Kanal24, Malang – Di tengah arus cepat generasi muda yang mengejar hasil instan, kisah Mohammad Yusuf Hamadani, M.T. menjadi penegas bahwa proses panjang masih menjadi kunci prestasi. Lulusan Program Magister Teknik Elektro Universitas Brawijaya ini mencatatkan Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) sempurna, 4,00, sekaligus dinobatkan sebagai wisudawan terbaik pada Wisuda Periode XV Tahun Akademik 2025/2026.
Di balik capaian akademik tersebut, tersimpan perjalanan yang tidak sederhana. Yusufāsapaan akrabnyaāmenghadapi tekanan waktu yang menjadi tantangan utama selama menempuh pendidikan magister yang dirancang selesai dalam dua tahun.
āTekanan terbesar itu waktu. Selain penelitian, ada banyak hal lain yang harus dijalani,ā tuturnya saat ditemui usai prosesi wisuda (11/4/2026)
Riset Jantung dari Laboratorium ke Solusi Nyata
Yusuf membawa penelitiannya pada kebutuhan nyata masyarakat. Ia mengembangkan riset di bidang pengolahan sinyal jantung untuk mengklasifikasikan potensi gangguan jantung pada manusia.
Riset tersebut tidak berhenti pada konsep. Yusuf berhasil mengembangkan alat yang dapat digunakan sebagai pembacaan awal kondisi jantung. Inovasi ini dirancang sebagai langkah deteksi dini, terutama bagi masyarakat yang belum melakukan pemeriksaan ke fasilitas kesehatan.
āAlat ini bisa membantu pembacaan awal. Jadi kalau ada indikasi, bisa segera ditindaklanjuti,ā jelasnya.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa riset di kampus tidak harus berhenti di jurnal, tetapi dapat menjawab kebutuhan praktis di lapangan. Di tengah meningkatnya kasus penyakit jantung, inovasi seperti ini menjadi relevan dan memiliki nilai sosial tinggi.
Peran Kampus dan Ekosistem Riset
Yusuf menegaskan bahwa pencapaiannya tidak lepas dari dukungan lingkungan akademik. Fasilitas laboratorium, seperti perangkat pengukuran sinyal, serta bimbingan intensif dari dosen menjadi faktor penting dalam proses penelitiannya.
Ia juga menyoroti peran program studi dan departemen dalam mendorong mahasiswa untuk menyelesaikan studi tepat waktu, sekaligus menghasilkan publikasi ilmiah yang berkualitas.
āPembimbing dan dosen sangat kooperatif, membantu mengarahkan penelitian dan penulisan publikasi,ā katanya.
Dukungan ekosistem ini menjadi faktor pembeda, terutama dalam pendidikan magister yang menuntut kombinasi antara ketelitian riset dan kecepatan penyelesaian studi.
Melawan Mental Instan Generasi Muda
Di tengah tren generasi muda yang cenderung mengejar hasil cepat, Yusuf menyampaikan pesan yang tegas. Ia menilai pendidikan lanjutan membuka peluang lebih luas, tidak hanya di dunia kerja tetapi juga di ranah akademik dan penelitian.
āJangan berpikir instan. Belajar itu proses yang tidak pernah berhenti,ā ujarnya.
Menurutnya, gelar magister bukan sekadar tambahan akademik, tetapi juga pintu masuk ke berbagai peluang baru, termasuk menjadi dosen dan peneliti.
Pesan ini menjadi relevan, terutama bagi generasi yang sering dihadapkan pada pilihan antara langsung bekerja atau melanjutkan studi.
Prestasi, Proses, dan Dampak
Capaian IPK 4,00 yang diraih Yusuf menjadi simbol kedisiplinan dan konsistensi. Namun lebih dari itu, nilai utama dari perjalanannya terletak pada bagaimana ilmu yang dipelajari dapat diimplementasikan secara nyata.
Ia juga berharap universitas terus memperkuat fasilitas riset untuk mendukung mahasiswa dalam mengembangkan inovasi yang lebih luas.
āFasilitas penelitian sangat membantu mahasiswa untuk menghasilkan riset yang lebih baik,ā katanya.
Kisah Yusuf menjadi pengingat bahwa prestasi akademik terbaik tidak lahir dari kecepatan, tetapi dari ketekunan, dukungan ekosistem, dan keberanian untuk membawa riset keluar dari ruang kelas menuju manfaat nyata bagi masyarakat.(Din)














