Kanal24, Malang — Perdebatan tentang masa depan peradaban Islam hari ini menghadapi satu pertanyaan mendasar: mengapa dunia Islam yang pernah memimpin ilmu pengetahuan global justru tertinggal dalam banyak bidang modern. Pertanyaan inilah yang menjadi titik tolak diskursus akademik dalam Pra-Konferensi Seri 8 Festival Internasional Peradaban Islam Kontemporer yang digelar di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Brawijaya (3/3/2026).
Mengusung tema “The Pathology of the Revival of Islamic Civilization: From Theory to Practice,” forum ini mengajak para akademisi membaca kembali kondisi internal dunia Islam melalui pendekatan reflektif dan ilmiah. Fokus utamanya adalah mengidentifikasi faktor-faktor yang menghambat kebangkitan peradaban Islam sekaligus merumuskan langkah strategis menuju masa depan yang lebih kuat.
Kegiatan ini merupakan hasil kolaborasi FISIP Universitas Brawijaya, Kedutaan Besar Iran di Indonesia, serta Islamic Culture and Relations Organization (ICRO) Iran, sebuah lembaga yang berperan dalam diplomasi budaya dan dialog peradaban dunia Islam.
Pra-konferensi ini juga menghadirkan akademisi dari Iran, Dr. Amir Rezaeipanah, Head of the Department of Cultural Dialogues ICRO, yang mendorong penguatan kerja sama intelektual antara Indonesia dan Iran dalam pengembangan kajian peradaban Islam.

Iran Corner dan Diplomasi Akademik
Dekan FISIP Universitas Brawijaya, Dr. Ahmad Imron Rozuli, S.E., M.Si., menjelaskan bahwa kerja sama akademik dengan Iran telah dimulai melalui pembentukan Iran Corner di FISIP UB.
“Inisiasi Iran Corner di FISIP telah direstui dan didukung penuh oleh Rektor beserta jajaran. Program ini menjadi ruang untuk memperkuat sirkulasi gagasan, meningkatkan kualitas riset, serta membuka dialog budaya antara Indonesia dan Iran,” ujarnya.
Menurut Imron, penguatan jejaring akademik lintas negara menjadi fondasi penting dalam pengembangan kajian peradaban Islam. Pertukaran gagasan dan kolaborasi riset membuka ruang lahirnya perspektif baru dalam membaca dinamika dunia Islam.
Ia menilai kajian peradaban Islam memiliki cakupan luas yang meliputi ilmu pengetahuan, kebudayaan, hingga hubungan antarbangsa.
“Kita ingin mendorong peradaban Islam tumbuh sebagai wacana besar yang mencakup banyak dimensi. Diskursus ini memberi ruang bagi pengembangan riset, pertukaran akademik, dan kolaborasi internasional,” jelasnya.
FISIP UB juga mendorong agar hasil kajian akademik tersebut dapat memberi kontribusi pada perumusan kebijakan publik.
“Kami menargetkan lahirnya policy brief dari kajian akademik ini. Hasil riset dapat menjadi bahan pertimbangan bagi kebijakan yang lebih bijaksana,” tambah Imron.

Indonesia dan Model Peradaban Moderat
Koordinator Brawijaya Institute for Islamic Civilization and Middle East Studies, Yusli Effendi, S.IP., M.A., melihat tema pra-konferensi ini sebagai upaya penting untuk melakukan refleksi terhadap kondisi dunia Islam.
“Tema ini menunjukkan upaya melihat diri sendiri. Kita mencoba memahami apa yang membuat peradaban Islam tertinggal dan apa yang menghambat kebangkitan peradaban Islam dari teori hingga praktik,” ujarnya.
Menurut Yusli, Indonesia memiliki modalitas penting dalam diskursus kebangkitan peradaban Islam. Tradisi Islam Melayu yang berkembang di Indonesia menghadirkan karakter moderat yang terbuka terhadap dialog dan pertukaran gagasan.
“Indonesia bukan negara Arab, tetapi memiliki tradisi Islam Melayu yang kuat. Karakter Islam di Indonesia cenderung moderat dan terbuka terhadap dialog,” jelasnya.
Posisi geopolitik Indonesia sebagai negara maritim juga mempermudah pertukaran ide, budaya, dan peradaban dengan berbagai kawasan dunia. Dinamika tersebut membentuk tradisi Islam yang adaptif dan inklusif.
Bagi Yusli, karakter moderat dan diplomasi yang tidak konfrontatif memberi peluang bagi Indonesia untuk menghadirkan model peradaban Islam yang lebih dialogis di tingkat global.
Pra-konferensi ini menghadirkan ruang pertemuan antara gagasan akademik dan agenda peradaban. Dalam konteks perubahan geopolitik global dan tantangan internal dunia Islam, ruang dialog di kampus menjadi arena penting untuk merumuskan kembali arah kebangkitan peradaban.(Din/Yor)














