Kanal24, Malang – Mengisi Ramadan tidak hanya dengan ibadah ritual, tetapi juga penguatan intelektual dan spiritual menjadi semangat yang dihadirkan Masjid Ibnu Khaldun Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (FISIP UB). Melalui program Lentera Ramadhan Inspiratif (LARIS), kajian keislaman rutin digelar setiap hari ba’da salat dhuhur sepanjang bulan Ramadan.
Program ini dirancang sebagai ruang berbagi ilmu sekaligus refleksi spiritual bagi mahasiswa dan sivitas akademika, menghadirkan pembicara dari kalangan akademisi, profesor, hingga tokoh pesantren di lingkungan Universitas Brawijaya.
Ketua Takmir Masjid Ibnu Khaldun FISIP UB, Prof. Rachmat Kriyantono, S.Sos., M.Si., Ph.D., menjelaskan bahwa kegiatan ini bertujuan menghadirkan Ramadan sebagai momentum peningkatan kualitas keimanan melalui ilmu pengetahuan.
Menurutnya, Ramadan perlu diisi dengan aktivitas yang memberi manfaat nyata, tidak hanya secara spiritual tetapi juga intelektual, sehingga mampu menggugah kesadaran beribadah secara lebih mendalam.
“Ramadan diharapkan benar-benar diisi dengan kegiatan ibadah yang positif melalui berbagi ilmu yang meningkatkan keimanan dan kecintaan dalam beribadah,” ujarnya (19/2/2026).
Kajian LARIS berlangsung singkat namun intensif, memungkinkan jamaah mengikuti refleksi keagamaan di tengah aktivitas akademik kampus. Format ini menjadi strategi agar nilai-nilai spiritual tetap hadir dalam ritme kehidupan mahasiswa yang dinamis.
Menariknya, para narasumber yang terlibat menunjukkan wajah khas FISIP UB sebagai ruang pertemuan antara akademisi dan ulama. Sejumlah dosen tidak hanya dikenal sebagai ilmuwan sosial, tetapi juga pengasuh pondok pesantren dan tokoh keagamaan.
Hal ini memperlihatkan bahwa lingkungan akademik tidak terpisah dari tradisi keilmuan Islam yang menempatkan agama sebagai sumber nilai dan etika dalam pengembangan ilmu pengetahuan.
Prof. Rachmat menegaskan, ke depan program seperti LARIS diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan Ramadan semata, tetapi menjadi inspirasi dalam sistem pembelajaran kampus yang mengintegrasikan ilmu dan nilai spiritual.
Menurutnya, pemisahan antara ilmu dunia dan agama tidak lagi relevan dalam pendidikan modern. Keduanya perlu hadir sebagai satu kesatuan dalam proses belajar mengajar.
Melalui LARIS, masjid kampus kembali menunjukkan perannya bukan hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga pusat pembentukan karakter, dialog intelektual, serta penguatan nilai kemanusiaan berbasis spiritualitas di lingkungan perguruan tinggi.(Din/Awn)














