KANAL24, Malang – Wirausaha wanita memiliki peran dan tantangan ganda yaitu sebagai ibu rumah tangga dan pengelola bisnis. Tantangan ini tidak jarang berujung kepada terhambatnya pengembangan usaha yang mereka jalankan. Banyak di antara mereka yang memiliki potensi besar dalam mengembangkan usaha, namun sering terhambat oleh keterbatasan akses pengetahuan, pengelolaan emosi, serta tekanan psikologis yang menyertai perjalanan usaha.
Hal ini menjadi perhatian dosen Fakultas Ekonomi Bisnis UB Dr. Ana Sofia., SE., MM untuk memberikan atensi kepada para pengusaha wanita tersebut.
āTantangan tersebut nyata dan banyak dialami oleh wirausaha wanita yang berdampak pada emosi dan manajemen stress mereka,ā kata Dr. Ana Sofia dalam perbincangan dengan kanal24, Senin (20/10/2025).
Ana Sofia berpendapat bahwa perlu ada pembekalan berkaitan dengan manajemen stress, pengelolaan emosi dengan pendekatan spiritual entepreneurship kepada mereka sehingga dapat bertahan ditengah persaingan dengan nilai kejujuran.
āSpiritual entepreneurship ini menanamkan nilai kejujuran dalam pengelolaan usaha,ā lanjutnya.
Untuk itu melalui program pengabdian masyarakat Dr. Ana Sofia bersama dengan tim dan narasumber Prof. Armanu, Ph.D melaksanakan workshop kepada wirausaha wanita pada tanggal 26 Juli 2025 di Setonogedong Kota Kediri.
Melalui workshop ini, peserta diajak untuk memperkuat spiritual entrepreneurship, yaitu kemampuan berwirausaha yang berpijak pada nilai-nilai spiritual, kejujuran, dan ketangguhan hati. Dengan pendekatan ini, diharapkan para pelaku UMKM tidak hanya mampu bertahan di tengah persaingan, tetapi juga menjalankan usaha dengan penuh makna dan kejujuran.

Selain itu, sesi manajemen stres menjadi bagian penting dari acara, mengingat wirausaha wanita sering menghadapi tekanan emosional, baik dari tuntutan bisnis maupun peran domestik. Peserta diberikan pemahaman praktis mengenai teknik relaksasi, pengelolaan pikiran positif, hingga cara menjaga keseimbangan antara kehidupan pribadi dan usaha.
Acara berlangsung dengan suasana hangat dan interaktif. Para peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi dan praktik sederhana yang dapat langsung diterapkan dalam kehidupan sehari-hari maupun dunia usaha mereka.
Ke depan, kegiatan ini diharapkan menjadi pondasi bagi penguatan UMKM di Kelurahan Setonogedong. Terlebih karena Kelurahan Setonogedong juga mempunyai misi menjadi Desa Wisata Religi di masa depan.
āSetonogedong memiliki potensi menjadi Desa Wisata Religi sehingga nilai spiritual entepreneruship menjadi penting,ā jelas Ana.
Ana Sofia berharap dengan sinergi antara nilai spiritual, ketahanan mental, dan peluang wisata religi, UMKM perempuan di wilayah ini diyakini mampu berkembang lebih kreatif, mandiri, serta berdaya saing tinggi. Lebih jauh lagi, kegiatan ini diharapkan turut mendukung keberhasilan Setonogedong menjadi desa wisata religi yang tidak hanya unggul secara budaya dan spiritual, tetapi juga sejahtera secara ekonomi.(sdk)















Comments 1