan realistis, dan benar-benar diwujudkan.
1. Memulai dengan Rasa Syukur
Tri Hayuning menekankan pentingnya memulai proses penyusunan resolusi dengan refleksi dan rasa syukur. Menurutnya, rasa syukur membantu seseorang lebih siap mengapresiasi hal baik yang telah dialami sepanjang tahun. Dalam suasana tenang, seseorang dapat merenungkan hal-hal positif yang patut dihargai, termasuk pencapaian sekecil apa pun. “Dengan bersyukur, kita lebih siap melihat hidup secara objektif, baik dari sisi keberhasilan maupun kekurangan,” ujarnya. Refleksi ini penting karena memberi gambaran realistis tentang posisi diri saat ini. Misalnya, setelah melewati tahun yang berat secara fisik maupun mental, tetap berada dalam kondisi sehat adalah pencapaian besar yang layak disyukuri.
2. Batasi Jumlah Resolusi
Terlalu banyak resolusi justru dapat menjadi bumerang. Tri Hayuning menyarankan agar daftar tujuan tidak lebih dari lima hingga delapan poin agar fokus tetap terjaga. Selain itu, setiap tujuan harus dirumuskan secara spesifik dan realistis dengan langkah konkret yang bisa diukur. “Akan lebih baik jika kita menambahkan kerangka waktu atau time-frame agar lebih terarah,” jelasnya.
3. Tetapkan Prioritas
Setiap tujuan memiliki tingkat urgensi yang berbeda. Karena itu, penetapan prioritas menjadi langkah penting agar seseorang tahu mana yang harus dilakukan lebih dahulu. “Tetap tenang dan pikirkan baik-baik apa yang paling penting untuk dicapai,” papar Tri Hayuning. Dengan prioritas yang jelas, energi dan waktu dapat dialokasikan secara optimal.
4. Menuliskan Tujuan
Menuliskan resolusi membuatnya lebih konkret dan mudah dipantau. Tri Hayuning menyarankan agar daftar resolusi ditempatkan di lokasi yang mudah terlihat, seperti dinding kamar atau buku agenda. Jika ada perubahan kondisi, tidak masalah untuk merevisi tujuan tersebut. “Hidup tidak bisa diprediksi dengan tepat. Revisi bukanlah kegagalan, melainkan penyesuaian,” katanya.
5. Mantapkan Dukungan Sosial
Keberadaan dukungan sosial sangat memengaruhi keberhasilan seseorang dalam mencapai tujuan. Dengan membagikan rencana kepada teman atau keluarga, seseorang dapat memperoleh dorongan emosional dan pengingat yang membantu tetap berada di jalur. Lingkungan yang mendukung dapat meningkatkan motivasi sekaligus menjadi tempat meminta saran ketika menghadapi hambatan.
6. Tidak Mudah Menyalahkan Diri
Gagal konsisten dalam mencapai resolusi bukan berarti seseorang tidak mampu. Tri Hayuning mengingatkan bahwa kemunduran adalah hal wajar karena hidup dipenuhi ketidakpastian. “Lihat apa yang keliru, perbaiki, dan lanjutkan lagi,” ujarnya. Ia juga menyarankan agar seseorang memberi penghargaan kepada diri sendiri ketika berhasil mencapai target tertentu sebagai bentuk penguatan positif.
7. Konsultasi dengan Profesional
Jika kebingungan menyusun resolusi atau merasa sulit membuat langkah-langkah konkret, bantuan profesional seperti konselor, psikolog, atau life coach—dapat menjadi pilihan. Diskusi dengan ahli membantu memperjelas arah dan menyusun tujuan yang sesuai kapasitas diri. Kegagalan yang berulang dalam menyusun resolusi tanpa bantuan dapat menciptakan pengalaman negatif dan menurunkan motivasi di masa depan. Dengan strategi yang tepat, resolusi tahun baru dapat menjadi peta jalan yang benar-benar memberi perubahan berarti, bukan sekadar tradisi tahunan. “Menyatakan tak semudah melakukan, maka terus bergerak dan tuntaskan resolusi yang telah ditetapkan,” tutup Tri Hayuning. (ptr)














