Kanal24, Malang – Konflik yang melibatkan Iran di Timur Tengah mungkin terasa jauh dari Indonesia. Namun dalam sistem energi global, jarak tidak lagi menjadi penghalang dampak. Gejolak di kawasan tersebut terbukti langsung memengaruhi harga energi, kebijakan negara, hingga kondisi ekonomi dalam negeri.
Berikut yang perlu kamu pahami.
Harga Minyak Dunia Naik, Dampaknya Langsung Terasa
Konflik antara Iran, Amerika Serikat, dan Israel sejak akhir Februari 2026 mendorong lonjakan harga minyak global. Harga minyak bahkan sempat menembus di atas US$100 per barel, jauh di atas asumsi APBN Indonesia yang berada di kisaran US$70 per barel.
Lonjakan ini tidak berdiri sendiri. Ketegangan di kawasan Teluk, termasuk risiko gangguan di Selat Hormuzājalur distribusi minyak duniaāmembuat pasar energi global sangat sensitif.
Ketika harga minyak naik, dampaknya langsung mengalir ke negara-negara yang masih bergantung pada impor energi, termasuk Indonesia.
Indonesia Rentan karena Masih Impor Energi
Indonesia saat ini berstatus sebagai net importir minyak, sehingga kebutuhan energi dalam negeri masih bergantung pada pasokan global.
Dalam kondisi seperti ini, kenaikan harga minyak dunia otomatis meningkatkan beban impor. Artinya, Indonesia harus membayar lebih mahal untuk energi yang sama.
Efek lanjutannya: biaya impor naik, tekanan terhadap nilai tukar rupiah meningkat, neraca perdagangan ikut terdampak
Ketidakpastian global akibat konflik juga memicu volatilitas pasar, termasuk nilai tukar yang sempat bergerak di kisaran Rp16.900 per dolar AS.
APBN Ikut Tertekan, Subsidi Energi Membengkak
Dampak paling nyata dari konflik ini terlihat pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Setiap kenaikan harga minyak membawa konsekuensi langsung terhadap belanja negara, terutama untuk subsidi dan kompensasi energi.
Data menunjukkan, kenaikan US$1 per barel dapat menambah defisit APBN sekitar Rp6,8 triliun. Jika harga minyak naik ke kisaran US$90ā100 per barel, potensi tambahan defisit bisa mencapai Rp136 triliun hingga Rp204 triliun
Tekanan ini membuat pemerintah harus mencari ruang penghematan. Indonesia bahkan menargetkan efisiensi anggaran sekitar Rp80 triliun untuk merespons dampak konflik tersebut.

Dampak ke Masyarakat: Harga Bisa Ikut Naik
Kenaikan harga energi tidak berhenti di level negara. Dalam banyak kasus, biaya energi akan memengaruhi: biaya transportasi, distribusi barang, dan harga kebutuhan pokok.
Ekonom Universitas Gadjah Mada menyebut lonjakan harga minyak hingga sekitar US$108 per barel menjadi ancaman nyata bagi inflasi, terutama di negara pengimpor energi.
Artinya, dampak akhirnya bisa dirasakan langsung oleh masyarakat melalui kenaikan harga dan tekanan daya beli.
Pasokan Relatif Aman, Tapi Risiko Tetap Ada
Meski tekanan harga tinggi, Indonesia belum berada dalam kondisi krisis pasokan langsung.
Sebagian besar dampak yang dirasakan saat ini lebih berasal dari sisi harga, bukan kekurangan energi. Namun risiko tetap ada jika konflik meluas dan mengganggu distribusi global secara lebih besar.
Penutupan atau gangguan di jalur strategis seperti Selat Hormuz bisa memperparah situasi, karena jalur ini merupakan salah satu urat nadi distribusi energi dunia.
Perang Iran tidak membuat Indonesia kehabisan energi. Namun, konflik ini membuat energi menjadi lebih mahalādan dari situlah tekanan mulai terasa, dari APBN hingga kehidupan sehari-hari.
Dalam kondisi seperti ini, kebijakan pemerintah menjadi kunci: menjaga stabilitas harga, menahan tekanan fiskal, dan memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga. Karena pada akhirnya, krisis energi global bukan hanya soal geopolitik, tetapi soal bagaimana dampaknya dirasakan di dalam negeri.(din)














