Kanal24, Malang – Isu keberlanjutan tak lagi sekadar jargon kampus hijau. Isu ini telah menjadi parameter reputasi global, standar tata kelola modern, sekaligus cermin tanggung jawab perguruan tinggi terhadap masa depan lingkungan. Dalam konteks itulah Universitas Brawijaya (UB) mengambil langkah strategis dengan belajar langsung dari praktik terbaik pengelolaan limbah kampus yang telah teruji.
Upaya tersebut diwujudkan melalui kunjungan benchmarking Tim Green Campus Universitas Brawijaya ke Universitas Diponegoro (UNDIP), khususnya ke fasilitas K3L–TPST UNDIP, pada Senin (9/2/2026). Kunjungan ini dilakukan seiring capaian Universitas Diponegoro yang berhasil meraih peringkat ke-2 nasional dalam pemeringkatan UI GreenMetric World University Rankings Tahun 2026, menjadikannya salah satu rujukan utama pengelolaan kampus berkelanjutan di Indonesia.
Bagi UPT Green Campus UB, forum tersebut menjadi ruang strategis untuk mendalami bagaimana pengelolaan limbah dapat terintegrasi dari kebijakan hingga riset, dari operasional hingga inovasi teknologi.

Dalam pemaparannya, tim UNDIP menjelaskan bahwa lokasi TPST saat ini sebelumnya merupakan Tempat Pembuangan Akhir (TPA) yang kemudian dikembangkan menjadi Tempat Pengolahan Sampah Terpadu dengan sistem yang lebih modern. Transformasi tersebut menandai perubahan paradigma: dari sekadar membuang sampah, menjadi mengelola sumber daya.
Kunci utama pengelolaan limbah di UNDIP terletak pada pemilahan sampah sejak dari sumber. Sistem ini mengklasifikasikan sampah ke dalam empat kategori, yaitu organik, anorganik, residu, dan limbah B3. Pemilahan sejak awal menjadi fondasi efektivitas pengolahan di hilir.
Lebih jauh, pengelolaan limbah di TPST UNDIP telah terintegrasi dengan kegiatan riset dan pemanfaatan ekonomi sirkular. Sampah organik, khususnya guguran daun, diolah menjadi kompos. Sementara sampah ranting dan biomassa dimanfaatkan melalui proses pirolisis untuk menghasilkan biochar dan asap cair. Limbah makanan (food waste) dari kantin dimanfaatkan sebagai pakan maggot (Black Soldier Fly/BSF), yang kemudian digunakan sebagai pakan ayam dan lele.
Pada sisi lain, sampah anorganik berupa plastik diolah melalui proses pirolisis menjadi bahan bakar minyak (BBM) yang dimanfaatkan sebagai sumber energi, termasuk untuk mendukung operasional kendaraan di lingkungan TPST. Adapun pengelolaan limbah B3 dilaksanakan secara ketat melalui satgas di tingkat fakultas, bekerja sama dengan vendor berizin, serta didukung sistem pelaporan nasional berbasis aplikasi SIRAJA.
Kepala UPT UB Green Campus, Prof. Sri Suhartini, STP., M.Env.Mgt., Ph.D., menegaskan bahwa pendekatan UNDIP menghadirkan model pengelolaan limbah yang tidak hanya teknis, tetapi juga edukatif.

“TPST di UNDIP tidak hanya berfungsi sebagai fasilitas teknis pengolahan sampah, tetapi telah berkembang menjadi ruang pembelajaran nyata yang mengintegrasikan kebijakan, riset, inovasi, dan partisipasi sivitas akademika. Pendekatan ini menjadi pembelajaran penting bagi Universitas Brawijaya,” jelasnya.
Dari perspektif UB Green Campus, TPST UNDIP dapat dipandang sebagai contoh living laboratory pengelolaan limbah kampus. Artinya, pengelolaan sampah tidak berdiri sebagai unit kebersihan semata, tetapi menjadi laboratorium hidup bagi dosen dan mahasiswa lintas disiplin. Mulai dari teknik, lingkungan, pertanian, hingga sosial-humaniora, seluruh sivitas dapat terlibat dalam praktik nyata berbasis data dan evidence.
Model ini dinilai sangat relevan bagi Universitas Brawijaya. Dengan potensi sumber daya akademik yang besar, UB memiliki peluang mengembangkan TPST tidak hanya sebagai pusat pengolahan limbah, tetapi sebagai simpul integrasi pendidikan, riset terapan, pengabdian masyarakat, serta inovasi kebijakan keberlanjutan kampus.
Benchmarking ini menjadi langkah awal penguatan strategi implementasi Green Campus UB berbasis ekonomi sirkular, data, dan partisipasi aktif sivitas akademika. Transformasi menuju kampus berkelanjutan tidak bisa dilakukan parsial, melainkan membutuhkan ekosistem yang terintegrasi dan berkelanjutan.
Ke depan, kolaborasi antar perguruan tinggi diharapkan terus diperkuat untuk mempercepat transformasi kampus berkelanjutan di Indonesia. Dengan pembelajaran ini, Kampus Biru Universitas Brawijaya diharapkan mampu memperkuat budaya Green Campus yang tidak hanya berbasis program, tetapi juga menjadi bagian dari karakter institusi.
Karena di era sekarang, reputasi kampus tidak lagi hanya diukur dari publikasi dan akreditasi, tetapi juga dari sejauh mana ia mampu menjaga bumi yang menjadi ruang hidup bersama.














