Kanal24, Malang – Praktik child grooming semakin mendapat perhatian serius karena dampaknya yang mendalam terhadap kesehatan mental anak. Child grooming merupakan bentuk manipulasi psikologis yang dilakukan oleh orang dewasa untuk membangun kedekatan emosional dengan anak di bawah umur, sebelum akhirnya mengarah pada eksploitasi atau kekerasan seksual. Pola ini kerap tidak disadari oleh korban maupun lingkungan sekitar karena dilakukan secara halus dan bertahap.
Fenomena ini menjadi ancaman nyata, terutama di era digital, ketika anak-anak semakin mudah berinteraksi dengan orang asing melalui media sosial, gim daring, maupun platform komunikasi lainnya. Ketidaksiapan anak dalam mengenali relasi yang tidak sehat membuat mereka rentan menjadi korban manipulasi emosional.
Baca juga:
Strategi Memilih Mobil Rp100 Jutaan untuk Mahasiswa
Pola Grooming yang Sulit Terlihat
Child grooming tidak terjadi secara instan. Pelaku biasanya memulai dengan memberikan perhatian berlebih, pujian, hadiah, atau menjadi tempat curhat bagi anak. Kedekatan ini dibangun secara perlahan hingga korban merasa percaya, bergantung secara emosional, dan enggan bercerita kepada orang lain.
Dalam banyak kasus, pelaku memanfaatkan posisi sebagai orang yang lebih dewasa, memiliki otoritas, atau dianggap aman oleh lingkungan sekitar. Hal inilah yang membuat praktik grooming sulit terdeteksi dan sering kali baru disadari setelah dampaknya dirasakan secara serius oleh korban.
Dampak Psikologis Jangka Panjang
Dampak child grooming terhadap kesehatan mental anak tergolong berat dan dapat berlangsung dalam jangka panjang. Anak yang menjadi korban sering mengalami gangguan emosional seperti kecemasan berlebih, depresi, rasa takut, hingga trauma mendalam. Tidak sedikit korban yang menyalahkan diri sendiri, merasa malu, dan enggan mengungkapkan pengalaman yang dialami.
Selain itu, korban juga berisiko mengalami gangguan stres pascatrauma yang memengaruhi kualitas hidup, kemampuan belajar, serta hubungan sosial. Luka psikologis ini kerap terbawa hingga dewasa dan memengaruhi cara korban membangun relasi interpersonal di masa depan.
Perubahan Perilaku dan Sosial Anak
Anak korban grooming umumnya menunjukkan perubahan perilaku yang cukup signifikan. Mereka bisa menjadi lebih tertutup, menarik diri dari lingkungan sosial, mudah marah, atau mengalami penurunan prestasi akademik. Sebagian anak juga menunjukkan perilaku berisiko sebagai bentuk pelarian dari tekanan batin yang dialami.
Isolasi sosial dan hilangnya rasa percaya terhadap orang lain menjadi salah satu dampak yang paling sering muncul. Kondisi ini membuat proses pemulihan psikologis menjadi lebih kompleks dan membutuhkan pendampingan yang berkelanjutan.
Pentingnya Peran Keluarga dan Lingkungan
Keluarga memegang peran penting dalam mencegah terjadinya child grooming. Kehangatan emosional, komunikasi terbuka, serta keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak menjadi benteng utama perlindungan. Anak yang merasa aman dan didengar cenderung lebih berani bercerita ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman.
Di sisi lain, lingkungan sekolah dan masyarakat juga memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan literasi mengenai kekerasan berbasis relasi dan manipulasi psikologis. Edukasi tentang batasan relasi sehat perlu diberikan sejak dini agar anak mampu mengenali tanda-tanda bahaya dan melindungi dirinya.
Upaya Pencegahan dan Penanganan
Penanganan child grooming tidak hanya berfokus pada penindakan pelaku, tetapi juga pada pemulihan korban. Pendampingan psikologis, dukungan sosial, serta lingkungan yang aman menjadi faktor penting dalam proses pemulihan kesehatan mental anak.
Pencegahan jangka panjang membutuhkan kolaborasi antara keluarga, sekolah, pemerintah, dan masyarakat. Dengan meningkatkan kesadaran kolektif dan memperkuat sistem perlindungan anak, risiko child grooming dapat ditekan dan dampak buruk terhadap kesehatan mental anak dapat diminimalkan. (nid)













