Kanal24, Malang – Ramadan adalah momentum untuk “naik kelas” dari iman menuju takwa. Pesan itu menjadi benang merah materi yang disampaikan Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., dalam kegiatan LARIS (Lentera Ramadhan Inspiratif) yang digelar FISIP UB, Senin, 23 Februari 2026, di Masjid Ibnu Khaldun FISIP UB Lantai 3 Gedung C FISIP UB.
Dalam tausiyahnya, Prof. Widodo menekankan bahwa Ramadan bukan sekadar rutinitas ibadah tahunan, melainkan sarana pembinaan diri yang dirancang oleh Allah SWT untuk meningkatkan kualitas keimanan seorang hamba. Ia menjelaskan bahwa iman sejatinya berada di dalam hati dan tidak dapat dilihat oleh manusia lain. Namun, ketika iman itu meningkat menjadi takwa, dampaknya akan nyata dalam kehidupan sosial.
“Ibadah Ramadan ini adalah sarana dari Allah untuk mengajak kita naik kelas, dari iman yang ada di dalam hati menjadi pribadi yang bertakwa,” ujarnya.
Baca juga:
FTAB UB Pertahankan WBBM, Integritas dan Sistem Jadi Fondasi

Dari Iman Menuju Takwa
Prof. Widodo menguraikan bahwa iman bersifat personal dan tidak kasatmata. Tidak ada manusia yang benar-benar mengetahui kadar iman orang lain. Akan tetapi, takwa memiliki indikator yang bisa dirasakan oleh lingkungan sekitar.
Menurutnya, takwa terwujud dalam kesalehan sosial. Artinya, seseorang tidak hanya tekun beribadah secara ritual, tetapi juga mampu menghadirkan kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat. Ia menegaskan bahwa orang bertakwa adalah mereka yang mampu menyeimbangkan hubungan vertikal dengan Tuhan dan hubungan horizontal dengan sesama manusia.
Ketika iman telah bertransformasi menjadi takwa, lanjutnya, maka lahirlah kontribusi nyata dalam membangun budaya dan peradaban. Individu yang bertakwa akan membawa perubahan positif, menciptakan lingkungan yang lebih adil, berempati, dan berorientasi pada kemaslahatan bersama.
“Orang-orang yang bertakwa inilah yang akan mentransformasi budaya dan membentuk peradaban yang lebih baik,” tegasnya.
Integritas sebagai Inti Ramadan
Dalam konteks kekinian, Prof. Widodo menyoroti pentingnya integritas sebagai nilai utama yang harus dipelajari selama Ramadan. Ia mengajak mahasiswa untuk menjadikan puasa dan ibadah lainnya sebagai latihan kejujuran dan konsistensi.
Menurutnya, integritas tercermin ketika seseorang tetap berpegang pada nilai kebenaran, meskipun tidak ada yang mengawasi. Puasa, misalnya, mengajarkan kejujuran karena hanya diri sendiri dan Tuhan yang mengetahui apakah seseorang benar-benar menahan diri atau tidak.
“Ramadan ini mengajak kita belajar menjadi manusia yang memiliki integritas. Karena hanya orang yang berintegritas yang ketika berada di tengah masyarakat akan memberi manfaat,” ungkapnya.
Ia juga mengingatkan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi sesamanya. Oleh sebab itu, integritas bukan sekadar konsep moral, tetapi fondasi untuk menjadi pribadi yang berguna, baik dalam kehidupan akademik maupun sosial.
Mahasiswa sebagai Agen Peradaban
Di hadapan jamaah LARIS, Prof. Widodo memberikan penekanan khusus kepada mahasiswa sebagai generasi penerus bangsa. Ia menyebut bahwa pembentukan karakter dan integritas harus dimulai sejak masa perkuliahan.
Mahasiswa, menurutnya, tidak cukup hanya unggul dalam aspek intelektual. Mereka juga harus memiliki keteguhan moral dan kepekaan sosial. Dari kampuslah proses pembentukan pemimpin masa depan dimulai.
Ia berharap mahasiswa FISIP UB dapat memanfaatkan momentum Ramadan untuk memperkuat kualitas diri, baik secara spiritual maupun sosial. Dengan demikian, lahir generasi muda yang tidak hanya cerdas secara akademik, tetapi juga mampu membawa perubahan positif bagi Indonesia.
“Anak-anak muda inilah yang akan membawa dan memimpin Indonesia ke depan. Dari sinilah dimulai untuk menjadikan Indonesia lebih baik,” pesannya.
Melalui materi yang disampaikan dalam LARIS tersebut, Prof. Widodo menegaskan bahwa Ramadan adalah sekolah integritas. Dari iman yang tersembunyi di dalam hati, mahasiswa diajak melangkah menuju takwa yang berdampak nyata, hingga akhirnya berkontribusi dalam membangun peradaban yang lebih bermartabat. (nid)














