Kanal24, Lumajang – Awan panas guguran dan hujan abu yang kembali menyelimuti kawasan Gunung Semeru pada Rabu (19/11/2025) sore memaksa ribuan warga di lereng gunung tertinggi di Jawa itu mengungsi. Di tengah kondisi yang bergerak cepat dan berubah setiap jam, Universitas Brawijaya (UB) menjadi salah satu institusi pertama yang mengirimkan dukungan lapangan melalui Emergency Medical Team (EMT) untuk membantu penanganan emergensi di Kecamatan Pronojiwo, Kabupaten Lumajang.
Tim respon cepat diberangkatkan dari Fakultas Kedokteran UB pada Rabu malam. Mereka mengangkut logistik dasar, mulai dari paket makanan, perlengkapan darurat, obat-obatan ringan, tikar, hingga selimut. Satu unit ambulans, satu motor trail untuk mobilitas di medan sulit, serta satu mobil bak terbuka turut digerakkan sebagai armada utama.
Dipimpin oleh dr. Aurick Yudha Nagara, Sp.EM, tim relawan terdiri dari kombinasi tenaga medis dan mahasiswa terlatih: satu dokter emergensi, dua pengemudi ambulans, lima mahasiswa Emergency Medicine Team Fakultas Kedokteran, empat anggota Emergency Respond Team Fakultas Ilmu Kesehatan, serta tiga personel Korps Sukarela UB. Fokus utama mereka adalah pemeriksaan kesehatan, pertolongan pertama, dan pemenuhan kebutuhan pengungsi yang terdampak langsung.

“Tim berangkat malam tadi pukul 21.00 dari Fakultas Kedokteran lalu mengarah ke Kepanjen untuk pengambilan logistik dan lanjut GondanglegiāDampitāAmpelgadingāPronojiwo,” jelas dr. Aurick. Selain obat-obatan, tim juga membawa kebutuhan anak dan perempuan untuk mengantisipasi kelompok rentan yang mulai memenuhi titik-titik pengungsian.
Situasi di lapangan yang dinamis menuntut pemantauan berbasis data. Untuk itu, UB kembali mengaktifkan portal pemantauan s.ub.ac.id/gisresponsemeru, platform yang sebelumnya digunakan pada erupsi Semeru tahun 2021. Portal ini memuat peta pembaruan radius terdampak pada jarak 5, 10, dan 15 kilometer, sehingga tim dapat menyesuaikan rute dan strategi respon.
āDengan update hingga radius 5, 10, dan 15 km dari Semeru, sehingga memudahkan tim untuk bekerja di lapangan,ā ujar Dr. Adipandang Yudono, S.Si., M.U.R.P., Ph.D, inisiator web pemetaan tersebut.
Keberangkatan EMT UB menegaskan kembali posisi kampus sebagai institusi yang tak hanya fokus pada akademik, tetapi juga aktif dalam respon kebencanaan. Dengan perpaduan tenaga profesional, mahasiswa terlatih, dan dukungan teknologi pemetaan, UB memastikan kehadiran yang bekerja cepat, akurat, dan terkoordinasi untuk membantu warga Pronojiwo di masa krisis.(Din)














