Kanal24, Malang – Perekonomian Indonesia pada kuartal I 2026 diproyeksikan tumbuh lebih tinggi dibandingkan periode sebelumnya, didorong percepatan belanja pemerintah, efek basis rendah, serta penguatan aktivitas ekonomi domestik. Chief Economist Bank Mandiri, Andry Asmoro, menyebut momentum awal tahun menjadi fase penting dalam menentukan arah pertumbuhan ekonomi nasional sepanjang 2026. Pernyataan tersebut disampaikan dalam agenda silaturahmi media di Jakarta, Selasa (25/2/2026).
Menurut Andry, salah satu faktor utama yang mendorong peningkatan pertumbuhan adalah percepatan realisasi belanja pemerintah sejak awal tahun. Belanja negara yang lebih cepat mengalir ke berbagai sektor dinilai mampu meningkatkan aktivitas ekonomi, baik melalui proyek pembangunan, belanja operasional, maupun program perlindungan sosial.
Baca juga:
Psikologi Boros: Mengapa Kita Sulit Menahan Belanja
“Percepatan belanja pemerintah pada awal tahun akan memberikan dorongan signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi kuartal pertama. Hal ini karena belanja negara memiliki efek berganda yang kuat terhadap aktivitas ekonomi,” ujarnya.
Ia menjelaskan, realisasi belanja pemerintah pada kuartal I 2026 diperkirakan mencapai sekitar Rp800 triliun. Jumlah tersebut dinilai cukup besar untuk memberikan stimulus terhadap konsumsi dan aktivitas ekonomi masyarakat, terutama di sektor riil.
Efek Basis Rendah Perkuat Pertumbuhan
Selain percepatan belanja negara, faktor lain yang turut mendukung pertumbuhan adalah efek basis rendah dari periode sebelumnya. Kondisi ini terjadi ketika capaian ekonomi pada periode pembanding relatif lebih rendah, sehingga pertumbuhan pada periode berikutnya terlihat lebih tinggi secara statistik.
Efek ini dinilai akan memberikan kontribusi positif terhadap angka pertumbuhan ekonomi pada awal tahun. Dengan basis yang lebih rendah pada periode sebelumnya, peningkatan aktivitas ekonomi saat ini akan tercermin sebagai pertumbuhan yang lebih kuat.
Momentum ini juga diperkuat oleh stabilitas makroekonomi nasional, termasuk inflasi yang relatif terkendali dan nilai tukar yang stabil. Stabilitas tersebut menciptakan ruang bagi pelaku usaha untuk meningkatkan produksi dan investasi.
Selain itu, kebijakan fiskal pemerintah yang lebih ekspansif pada awal tahun menjadi salah satu strategi untuk menjaga momentum pertumbuhan. Pemerintah memanfaatkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sebagai instrumen utama untuk mendorong aktivitas ekonomi dan menjaga stabilitas.
Konsumsi Rumah Tangga Tetap Jadi Penopang
Konsumsi rumah tangga masih menjadi kontributor terbesar terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dengan jumlah penduduk yang besar dan daya beli yang relatif stabil, konsumsi domestik menjadi fondasi utama dalam menjaga stabilitas pertumbuhan.
Perbaikan aktivitas ekonomi dan peningkatan mobilitas masyarakat turut memperkuat konsumsi, terutama pada sektor perdagangan, transportasi, serta jasa. Selain itu, berbagai program pemerintah, termasuk bantuan sosial dan belanja publik, turut menjaga daya beli masyarakat.
Di sisi lain, investasi juga menunjukkan tren positif seiring dengan berlanjutnya berbagai proyek strategis nasional dan peningkatan kepercayaan investor terhadap prospek ekonomi Indonesia. Investasi yang meningkat akan memperkuat kapasitas produksi dan membuka lapangan kerja baru.
Kombinasi antara konsumsi dan investasi ini menjadi faktor penting dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi, terutama pada awal tahun yang biasanya menjadi fase konsolidasi ekonomi.
Kebijakan Ekonomi Dukung Momentum Pertumbuhan
Kebijakan fiskal dan moneter yang mendukung pertumbuhan juga menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Pemerintah terus mendorong percepatan belanja negara, sementara kebijakan moneter yang akomodatif diharapkan mampu meningkatkan pertumbuhan kredit dan investasi.
Koordinasi antara pemerintah dan otoritas moneter menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan stabilitas ekonomi. Dengan kebijakan yang tepat, pertumbuhan ekonomi dapat terjaga tanpa menimbulkan tekanan inflasi yang berlebihan.
Kinerja ekonomi Indonesia sebelumnya juga menunjukkan tren yang positif, dengan pertumbuhan tahunan yang stabil di kisaran 5 persen. Capaian tersebut menjadi fondasi yang kuat untuk mencapai pertumbuhan yang lebih tinggi pada 2026.
Para ekonom menilai, jika momentum pertumbuhan pada kuartal I dapat dipertahankan, maka kinerja ekonomi sepanjang tahun berpotensi mencapai hasil yang lebih baik. Hal ini akan memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan pertumbuhan ekonomi stabil di tengah ketidakpastian global.
Secara keseluruhan, percepatan belanja pemerintah, efek basis rendah, serta penguatan konsumsi dan investasi menjadi tiga faktor utama yang mendorong optimisme terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal I 2026. Momentum ini diharapkan menjadi titik awal bagi kinerja ekonomi yang lebih kuat sepanjang tahun. (nid)














