Kanal24, Malang – Cahaya mulai menari di dinding Gedung Rektorat Universitas Brawijaya pada Rabu (13/5/2026) malam. Namun yang diproyeksikan bukan sekadar visual teknologi. Melalui simulasi immersive visual tersebut, UB mulai memperkenalkan pendekatan baru komunikasi kampus berbasis media art untuk menyampaikan kampanye SDGs, Green Campus, dan partisipasi publik secara lebih interaktif.
Melalui program “Sorot Aspirasi” DIPA MediArts, Universitas Brawijaya mulai menguji konsep platform Mobile Immersive Visual sebagai media komunikasi publik kampus yang lebih interaktif, kreatif, dan dekat dengan generasi muda.

Uji coba dilakukan di sejumlah titik ikonik kampus seperti Gedung Rektorat dan kawasan bundaran UB dengan pendekatan projection mapping pada bangunan dan landmark kampus. Simulasi ini menjadi tahap awal pengembangan ekosistem media art di lingkungan universitas sebelum implementasi platform mobile immersive visual secara lebih luas.
Kepala Subdivisi Kehumasan UB, Tri Wahyu Basuki, A.Md., SE., mengatakan pendekatan media art dipilih agar pesan-pesan kampus lebih mudah diterima mahasiswa dan publik.
“Kami ingin menyampaikan beberapa program prioritas terutama untuk branding, bagaimana mahasiswa itu bisa memahami dan mudah menerima informasi atau campaign yang kita sampaikan dengan pendekatan-pendekatan yang sangat mudah dipahami,” ujarnya.
Menurutnya, media art menjadi medium baru untuk menyampaikan pesan-pesan kampus, khususnya terkait semangat Green Campus dan kesadaran keberlanjutan.
“Salah satunya adalah dengan media art ini. Kami berharap informasi-informasi terutama yang membawa tema Green Campus itu bisa mudah diterima, menginspirasi, serta memunculkan ide dan kontribusi dari mahasiswa,” tambahnya.

Sementara itu, Tim DIPA Media Art, Faishol, menjelaskan konsep immersive visual dipilih karena mampu menjangkau lebih banyak audiens melalui ruang publik kampus yang bersifat terbuka dan komunikatif.
“Kami mencoba merespon ruang yang ada di sini, bagaimana semua gagasan yang ada di dalam fasilitas kampus ini bisa terakomodir,” jelasnya.
Menurut Faishol, projection mapping bukan hanya pertunjukan visual, tetapi dapat menjadi medium campaign berbasis teknologi yang lebih dekat dengan masyarakat kampus.
“Video mapping ini adalah sarana campaign untuk berintegrasi dengan khalayak ramai. Ketika berbicara tentang media art, kami berharap apa yang kami kerjakan juga punya manfaat,” katanya.
Ia menambahkan, penggunaan bangunan kampus sebagai kanvas visual memungkinkan pesan-pesan yang disampaikan dapat menjangkau lebih banyak orang.
“Apapun yang ada di bangunan itu akan sampai kepada lebih banyak orang lain,” ujarnya.
Ke depan, konsep ini diharapkan berkembang menjadi ruang kolaboratif yang dapat dimanfaatkan berbagai elemen kampus untuk menyampaikan gagasan, program, hingga kampanye sosial melalui pendekatan visual kreatif.
Melalui simulasi “Sorot Aspirasi”, UB mulai memperlihatkan arah transformasi komunikasi kampus yang tidak lagi hanya mengandalkan media konvensional, tetapi juga pengalaman visual yang imersif, partisipatif, dan relevan dengan perkembangan creative technology global.(Din)














