Oleh: Ustadz Akhmad Muwafik Saleh*
Fenomena scrolling layar smartphone menjadi realitas kontemporer dalam komunikasi manusia saat ini. Seseorang dapat menghabiskan waktu berlama-lama tanpa rasa jenuh saat scrolling handphone dengan berbagai macam konten media.
Berdasarkan data, rata-rata orang menghabiskan sekitar 6 jam 40 menit per hari di depan layar (total screen time) untuk kalangan milenial. Sementara Gen Z dapat menghabiskan waktu hingga 9 jam. Bahkan mereka bisa menghabiskan waktu 15–30 menit rata-rata dalam sekali membuka sesi media sosial (single session). Ada pula fenomena yang disebut checking habit, di mana rata-rata orang memeriksa ponsel mereka sebanyak 150 hingga 160 kali sehari. Artinya, sesi membuka konten media selama 15–30 menit ini dapat berulang hingga ratusan kali dalam berbagai topik media sosial. Sebuah penggunaan waktu yang sangat fantastis.
Lalu pertanyaannya, jika mereka seorang muslim, apakah mereka juga mampu bertahan lama ketika membaca buku atau terlebih ketika bersama Al-Qur’an?
Berdasarkan fakta ilmiah mengenai rentang fokus manusia (attention span), kemampuan otak untuk fokus penuh pada tugas kognitif berat seperti membaca kitab suci Al-Qur’an rata-rata berlangsung 20 hingga 90 menit. Namun fokus mulai menurun setelah 20 menit pertama.
Sementara hasil riset menunjukkan bahwa terlalu banyak mengonsumsi konten media dapat menurunkan kemampuan fokus seseorang. Riset Microsoft menyebutkan rata-rata attention span manusia modern turun menjadi 8 detik akibat paparan konten singkat seperti TikTok dan Reels. Hal ini membuat seseorang merasa gelisah ketika membaca teks panjang, termasuk Al-Qur’an, lebih dari 5–10 menit. Akibatnya, seseorang yang membaca Al-Qur’an baru membuka dua lembar ayat saja sudah mulai merasa berat dan mengantuk. Kondisi ini sangat berbeda dibandingkan kemampuan bertahan saat scrolling layar handphone.
Dampak negatif dari kebiasaan scrolling terlalu lama juga memengaruhi kondisi fisik. Mata menjadi tegang, kering, dan penglihatan kabur akibat paparan blue light terus-menerus, yang dikenal sebagai Computer Vision Syndrome. Cahaya biru pada layar juga menghambat produksi hormon melatonin sehingga kualitas tidur menurun drastis. Duduk terlalu lama juga berisiko menyebabkan obesitas, penyakit jantung, dan gangguan metabolisme.
Secara mental, kebiasaan scrolling berlebihan dapat meningkatkan kecemasan (anxiety) dan depresi, serta menurunkan produktivitas dan kemampuan kognitif. Seseorang menjadi mudah berpindah fokus karena terbiasa melakukan context switching antar konten. Informasi yang diterima bersifat dangkal sehingga otak tidak sempat memindahkannya ke memori jangka panjang. Akibatnya, kita sering lupa apa yang baru saja ditonton beberapa menit sebelumnya.
Sebaliknya, membaca Al-Qur’an memberikan dampak positif yang signifikan. Membaca Al-Qur’an memiliki efek unik pada otak yang disebut alpha wave induction. Penelitian menunjukkan bahwa membaca atau mendengarkan Al-Qur’an dengan tartil memicu gelombang alfa pada otak (8–13 Hz) yang menciptakan kondisi relaksasi mendalam. Dalam kondisi ini, seseorang dapat bertahan fokus lebih lama, sekitar 45–60 menit, karena otak merasa nyaman secara meditatif, berbeda dengan scrolling yang memicu kelelahan mental (digital fatigue). Kondisi psikis yang tenang juga dapat meningkatkan imunitas tubuh.
Membaca Al-Qur’an juga dapat meningkatkan daya ingat dan membantu mencegah penurunan fungsi kognitif di masa tua. Saat membaca Al-Qur’an, seseorang merasakan spiritual connection antara dirinya dengan Sang Pencipta melalui resonansi ayat yang dibaca. Hal ini menciptakan ketenangan batin dan menurunkan gejala depresi serta memutus rantai kecemasan terhadap masa depan maupun penyesalan masa lalu.
Jika scrolling handphone menjadi “sampah” bagi otak yang memicu digital dementia, maka membaca Al-Qur’an adalah “superfood” bagi otak yang mengembalikan fungsi kognitif dan ketenangan jiwa. Seseorang yang istiqamah membaca Al-Qur’an di tengah gempuran notifikasi akan meningkatkan cognitive patience, sehingga mampu berpikir jernih dan bertindak bijak di tengah realitas digital yang penuh simpang siur informasi.
Inilah keistimewaan bulan Ramadhan sebagai bulan diturunkannya Al-Qur’an (Syahrul Qur’an). Pada bulan ini kaum muslimin diajak melakukan detoksifikasi mental melalui habituasi membaca Al-Qur’an, baik secara pribadi maupun bersama dalam kegiatan tadarus. Allah swt. berfirman:
يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ قَدْ جَاۤءَتْكُمْ مَّوْعِظَةٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ وَشِفَاۤءٌ لِّمَا فِى الصُّدُوْرِۙ وَهُدًى وَّرَحْمَةٌ لِّلْمُؤْمِنِيْنَ
“Wahai manusia! Sungguh telah datang kepadamu pelajaran dari Tuhanmu, penyembuh bagi penyakit dalam dada, serta petunjuk dan rahmat bagi orang-orang beriman.” (QS. Yunus: 57).
هُوَ الَّذِيْٓ اَنْزَلَ السَّكِيْنَةَ فِيْ قُلُوْبِ الْمُؤْمِنِيْنَ لِيَزْدَادُوْٓا اِيْمَانًا مَّعَ اِيْمَانِهِمْ
“Dialah yang menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin agar keimanan mereka bertambah.” (QS. Al-Fath: 4).
Karena itu, jangan sia-siakan bulan Ramadhan dengan terlalu banyak berselancar di layar handphone atau permainan daring. Ketenangan tidak ditemukan melalui timeline orang lain, tetapi hadir dalam lembar-lembar ayat Al-Qur’an yang menenangkan hati dan menjernihkan pikiran di tengah budaya algoritma dan era post-truth yang penuh hoaks.
Habituasi Al-Qur’an akan membersihkan pikiran dari polusi konten digital melalui lantunan ayat-ayat suci yang kekal dan relevan sepanjang masa. Setiap kali kita men-scroll ayat demi ayatnya, sejatinya kita sedang mengakses kebijaksanaan abadi yang menuntun menjadi pribadi bijaksana dalam menghadapi realitas zaman.
Jika tubuh membutuhkan makanan, maka jiwa membutuhkan asupan dari ayat-ayat suci. Melalui kisah dan pesan Al-Qur’an, otak melakukan restrukturisasi kognitif yang memperkuat ketahanan mental (endurance) dan membangun resiliensi. Otak bawah sadar belajar bahwa jika generasi terdahulu mampu bertahan dalam ujian berat, maka kita pun mampu melaluinya.
Ayat-ayat tentang masa depan juga membantu mengurangi ketidakpastian (reducing uncertainty), salah satu pemicu utama kecemasan manusia. Al-Qur’an memberikan peta jalan kehidupan sehingga jiwa menjadi lebih tenang menghadapi kematian dan masa depan.
Bulan Ramadhan mengajarkan kita untuk lebih banyak mengonsumsi pesan kebaikan melalui prophetic scrolling pada lembar-lembar Al-Qur’an daripada tenggelam dalam dunia maya yang penuh polesan semu. Saatnya mengubah kebiasaan dari “jari yang bergerak ke bawah” menjadi “jiwa yang bergerak ke atas”, dari polusi hoaks menuju ketenangan jiwa dan kedamaian abadi. Inilah pesan makna diturunkannya Al-Qur’an di bulan Ramadhan.
*) Dr. Akhmad Muwafik Saleh, S.Sos., M.Si
Penulis adalah Ketua Pusat Pengembangan Kepribadian Universitas Brawijaya, Pengasuh Asrama Karakter Pesantren Mahasiswa Tanwir al Afkar Malang














