Kanal24, Malang – Setiap hari manusia menghabiskan waktu berjam-jam menatap layar. Video pendek, animasi, visual digital, augmented reality, hingga proyeksi cahaya kini menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Namun di balik banjir visual yang terus memenuhi ruang publik dan media sosial, muncul satu pertanyaan besar yang jarang dibahas: apakah dunia sedang membentuk bahasa baru untuk berkomunikasi?
Bahasa itu bukan lagi sekadar teks, suara, atau gambar statis. Ia hadir dalam bentuk pengalaman visual yang menggabungkan teknologi, seni, data, ruang publik, hingga interaksi manusia. Dunia mengenalnya sebagai media art.
Istilah ini mungkin masih terdengar asing bagi banyak orang Indonesia. Padahal, dalam dua dekade terakhir media art berkembang menjadi salah satu sektor kreatif yang paling cepat tumbuh di berbagai kota dunia. Jaringan kota media art dunia yang tergabung dalam UNESCO Creative Cities Network menunjukkan bagaimana teknologi kreatif kini digunakan untuk pendidikan, budaya, hingga pembangunan kota.
Baca juga : Hip Hop dan Media Art Bertemu di Bento Kopi
Media art sendiri memiliki definisi yang jauh lebih luas dibanding sekadar seni digital. Menurut UNESCO City of Media Arts Karlsruhe, Jerman, media art merupakan bentuk seni yang lahir, berkembang, dan didistribusikan melalui teknologi media. Perkembangannya berjalan beriringan dengan komputer, internet, kecerdasan buatan, hingga teknologi imersif yang kini semakin dekat dengan kehidupan manusia.
Karena itu, media art tidak hanya berbicara tentang visual yang indah. Ia berbicara tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menciptakan pengalaman, menyampaikan pesan, membangun keterlibatan publik, bahkan memengaruhi cara manusia memahami suatu isu.
Fenomena tersebut mulai terlihat di berbagai kota dunia. Kota Gwangju di Korea Selatan, misalnya, memanfaatkan media art sebagai bagian dari pengembangan budaya dan ruang publik. Sementara York di Inggris mengembangkan festival dan ruang kreatif berbasis media art untuk memperkuat identitas kota dan keterlibatan masyarakat. Keduanya tergabung dalam jaringan UNESCO Creative Cities of Media Arts yang saat ini menjadi salah satu ekosistem media art terbesar di dunia.
Ketika Kreativitas Menjadi Strategi Masa Depan
Perubahan besar itu membuat banyak negara mulai memandang kreativitas sebagai fondasi pembangunan. Sejak 2004, UNESCO membentuk Creative Cities Network (UCCN) untuk mendorong kota-kota menjadikan kreativitas sebagai strategi pembangunan berkelanjutan. Salah satu bidang yang diakui secara global adalah Media Arts.
Dalam jaringan tersebut, media art tidak diposisikan sebagai hiburan semata. Ia menjadi instrumen untuk memperkuat ekonomi kreatif, inovasi teknologi, pendidikan, hingga pembangunan sosial. Bahkan menurut berbagai studi yang dipublikasikan dalam jurnal internasional tentang immersive media dan public engagement, pengalaman visual berbasis teknologi terbukti mampu meningkatkan interaksi publik terhadap isu sosial dan ruang kota dibanding komunikasi konvensional. Media Arts Cities Network

Kini media art mulai digunakan untuk membahas isu yang jauh lebih besar: perubahan iklim, kesehatan mental, literasi publik, pelestarian budaya, hingga pendidikan generasi muda.
Mengapa Ini Penting untuk Indonesia?
Indonesia sedang memasuki era ketika kreativitas dan teknologi menjadi bagian penting pembangunan ekonomi. Pemerintah bahkan menempatkan ekonomi kreatif sebagai salah satu sektor strategis dalam menghadapi bonus demografi dan transformasi digital.
Namun tantangan terbesar bukan hanya soal teknologi. Tantangannya adalah bagaimana membangun sumber daya manusia yang mampu menggabungkan kreativitas, kemampuan berpikir kritis, komunikasi, dan teknologi dalam satu ekosistem yang utuh. Di sinilah media art menjadi relevan.
Baca juga : Saat Landmark UB disulap Jadi Kanvas Cahaya, Kampanye SDGs Hadir Lewat Media Art
Media art mempertemukan dunia seni, teknologi, pendidikan, komunikasi, dan inovasi dalam satu ruang yang sama. Ia membuka peluang lahirnya profesi baru yang sebelumnya hampir tidak dikenal, mulai dari creative technologist, immersive designer, visual storyteller, hingga urban media artist.
Karena itu, ketika berbagai kota dunia berlomba menjadi pusat media art, yang sebenarnya mereka bangun bukan hanya festival cahaya atau pertunjukan visual. Mereka sedang mempersiapkan generasi baru yang mampu hidup dan bekerja dalam ekonomi masa depan.
Dan mungkin, tanpa banyak disadari, percakapan besar tentang masa depan itu mulai perlahan hadir di Indonesia.
Termasuk di Malang. (Din)













