Kanal24, Malang – Segelas susu berkualitas berawal dari sapi yang sehat. Namun, di balik produksi susu segar di peternakan rakyat, masih tersimpan persoalan mastitis subklinis yang kerap luput dari perhatian. Berangkat dari tantangan tersebut, sebuah riset doktoral di Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan (FAST) Universitas Brawijaya menghadirkan pendekatan baru melalui teknologi Pulsed Electric Field (PEF) untuk meningkatkan kualitas susu sekaligus mendukung keamanan pangan.
Penelitian yang dipresentasikan dalam ujian disertasi pada Selasa (21/7/2026) itu mengkaji prevalensi mastitis subklinis, disbiosis mikrobiota, serta penerapan teknologi PEF pada susu sapi perah Friesian Holstein di peternakan rakyat. Riset tersebut menawarkan pendekatan baru untuk menekan kasus mastitis subklinis sekaligus meningkatkan kualitas dan keamanan susu sapi perah di tingkat peternakan rakyat.
Baca Juga:
Generasi Muda Enggan Bertani, UB Dorong Ketahanan Pangan Desa Ngebruk
Berangkat dari Persoalan Mastitis di Peternakan Rakyat
Disertasi tersebut berfokus pada identifikasi penyebab mastitis subklinis sekaligus menguji penerapan teknologi PEF sebagai alternatif untuk menghambat pertumbuhan bakteri pada susu segar tanpa mengurangi kualitasnya. Pendekatan ini diharapkan mampu menjawab persoalan yang selama ini dihadapi peternak rakyat dalam menghasilkan susu yang memenuhi standar industri.
Kandidat doktor Rifa’i menjelaskan penelitian tersebut dilatarbelakangi oleh tingginya prevalensi mastitis subklinis yang masih ditemukan di peternakan rakyat. Kondisi itu dinilai berdampak langsung terhadap kualitas susu sekaligus keamanan pangan.

“Yang melatarbelakangi disertasi ini adalah keadaan di lapangan, di mana prevalensi mastitis subklinis di peternakan rakyat masih sangat tinggi. Ini menjadi perhatian kami agar prevalensi tersebut dapat ditekan sehingga susu menjadi layak dikonsumsi,” ujarnya.
Salah satu kebaruan penelitian ini adalah keberhasilan mengidentifikasi dominasi bakteri patogen Streptococcus dysgalactiae pada kasus mastitis subklinis dengan tingkat keparahan tertentu. Temuan tersebut diharapkan menjadi dasar dalam menyusun strategi pengendalian penyakit yang lebih efektif sehingga kualitas susu sapi perah dapat terus ditingkatkan.
Menurut Rifa’i, tantangan terbesar selama penelitian justru datang dari proses pengambilan data langsung di lapangan yang membutuhkan komunikasi intensif dengan para peternak.
“Posisinya kami berada langsung di lapangan, sehingga harus berkomunikasi dengan para peternak dan menyesuaikan berbagai kondisi yang ada. Tantangan itu justru menjadi pengalaman yang sangat berharga,” katanya.
Usai menyelesaikan studi doktoral, ia menargetkan hasil penelitiannya dapat diterapkan melalui implementasi teknologi PEF di tempat penampungan susu sementara (TPS) pada peternakan rakyat. Kajian lanjutan juga akan dilakukan untuk mengetahui pengaruh teknologi tersebut terhadap masa simpan susu dan aspek keamanan pangan.
PEF Jadi Solusi Tekan Bakteri pada Susu
Promotor Prof. Dr. Ir. Puguh Surjowardojo, M.P. menilai disertasi tersebut memiliki urgensi tinggi karena selaras dengan kebutuhan peningkatan kualitas susu nasional.

Menurutnya, salah satu keunggulan penelitian ini adalah keberhasilan mengidentifikasi mikroorganisme penyebab mastitis menggunakan metode California Mastitis Test (CMT), sehingga penanganan penyakit dapat dilakukan secara lebih tepat.
“Penelitian ini bertujuan menekan Total Plate Count (TPC) bakteri di dalam susu. Selama ini TPC susu di tingkat peternak masih cukup tinggi. Dengan adanya teknologi PEF, pertumbuhan bakteri tersebut dapat dihambat sehingga kualitas susu menjadi lebih baik,” jelasnya.
Ia menambahkan, tingginya jumlah bakteri masih menjadi tantangan utama di tingkat peternak rakyat. Padahal, Industri Pengolahan Susu (IPS) menetapkan standar mutu yang harus dipenuhi agar susu layak diproses. Teknologi PEF dinilai berpotensi membantu peternak menghasilkan susu dengan kualitas yang lebih baik sekaligus lebih aman untuk dikonsumsi.
Kolaborasi Kampus Perkuat Pengembangan SDM Peternakan
Keberhasilan Rifa’i meraih gelar doktor turut mendapat apresiasi dari Dekan Fakultas Pertanian dan Peternakan Universitas Kahuripan Kediri, Rico Anggriawan, drh., M.Vet. Menurutnya, capaian tersebut menjadi kebanggaan bagi institusinya sekaligus menunjukkan kualitas pembinaan akademik yang diberikan FAST UB.
“Menurut saya, Bapak Rifa’i merupakan dosen yang rajin dan tekun. Alhamdulillah beliau dapat lulus tepat waktu dalam delapan semester. Kami mengucapkan terima kasih kepada Fakultas Sains dan Teknologi Peternakan Universitas Brawijaya atas bimbingannya,” tuturnya.
Ia berharap keberhasilan tersebut menjadi awal terjalinnya kerja sama yang lebih luas antara Universitas Kahuripan Kediri dan Universitas Brawijaya, khususnya FAST UB, baik melalui studi lanjut dosen, penelitian bersama, maupun kolaborasi di bidang pendidikan.
Dengan riset yang berangkat dari persoalan nyata di peternakan rakyat, inovasi ini diharapkan menjadi langkah awal menuju produksi susu nasional yang lebih berkualitas, aman dikonsumsi, serta mampu meningkatkan daya saing peternak Indonesia. (gal)













