Kanal24, Malang — Di tengah persaingan komoditas kopi yang semakin ketat dan tuntutan pasar terhadap standar produksi yang lebih berkelanjutan, petani kopi skala kecil menghadapi tantangan yang kompleks. Budidaya yang masih konvensional, pengetahuan pascapanen yang terbatas, pengelolaan limbah yang belum efisien, hingga minimnya kemampuan branding membuat nilai jual produk kopi mereka sering tertinggal. Kondisi ini menjadi urgensi pelaksanaan Program Doktor Mengabdi Universitas Brawijaya (UB) di Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
Program ini menargetkan penguatan kapasitas Kelompok Tani Kopi Lestari melalui pendampingan menyeluruh, dari hulu hingga hilir. Pendekatan terpadu ini diarahkan untuk meningkatkan produktivitas, keberlanjutan, serta daya saing produk kopi desa di pasar.
Tahap awal dimulai dengan pendampingan Good Agricultural Practices (GAP). Tim UB menilai sebagian besar petani Babadan masih mengandalkan cara budidaya tradisional yang berdampak pada rendahnya konsistensi kualitas panen.
“Peningkatan kualitas kopi itu harus dimulai dari pemahaman budidayanya. Petani tidak bisa hanya mengandalkan kebiasaan lama; mereka perlu memahami proses secara ilmiah,” ujar Prof. Sri Rahayu Utami yang memimpin pelatihan budidaya.
Sementara itu, ketua tim, Dr. Panji Deoranto, menegaskan pentingnya GAP sebagai fondasi peningkatan kualitas kopi Babadan. “Pendampingan ini kami lakukan supaya petani bisa naik kelas. Mereka harus terbiasa dengan standar produksi yang diakui pasar, bukan hanya yang dianggap cukup di lapangan,” tegasnya.
Selain budidaya, persoalan limbah kulit kopi menjadi perhatian besar. Selama ini limbah hanya ditumpuk sehingga berpotensi mencemari lingkungan. Tim UB memperkenalkan metode pengomposan tertutup berbasis EM4, yang mampu mengurangi volume limbah hingga 70 persen dan menghasilkan kompos berkualitas tinggi. Selain mengurangi dampak lingkungan, kompos ini dapat digunakan sebagai pupuk organik dan bahkan memiliki peluang menjadi produk tambahan yang bernilai ekonomi.
Pada sektor hilir, tim memberikan pelatihan pascapanen seperti teknik fermentasi, pengeringan terkontrol, penyimpanan hermetic, hingga praktik roasting dan pengemasan. Pendekatan ini melahirkan produk “Kopi Babadan”, termasuk varian bubuk dan drip bag yang kini mulai dipasarkan di berbagai jalur, termasuk kanal digital. Diversifikasi produk meningkatkan nilai jual kopi hingga 20–30 persen dibandingkan biji mentah.
Penguatan kelembagaan turut menjadi fokus. Petani dilatih menyusun pencatatan keuangan, administrasi kelompok, serta rencana usaha. Sebanyak empat kelompok tani kini mampu membuat laporan keuangan bulanan secara mandiri dan memanfaatkannya untuk mengakses pembiayaan mikro.
Tahap akhir berupa pelatihan branding dasar, meliputi identitas merek, desain kemasan, dan strategi promosi media sosial. Proses diskusi kelompok menghasilkan identitas utama “Kopi Babadan” sebagai merek kolektif. Dokumentasi produksi dan penguatan kemasan menjadi langkah awal untuk menyasar pasar yang lebih luas.
Program Doktor Mengabdi UB menunjukkan perubahan nyata pada Kelompok Tani Kopi Lestari, baik dari sisi budidaya, pengelolaan limbah, pengolahan hilir, hingga manajemen usaha. Pendampingan ini diharapkan menjadi fondasi pengembangan industri kecil berbasis kopi, sekaligus mendorong sertifikasi kopi berkelanjutan di Desa Babadan.(Din)














