Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh
Sudah berapa kali dalam seumur hidup kita menjalani aktivitas puasa Ramadhan yang setiap tahunnya selalu menghampiri diri kita? Dan sudah berapa kali pula kita mengulang aktivitas-aktivitas itu seperti berpuasa, shalat tarawih, membaca Al-Qur’an, i’tikaf, dan segala macam amaliah yang menyertai bulan puasa Ramadhan?
Maka pertanyaannya kemudian adalah bagaimana bekas, atsar, dan impact atas aktivitas-aktivitas itu terhadap jiwa, kepribadian, dan perilaku kita selama ini. Adakah atsar itu mampu drive, mengarahkan diri kita untuk berperilaku positif yang dibangun atas nilai-nilai aktivitas puasa selama ini? Atau jangan-jangan puasa yang kita kerjakan selama ini terlewati dan menguap begitu saja tanpa ada impact dan bekas dalam tindakan keseharian, alih-alih pada aspek kejiwaan, psikologis, dan pola pikir? Apakah ada dampak terhadap restrukturisasi kognitif untuk menjadi pribadi yang lebih bermakna, personal flourishing?
Logikanya, apabila seseorang selalu melakukan sesuatu secara berulang, tentu akan ada jejak yang ditinggalkannya. Setiap tindakan yang berulang akan menciptakan neuroplasticity, sebuah jalur saraf baru yang menjadi bukti bahwa kebiasaan adalah residu dari konsistensi. Tindakan yang dilakukan secara berulang (repetitive action) akan mampu memprovokasi otak dan pikiran.
Pikiran kita ibarat hutan belantara. Tindakan pertama adalah tebasan parang yang membuka semak. Jika dilakukan berulang, ia akan menjadi jalan setapak yang permanen. Neuroplasticity adalah bukti ilmiah bahwa otak kita tidak lagi butuh peta; ia hanya mengikuti residual effect dari langkah-langkah yang sudah biasa kita ambil.
Sebuah ungkapan Arab menyatakan:
بالتكرير يحصل التقرير وبالتقرير يحصل التنوير
“Dengan mengulang-ulang akan menghasilkan kebiasaan (karakter), dan dengan kebiasaan akan menghasilkan pencerahan.”
Pengulangan berbagai aktivitas dalam kewajiban puasa di bulan Ramadhan seharusnya mampu menghasilkan kebiasaan positif yang dapat melahirkan karakter pribadi umat yang tercerahkan dan mampu mencerahkan. Zenith of Awareness, suatu pribadi yang mampu berada di titik tertinggi kesadaran yang kemudian memancar kepada orang lain.
Puasa Ramadhan adalah cara paling keren dari Allah swt., Sang Pencipta, terhadap hamba-Nya dan seluruh makhluk-Nya untuk menjalani proses pembiasaan agar menjadi hamba terbaik. Inilah yang saya sebut dengan Habituasi Kosmik. Puasa sebulan dalam setiap tahunnya ibarat mereset kembali semua komponen kemanusiaan, baik fisik, psikologis, hingga hubungan interaksi sosial. Agar setelah menjalankan proses habituasi ini akan terlahir pribadi yang baru, Anima Nova, pribadi yang terlahir kembali — “Jiwa Baru”.
Coba perhatikan ulat yang semula tampak menjijikkan, suka merusak, slug mode (tidak efektif). Kemudian setelah menjalani puasa, dengan cara menjadi kepompong, ia bertransformasi menjadi bentuk yang benar-benar baru: kupu-kupu yang indah, menjadi pollinator, “agen penyerbuk” sebagai catalyst of life yang tanpanya tanaman tidak bisa berbuah. Ia menjadi pemicu kehidupan baru. Begitu pula dengan makhluk hidup lainnya seperti lebah, elang, beruang, tetumbuhan, dan sebagainya.
Puasa Ramadhan yang diwajibkan kepada muslim beriman sejatinya adalah proses habituasi menjadi pribadi baru. Coba perhatikan, di dalam ibadah puasa Ramadhan terdapat beberapa amaliah yang ditekankan untuk dibiasakan agar kelak “menjadi terbiasa”, antara lain:
1. Puasa
Menahan makan dan minum serta menahan hawa nafsu. Hal ini sebenarnya Allah swt. ingin membiasakan diri kita agar mampu melakukan kontrol diri dan latihan bersabar. Habituasi sabar ini akan menjadi modal utama dalam menghadapi berbagai ujian, cobaan, dan tantangan di masa depan. Sabar adalah solusi berbagai problem hidup. Dalam sabar ada penerimaan, ketenangan, dan kedamaian.
Dalam puasa juga dianjurkan menahan makan dan minum. Hal ini mengajarkan pentingnya mengatur pola makan yang sehat. Kesehatan fisik adalah kebutuhan dasar manusia untuk menjalankan berbagai aktivitas produktif lainnya.
2. Shalat tarawih atau qiyamul lail
Hal ini untuk membiasakan diri bangun di sepertiga malam. Seseorang yang terbiasa bangun dini hari di sepertiga malam (02.00–04.00) sangat baik untuk kesehatan fisik dan mental serta mendorong produktivitas.
Secara fisik, habituasi bangun dini hari secara teratur dapat memperkuat sistem imun karena tubuh berada dalam kondisi rileks namun waspada, yang secara ilmiah disebut kondisi homeostasis yang stabil.
Secara psikologis, dini hari adalah waktu ketika dunia sedang “berhenti”, memberikan keunggulan strategis. Pertama, fase Deep Work (Ultra-Focus). Karena minimnya gangguan (distraksi), otak berada pada gelombang alfa ke theta. Ini adalah waktu terbaik untuk cognitive restructuring atau menyelesaikan tugas berat dengan kecepatan yang jauh melampaui larval pace di siang hari.
Kedua, sebagai katalis kreativitas (The Alchemy of Mind). Keheningan dini hari memicu munculnya ide-ide brilian yang sering tersembunyi di bawah hiruk-pikuk kesibukan. Kita menjadi catalyst of insight bagi diri sendiri.
Seseorang yang terbiasa bangun dini hari kemudian dilanjutkan dengan beribadah (qiyamul lail), maka dia sedang mengaktifkan mekanisme mesin alfa-theta sehingga memudahkan menyingkap tabir masa depan. Ini adalah jendela utama menuju sukses, The Portal of Ascension.
3. Doa saat berpuasa
Habituasi doa di bulan Ramadhan sebagaimana diajarkan Rasulullah saw. untuk memperbanyak doa syahadat, istighfar, memohon ridha dengan surga, serta dijauhkan dari api neraka. Meminta segala kebaikan saat berpuasa, terlebih di bulan Ramadhan, adalah saat yang sangat tepat. Karena pada bulan Ramadhan terjadi The Quantum Leap of Prayer, lompatan kuantum doa, di mana doa tidak lagi merayap tetapi langsung sampai ke tujuan.
Renungkan mengapa ayat istijabah doa diletakkan di tengah pembahasan kewajiban puasa (QS. Al-Baqarah: 186).
Proses habituasi doa ini akan menghasilkan pribadi yang penuh ketenangan dan ketawakalan kepada Allah swt. Kepasrahan inilah yang nantinya membuka keajaiban (miracle) berupa Quantum Break, sebuah lompatan besar yang tiba-tiba memutus kebuntuan, seolah-olah kita berpindah dari satu dimensi masalah ke dimensi solusi secara instan.
4. Sedekah
Bulan Ramadhan memberikan ruang habituasi sedekah. Hal ini mengajarkan pentingnya pembiasaan kepedulian terhadap sesama. Alih-alih hanya membersihkan harta, sedekah mampu mendekatkan jurang kesenjangan, menjadi solusi sosial yang efektif, membangun keharmonisan, dan menguatkan kesalehan sosial.
5. Membaca Al-Qur’an (tadarus)
Habituasi membaca melalui pesan wahyu sebagai media komunikasi langsung dengan Allah Sang Pencipta. Ini adalah proses mencerdaskan dan mencerahkan kognisi manusia (cognitive enrichment). Membaca Al-Qur’an ibarat memasang ulang kabel (literary rewiring) di otak melalui bacaan sehingga cara berpikir berubah menjadi lebih tajam bahkan jauh dari pikun.
Semua proses habituasi ini dimaksudkan oleh Sang Pencipta agar manusia beriman mampu terlahir sebagai jiwa yang baru.
Puasa yang dilakukan secara rutin di bulan Ramadhan adalah proses metamorfosis mental yang melampaui sekadar menahan lapar. Melalui psychological detoxification, puasa mengikis residu ego dan kebiasaan buruk (larval pace) yang selama ini menghambat gerak kita sebagai pribadi produktif. Sehingga mendorong diri seakan terlahir kembali sebagai pribadi baru — pribadi tangguh yang siap menjadi catalyst of life yang menguasai masa depan dengan inner mastery, ibarat nakhoda yang membuat kapal tetap stabil dan melaju tepat sasaran.
Selamat ber-Habituasi Kosmik Ramadhan.
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang














