Kanal24, Malang – Ketua Dewan Profesor Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Bambang Susilo, M.Sc.Agr., menegaskan bahwa sinergi kebijakan pangan, energi, lingkungan, dan kesehatan menjadi kebutuhan mendesak dalam menghadapi tantangan global yang semakin kompleks. Menurutnya, ketahanan pangan dan kemandirian energi merupakan fondasi utama stabilitas negara dan kesejahteraan masyarakat. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Kuliah Bestari #2 MDGB PTNBH bersama Universitas Brawijaya bertema āSinergi Kebijakan Pangan, Energi, Lingkungan, dan Kesehatanā yang digelar pada Kamis (26/2/2026) di Lantai 2 Auditorium Universitas Brawijaya, diselenggarakan oleh Dewan Profesor Universitas Brawijaya.
Kegiatan ini menjadi forum akademik strategis yang menghadirkan pemikiran para profesor untuk membahas isu lintas sektor yang berpengaruh terhadap masa depan bangsa. Dalam forum tersebut, Prof. Bambang menyoroti keterkaitan erat antara pangan, energi, lingkungan, dan kesehatan sebagai satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan dalam pembangunan nasional.
Baca juga:
Kismat, Ruang Kontemplasi dan Identitas Diri

Ketahanan Pangan Tentukan Stabilitas Negara
Prof. Bambang menjelaskan bahwa pangan merupakan faktor paling mendasar dalam menjaga stabilitas suatu negara. Ia mengingatkan bahwa negara yang tidak memiliki kemandirian pangan akan menghadapi risiko sosial dan politik yang serius.
āPangan, energi, lingkungan, dan kesehatan memiliki hubungan yang sangat erat. Jika pangan tidak terkendalikan dan tidak berdaulat, itu sangat berisiko. Orang yang lapar akan berontak karena takut mati. Jadi benar bahwa jika pangan tidak tercukupi, negara bisa mengalami ketidakstabilan,ā ujarnya.
Ia menambahkan bahwa ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan produksi, tetapi juga mencakup kemampuan negara dalam mengendalikan distribusi dan menjamin akses masyarakat terhadap pangan secara berkelanjutan.
Energi Jadi Faktor Penentu Dinamika Global
Selain pangan, energi juga menjadi faktor strategis yang memengaruhi dinamika global. Prof. Bambang menyebut bahwa berbagai konflik internasional pada dasarnya berkaitan dengan perebutan sumber energi.
āEnergi adalah bagian dari persoalan dunia. Banyak konflik yang pada hakikatnya berkaitan dengan energi. Oleh karena itu, energi perlu kita tangani secara serius dan strategis,ā jelasnya.
Ia menekankan bahwa dunia saat ini tengah menghadapi penurunan ketersediaan energi fosil, sehingga mendorong percepatan transisi menuju energi terbarukan. Sumber energi seperti tenaga surya dan bioenergi menjadi alternatif penting yang perlu dikembangkan secara optimal.
Tantangan Pemanfaatan Lahan dan Lingkungan
Dalam konteks Indonesia, Prof. Bambang menyoroti tantangan pemanfaatan lahan yang harus dikelola secara bijak. Indonesia memiliki potensi lahan yang luas, namun pemanfaatannya harus mempertimbangkan keseimbangan antara kebutuhan pangan dan energi.
Menurutnya, pengembangan bioenergi dapat menjadi solusi masa depan, tetapi harus dilakukan tanpa mengorbankan ketahanan pangan dan kelestarian lingkungan. Hal ini juga berkaitan erat dengan kesehatan masyarakat, karena kerusakan lingkungan dapat berdampak langsung pada kualitas hidup manusia.
āPemanfaatan lahan ke depan harus dicermati bersama, apakah untuk pangan atau energi. Semua itu berkaitan dengan lingkungan dan kesehatan, sehingga memerlukan kebijakan yang terintegrasi,ā katanya.
Peran Perguruan Tinggi dalam Menjawab Tantangan Global
Melalui forum Kuliah Bestari ini, Universitas Brawijaya menegaskan peran strategis perguruan tinggi dalam memberikan kontribusi ilmiah terhadap penyelesaian persoalan nasional dan global. Perguruan tinggi diharapkan tidak hanya menjadi pusat pendidikan, tetapi juga menjadi sumber pemikiran strategis berbasis riset.
Prof. Bambang menegaskan bahwa akademisi memiliki tanggung jawab untuk memberikan solusi ilmiah terhadap tantangan masa depan, khususnya dalam memastikan ketahanan pangan, transisi energi, perlindungan lingkungan, dan peningkatan kesehatan masyarakat.
Forum ini diharapkan dapat memperkuat sinergi antara akademisi dan pemangku kepentingan dalam merumuskan kebijakan yang berkelanjutan dan berbasis ilmu pengetahuan demi mendukung pembangunan nasional. (nid/cay)














