Kanal24, Malang – Peneliti Universitas Brawijaya (UB) mengungkap temuan mengkhawatirkan terkait kandungan mikroplastik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas yang telah menyebar dari hulu hingga pesisir. Ketua tim riset mikroplastik Pusat Studi Pesisir dan Kelautan (PSPK) UB, Prof. Andi Kurniawan, mendesak pemerintah untuk segera memperkuat pola mitigasi guna menekan keberadaan mikroplastik yang berpotensi masuk ke rantai makanan dan mengancam kesehatan masyarakat. Hal tersebut disampaikan Prof. Andi dalam pemaparan hasil riset mikroplastik yang dilaksanakan di lingkungan Universitas Brawijaya, Malang, dalam agenda diseminasi hasil penelitian oleh PSPK UB.
āPemerintah perlu meningkatkan mitigasi mikroplastik, karena partikel ini sudah masuk ke rantai makanan dan berpotensi mengganggu kesehatan masyarakat,ā ujar Prof. Andi.
Baca juga:
Transformasi Pembelajaran Vokasi UB lewat LMS dan Generative AI

Mikroplastik sebagai Ancaman Ekosistem Air Tawar
Prof. Andi menjelaskan, hasil penelitian di Sungai Metro dan DAS Brantas menunjukkan bahwa pencemaran plastik telah berkembang menjadi masalah serius di ekosistem air tawar. Tidak hanya berhenti pada satu lokasi, berbagai penelitian lanjutan juga mengonfirmasi bahwa mikroplastik hampir selalu ditemukan di setiap ekosistem perairan yang menjadi objek kajian tim peneliti UB.
āTidak hanya penelitian hari ini, kami juga telah mengidentifikasi keberadaan mikroplastik hampir di semua ekosistem perairan yang menjadi objek utama penelitian, yang mengindikasikan mikroplastik menjadi emerging pollutant,ā katanya.
Sebaran dari Hulu hingga Pesisir
Riset mikroplastik kemudian diperluas ke berbagai lokasi strategis yang merepresentasikan aliran Sungai Brantas secara menyeluruh. Kajian dimulai dari mata air Brantas sebagai wilayah hulu, dilanjutkan ke sejumlah titik di bagian tengah sungai, hingga mencapai muara Brantas dan kawasan pesisir seperti Pulau Lusi dan Sendang Biru.

Dari hasil pengukuran, ditemukan bahwa jumlah mikroplastik bervariasi tergantung lokasi dan waktu pengambilan sampel. Rata-rata kandungan mikroplastik di perairan sungai berkisar antara 2 hingga 8 partikel per liter, sementara konsentrasinya meningkat signifikan di wilayah pesisir.
āJumlah tertinggi yang kami temukan mencapai 40 partikel per liter di daerah pantai. Temuan ini menunjukkan fakta penting bahwa mikroplastik telah tersebar di seluruh rantai ekosistem perairan, dari sumber mata air hingga laut,ā ungkap Prof. Andi.
Dorongan Regulasi dan Perlindungan Konsumen
Dalam paparannya, Prof. Andi menegaskan bahwa ketiadaan standar baku mutu mikroplastik akan menyulitkan upaya pengendalian pencemaran. Oleh karena itu, langkah awal yang dinilai penting adalah memperkuat perlindungan konsumen, terutama terkait air minum yang dikonsumsi masyarakat.
āYang pasti melakukan perlindungan konsumen, misalnya mengecek standar botol air kemasan atau air yang dikonsumsi masyarakat. Itu perlu recheck, sehingga meminimalkan keberadaan mikroplastik,ā ujarnya.
Selain itu, ia menekankan pentingnya pengawasan berkelanjutan terhadap kelestarian lingkungan, khususnya pada aliran sungai yang berpotensi menjadi jalur masuk bahan pencemar. Regulasi yang disusun diharapkan dapat melengkapi aturan perlindungan air dan lingkungan yang sudah ada, termasuk perlindungan terhadap hewan dan manusia.
Peran Riset UB dalam Mitigasi Mikroplastik
Prof. Andi juga mendorong pemerintah, termasuk Kementerian Kesehatan, untuk menstimulus pendekatan penelitian yang mengaitkan mikroplastik dengan aspek kesehatan, meskipun Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) belum menetapkan baku mutu resmi. Langkah ini dinilai penting sebagai bentuk peringatan dini, mengingat mikroplastik telah ditemukan sejak sumber mata air hingga wilayah pantai.

Sejak 2021, PSPK UB terus memperkuat posisinya sebagai pusat riset mikroplastik di Indonesia. Melalui kepemimpinan Prof. Andi Kurniawan, riset ini secara konsisten melibatkan mahasiswa sebagai peneliti muda dan menghasilkan berbagai tesis serta publikasi ilmiah yang menopang riset berkelanjutan.
Dalam pengembangannya, riset mikroplastik di PSPK UB diintegrasikan dengan keahlian Prof. Andi di bidang ekologi mikroba, khususnya biofilm. Biofilm diketahui memiliki peran sebagai biosorben alami yang mampu mengikat mikroplastik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai teknologi eko-akuatik untuk mitigasi pencemaran sungai dan pesisir.
Dengan temuan dan komitmen riset tersebut, PSPK UB menegaskan perannya dalam agenda global keamanan air. Harapannya, Indonesia dapat menjadi rujukan internasional dalam upaya mitigasi pencemaran mikroplastik di masa depan.













