Kanal24, Malang – Isu kesehatan mental, literasi digital, dan pelestarian budaya lokal kini menjadi perhatian generasi muda di berbagai negara. Perkembangan teknologi berbasis kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) dinilai membuka peluang baru dalam menghadirkan solusi sosial yang lebih inklusif dan mudah diakses masyarakat. Di tengah tantangan tersebut, inovasi yang mampu menggabungkan teknologi dengan nilai budaya lokal menjadi salah satu gagasan yang mendapat perhatian dalam forum internasional 5th International Youth Summit yang berlangsung pada 30–31 Mei 2026 di Asto Hotel Kuala Lumpur, Malaysia.
Dalam ajang internasional tersebut, delegasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Brawijaya berhasil meraih Bronze Medal pada Subtema Pendidikan melalui karya inovatif bertajuk “SANGIANG AI: Leveraging Medium For Knowledge Transfer and Local Wisdom Based Mental Health Education”.
Tim delegasi FISIP UB terdiri atas Rachel Laurent dari Program Studi Ilmu Politik angkatan 2023, David Luwis Tarigan dari Program Studi Ilmu Politik angkatan 2023, serta Bintang Corvi Diphda dari Program Studi Hubungan Internasional angkatan 2023.
Baca juga:
Mahasiswa FTAB UB Raih Gold Medal ITEX-WYIE 2026 Lewat Inovasi AI Akuaponik
Inovasi AI untuk Edukasi Kesehatan Mental
Prestasi ini menjadi bukti bahwa mahasiswa Universitas Brawijaya mampu bersaing di tingkat internasional melalui gagasan yang tidak hanya berbasis teknologi, tetapi juga memiliki keberpihakan terhadap isu sosial dan kebutuhan masyarakat. Inovasi yang mereka usung menitikberatkan pada pengembangan platform kesehatan mental berbasis AI yang dipadukan dengan nilai-nilai kearifan lokal masyarakat Dayak.
SANGIANG AI hadir sebagai medium edukasi kesehatan mental yang dirancang lebih reflektif, mudah diakses, dan dekat dengan identitas budaya masyarakat. Gagasan tersebut mengusung pendekatan non-klinis dan preventif dalam mendukung peningkatan literasi kesehatan mental, khususnya bagi generasi muda maupun komunitas yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan formal.
“Kami melihat isu kesehatan mental masih sering dianggap tabu di banyak komunitas. Karena itu, kami mencoba menghadirkan pendekatan yang lebih dekat dengan budaya lokal agar masyarakat merasa lebih nyaman memahami dan membicarakan kesehatan mental,” ujar Rachel Laurent.
Menggabungkan Teknologi dan Kearifan Lokal
Melalui pendekatan berbasis budaya lokal, platform ini diharapkan mampu mengurangi stigma terhadap isu kesehatan mental sekaligus memperkuat dukungan komunitas. Delegasi FISIP UB menilai bahwa pendekatan budaya menjadi elemen penting agar edukasi kesehatan mental dapat diterima lebih luas dan terasa relevan bagi masyarakat.
SANGIANG AI juga dirancang dengan berbagai fitur pendukung yang terintegrasi, mulai dari refleksi berbasis AI, mood tracker, guided journaling, modul literasi budaya, dukungan komunitas, hingga navigasi menuju layanan profesional. Seluruh fitur tersebut dikembangkan untuk membantu pengguna mengenali kondisi emosional, membangun kesadaran diri, serta memperoleh edukasi kesehatan mental melalui pendekatan yang lebih personal, aman, dan kontekstual.
Forum Kolaborasi Pemuda Internasional
Ajang 5th International Youth Summit sendiri menjadi ruang kolaborasi bagi generasi muda dari berbagai negara untuk mempresentasikan ide, inovasi, dan solusi terhadap tantangan global. Forum tersebut mendorong peserta menghadirkan gagasan yang tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga memiliki dampak nyata bagi masyarakat luas.
Keberhasilan delegasi FISIP UB meraih Bronze Medal menunjukkan bahwa integrasi antara teknologi, pendidikan, kesehatan mental, dan budaya dapat melahirkan inovasi yang memiliki nilai akademik sekaligus manfaat sosial.
“Penghargaan ini menjadi motivasi bagi kami untuk terus mengembangkan inovasi yang tidak hanya relevan secara teknologi, tetapi juga memiliki dampak sosial nyata bagi masyarakat,” kata David Luwis Tarigan.
Bukti Mahasiswa UB Mampu Bersaing Global
Capaian tersebut sekaligus mempertegas peran mahasiswa Indonesia dalam menghadirkan solusi kreatif berbasis kebutuhan masyarakat di tengah perkembangan teknologi global yang semakin pesat.
Melalui karya SANGIANG AI, mahasiswa FISIP Universitas Brawijaya menegaskan bahwa transformasi digital tidak harus meninggalkan nilai kemanusiaan maupun identitas budaya lokal. Sebaliknya, teknologi justru dapat menjadi medium untuk memperkuat transfer pengetahuan, meningkatkan kesadaran sosial, dan menjaga keberagaman budaya agar tetap relevan di era modern.














