Kanal24, Malang – Di tengah tantangan ketahanan pangan dan minimnya pemanfaatan limbah hasil pertanian, riset berbasis sumber daya lokal menjadi semakin krusial. Universitas Brawijaya menjawab isu tersebut melalui lahirnya doktor berprestasi yang mengkaji potensi bekatul beras—produk samping pengolahan beras—sebagai bahan pangan fungsional bernilai tambah.
Pada Wisuda Periode XI Tahun Akademik 2025–2026 yang digelar Jumat, (17/1/2026), predikat Wisudawan Terbaik Program Doktor diraih oleh Dr. Miftahurrahmi dari Program Studi Ilmu Pangan, Fakultas Teknologi Pertanian (FTP) UB, dengan IPK sempurna 4,00.
Prestasi tersebut diraih berkat disertasi yang mengangkat topik pemanfaatan bekatul beras lokal sebagai bahan pangan fungsional bernilai tambah. Penelitian ini menyoroti potensi besar produk samping pengolahan beras yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal, khususnya bekatul dari beras berwarna seperti beras merah dan hitam.
Dr. Miftahurrahmi menjelaskan bahwa Indonesia merupakan salah satu produsen beras terbesar di dunia, sehingga ketersediaan bekatul sangat melimpah. Namun, pemanfaatannya masih terbatas dan belum berbasis karakterisasi ilmiah yang mendalam. “Bekatul beras merupakan produk samping dari pengolahan beras. Di penelitian ini dilakukan karakterisasi lebih detail, mulai dari protein, karbohidrat, hingga pigmennya,” ujarnya.
Berbeda dengan penelitian sebelumnya, disertasi ini tidak hanya fokus pada bekatul beras putih, tetapi juga mengeksplorasi bekatul dari beras berwarna yang masih jarang diteliti, terutama dari varietas lokal. Menurutnya, aspek kebaruan atau novelty penelitian terletak pada karakterisasi komponen makro dan mikro, termasuk pigmen alami yang terkandung dalam bekatul beras berwarna.
“Karakterisasi ini penting agar bekatul dapat diaplikasikan secara lebih terukur pada produk pangan. Misalnya, untuk biskuit atau roti, perlu diketahui karakteristik bekatul seperti apa yang paling sesuai,” jelasnya.
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar pengembangan berbagai produk pangan fungsional berbasis sumber daya lokal. Dengan pendekatan ilmiah yang lebih spesifik, bekatul tidak hanya dipandang sebagai limbah, tetapi sebagai bahan baku bernilai ekonomi dan kesehatan.
Dalam proses risetnya, Dr. Miftahurrahmi mengakui bahwa tantangan terbesar adalah dinamika penelitian itu sendiri. Tidak semua rencana riset dapat berjalan sesuai harapan. “Kadang ketika ingin melakukan riset A, B, dan C, yang terlaksana hanya A. Tantangannya memang di situ,” ungkapnya. Namun, ia menekankan bahwa kerja keras dan konsistensi menjadi kunci utama untuk menyelesaikan penelitian doktoral.
Ke depan, pengembangan riset tidak akan berhenti pada bekatul beras. Dr. Miftahurrahmi berencana memperluas kajian pada berbagai byproduct dan raw material lain, seperti sorgum, agar pendekatan karakterisasi pangan dapat diaplikasikan lebih luas dan memberikan dampak yang lebih besar bagi pengembangan industri pangan nasional.
Prestasi ini menjadi bukti komitmen Universitas Brawijaya dalam mendorong riset berbasis potensi lokal yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Melalui lulusan doktor yang unggul dan berdaya saing, UB terus berkontribusi dalam penguatan inovasi dan ketahanan pangan Indonesia.(Din)














