Kanal24, Malang – Universitas Brawijaya (UB) berencana menanam puluhan pohon langka di sejumlah kawasan kampus sebagai bagian dari upaya meningkatkan biodiversitas sekaligus mendukung program pengurangan emisi karbon. Program ini menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat komitmen UB sebagai kampus berkelanjutan yang mengedepankan konsep green campus.
Kepala UPT Green Campus UB, Prof. Sri Suhartini, STP, M.Env.Mgt., Ph.D., mengatakan bahwa penanaman pohon langka menjadi bagian dari program kerja UPT Green Campus UB dalam meningkatkan kualitas lingkungan kampus. Hal tersebut ia sampaikan dalam kegiatan UPT Green Campus UB Petakan Titik Penanaman Pohon Langka yang dilaksanakan pada Senin (9/3/2026) di Kampus Universitas Brawijaya Jalan Veteran, Malang.
Baca juga:
FISIP UB–ICRO Iran Bangun Diskursus Baru Kebangkitan Peradaban Islam

“Kami merencanakan penanaman sekitar 46 sampai 56 pohon langka di berbagai kawasan kampus. Ini merupakan salah satu langkah untuk meningkatkan biodiversitas sekaligus mendukung program pengurangan emisi karbon,” ujar Prof. Sri.
Beragam Jenis Pohon Langka
Dalam program tersebut, Universitas Brawijaya akan menanam berbagai jenis pohon langka yang memiliki nilai konservasi tinggi. Beberapa di antaranya adalah pohon baobab, chorisia, ficus, serta sejumlah jenis tanaman langka lainnya.
Pemilihan jenis pohon dilakukan dengan mempertimbangkan nilai ekologis serta kemampuan tanaman untuk beradaptasi dengan kondisi lingkungan kampus. Kehadiran berbagai jenis pohon tersebut diharapkan mampu memperkaya keanekaragaman hayati sekaligus meningkatkan kualitas ruang terbuka hijau di kawasan UB.
Selain memberikan manfaat ekologis, keberadaan pohon-pohon langka ini juga diharapkan dapat menjadi sarana edukasi bagi civitas akademika mengenai pentingnya menjaga kelestarian lingkungan.
Diterapkan di Berbagai Kampus UB
Program penanaman pohon langka tidak hanya difokuskan di satu lokasi kampus saja. Universitas Brawijaya memiliki beberapa kawasan kampus yang tersebar di berbagai daerah, sehingga program penghijauan ini direncanakan akan diterapkan secara bertahap di seluruh kawasan tersebut.
“Kampus Universitas Brawijaya tersebar di lima lokasi, yaitu UB Veteran, UB Dieng, Kediri, Jakarta, dan juga rencana di Kepanjen. Harapannya program penanaman pohon ini bisa menjadi salah satu langkah nyata untuk menjadikan Brawijaya sebagai role model green campus,” jelas Prof. Sri.
Dengan sebaran kampus yang luas, program ini diharapkan dapat menciptakan ekosistem hijau yang terintegrasi sekaligus menunjukkan komitmen UB dalam mendukung pembangunan berkelanjutan.
Tantangan Perawatan Tanaman
Meski demikian, program penanaman pohon langka juga memiliki sejumlah tantangan, terutama dalam hal perawatan tanaman setelah proses penanaman dilakukan. Beberapa pohon yang akan dipindahkan memiliki usia yang relatif lama dan ukuran yang cukup besar sehingga membutuhkan perhatian khusus.
Karena itu, UPT Green Campus UB akan melakukan pemantauan secara intensif selama beberapa bulan setelah proses penanaman. Hal ini dilakukan untuk memastikan tanaman dapat beradaptasi dengan lingkungan baru dan tetap tumbuh dengan baik.
“Tantangan terbesar adalah perawatan. Tanaman yang dipindahkan usianya sudah relatif lama dan ukurannya juga besar. Oleh karena itu kami harus menjaga dan merawatnya secara konsisten selama tiga sampai empat bulan ke depan,” ujarnya.
Melalui program ini, Universitas Brawijaya berharap dapat berkontribusi dalam meningkatkan biodiversitas sekaligus memberikan contoh nyata bahwa penanaman pohon menjadi salah satu langkah penting dalam upaya mengurangi emisi karbon dan menjaga keberlanjutan lingkungan. (nid/yor)














