Kanal24, Malang – Upaya menjaga integritas dan konsistensi tata kelola membuahkan hasil. Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya (FTP UB) yang kini berubah nama menjadi Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem (FTAB UB) berhasil menjaga predikat Wilayah Birokrasi Bersih dan Melayani (WBBM) selama lima tahun berturut-turut sejak 2019.
Predikat dari Kementerian PAN-RB itu menempatkan FTAB UB sebagai satu-satunya wakil dari Kemendikti Saintek yang mampu mempertahankan standar tertinggi reformasi birokrasi di lingkungan perguruan tinggi.
Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menyebut capaian ini lahir dari perubahan kultur kerja yang tidak mudah. Fokusnya jelas: birokrasi bersih, pelayanan cepat, dan sistem yang berjalan konsisten.
“Ini menunjukkan kerja teman-teman memang serius. Kita ingin menciptakan birokrasi yang bersih dan bisa melayani dengan baik,” tegasnya dalam konferensi pers, Jumat (13/2/2026).

Menurutnya, reformasi birokrasi di kampus menuntut perubahan budaya melayani. Aparatur tidak lagi bekerja sekadar administratif, tetapi berbasis kinerja dan kepuasan publik. UB mencatat Indeks Kepuasan Masyarakat (IKM) mendekati angka maksimal, yakni hampir 4 dari skala 4.
“Skor kita hampir empat. Tapi PR tetap ada. Tidak ada institusi yang sempurna,” ujarnya.
Ia juga menekankan peran kampus dalam membentuk karakter mahasiswa. Lulusan UB diharapkan membawa integritas saat terjun ke masyarakat.
“Anak-anak kita ketika lulus tidak hanya membawa ilmu, tetapi juga membawa integritas,” katanya.
Dekan FTAB UB, Prof. Yusuf Hendrawan, S.TP., M.App.Life.Sc., Ph.D., menegaskan mempertahankan WBBM jauh lebih berat dibanding meraihnya. Setiap indikator kinerja wajib meningkat.
“Indikator kinerja kami tidak boleh turun. Dari 189 persen naik menjadi 207 persen. Artinya kita harus terus semangat bekerja,” jelasnya.
Ia menekankan integritas sebagai profesionalitas. Dosen dan tenaga kependidikan harus menjaga standar tridarma: pengajaran, penelitian, dan pengabdian. Semua berjalan dalam sistem yang terdokumentasi dan terukur.
FTAB UB juga mendorong inovasi berdampak luas. Inovasi tidak berhenti pada satu unit, tetapi harus bisa direplikasi agar manfaatnya menyebar di tingkat universitas.
“Inovasi yang kita hasilkan harus bisa diduplikasi oleh unit lain. Kalau tidak, dampaknya terbatas,” ujarnya.
Status WBBM memastikan seluruh proses berjalan by system. Tata kelola berbasis sistem dinilai memperkecil ruang penyimpangan sekaligus meningkatkan kepercayaan publik.
Ke depan, Universitas Brawijaya menargetkan seluruh unit kerja mengikuti standar yang sama. Reformasi birokrasi diposisikan sebagai fondasi tata kelola kampus, bukan agenda temporer.
Lima tahun menjaga WBBM menjadi indikator bahwa perubahan kultur, penguatan sistem, dan disiplin kinerja berjalan konsisten. Integritas tidak berhenti di dokumen penilaian. Ia harus hidup dalam praktik sehari-hari.














