Kanal24, Malang – Disleksia masih kerap disalahartikan sebagai tanda kurangnya kecerdasan. Tidak sedikit anak yang mengalami kesulitan membaca, menulis, atau mengeja langsung dicap malas, lamban, atau tidak mampu mengikuti pelajaran. Padahal, disleksia merupakan gangguan belajar spesifik yang sama sekali tidak berkaitan dengan tingkat intelegensi seseorang.
Disleksia adalah kondisi neurologis yang memengaruhi cara otak memproses bahasa, khususnya simbol huruf dan bunyi. Anak atau individu dengan disleksia umumnya memiliki kecerdasan normal, bahkan di atas rata-rata, namun mengalami hambatan dalam keterampilan literasi dasar. Perbedaan cara kerja otak inilah yang membuat proses membaca dan menulis menjadi lebih menantang dibandingkan orang lain.
Gejala disleksia biasanya mulai terlihat sejak usia sekolah. Anak dapat mengalami kesulitan mengenali huruf, sering tertukar membaca huruf yang mirip, membaca dengan sangat lambat, atau kesulitan memahami isi bacaan. Dalam beberapa kasus, kesulitan ini juga berdampak pada kemampuan menulis dan mengeja, meskipun anak telah berulang kali diajari. Kondisi tersebut sering menimbulkan kesalahpahaman di lingkungan sekolah maupun keluarga.
Kesalahan persepsi terhadap disleksia dapat membawa dampak psikologis yang serius. Anak dengan disleksia berisiko mengalami penurunan kepercayaan diri, kecemasan berlebihan, hingga merasa tertinggal dibandingkan teman sebayanya. Tekanan akademik tanpa pemahaman yang tepat juga dapat membuat anak kehilangan minat belajar dan menarik diri dari lingkungan sosial.
Para ahli menegaskan bahwa disleksia bukan penyakit dan tidak dapat ādisembuhkanā dengan cara instan. Namun, kondisi ini dapat dikelola dengan pendekatan pendidikan yang tepat. Intervensi sejak dini, metode pembelajaran yang sesuai, serta dukungan dari guru dan orang tua terbukti mampu membantu anak dengan disleksia mengembangkan potensinya secara optimal.
Pendekatan pembelajaran multisensori, misalnya, dinilai efektif karena melibatkan lebih dari satu indera dalam proses belajar. Anak diajak mengenali huruf dan kata melalui visual, suara, serta gerakan, sehingga membantu otak membangun pemahaman yang lebih kuat. Selain itu, penyesuaian sistem evaluasi di sekolah juga menjadi bagian penting agar anak tidak dinilai semata-mata dari kemampuan membaca cepat.
Kesadaran masyarakat terhadap disleksia masih perlu terus ditingkatkan. Lingkungan pendidikan yang inklusif dan bebas stigma menjadi kunci agar anak dengan disleksia tidak lagi merasa tersisih. Dengan pemahaman yang benar, disleksia seharusnya dipandang sebagai perbedaan cara belajar, bukan kekurangan.
Seiring meningkatnya literasi publik mengenai gangguan belajar, diharapkan tidak ada lagi anak yang dicap ākurang cerdasā hanya karena cara belajarnya berbeda. Dukungan yang tepat dapat membuka jalan bagi individu dengan disleksia untuk tumbuh, berprestasi, dan berkontribusi secara maksimal di berbagai bidang kehidupan. (qrn)














