Kanal24, Malang – Kebutuhan akan sistem pangan berkelanjutan berbasis teknologi semakin menjadi perhatian dunia seiring meningkatnya tantangan ketahanan pangan, perubahan iklim, hingga keterbatasan lahan pertanian. Inovasi berbasis kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) dan Internet of Things (IoT) kini menjadi solusi yang banyak dikembangkan untuk mendukung sistem pertanian modern yang lebih efisien, adaptif, dan ramah lingkungan. Di tengah tantangan global tersebut, mahasiswa Universitas Brawijaya kembali menunjukkan kapasitasnya melalui ajang inovasi internasional bertajuk World Young Inventors Exhibition (WYIE) 2026 yang digelar di Kuala Lumpur, Malaysia, pada 17–21 Mei 2026.
Mahasiswa Fakultas Teknologi Agroindustri dan Biosistem Universitas Brawijaya (FTAB UB), Inez Syawalytrie Favourita dari Program Studi Teknik Lingkungan angkatan 2024, berhasil meraih Gold Medal Award bersama tim delegasi multidisiplin Universitas Brawijaya. Tim tersebut terdiri atas Qudwa Abyaz Ghiffara, Aliya Mutia Nashwa, Dyandra Aurellia Agata Fitri dari Fakultas Ilmu Komputer, Farhan Alvin Alatas dari Fakultas Teknik, Zahra Listia Nurjannah dari FISIP, serta Sri Intan Amelia dari Fakultas Ilmu Budaya.
Baca juga:
Mahasiswa HI UB Bawa Pedoman WHO ke Sekolah, Edukasi Pencegahan Kekerasan Seksual di SMAN 8 Malang
Prestasi tersebut diraih melalui inovasi bertajuk “AQUASENSE: Dual-Brain Edge AI for Fully Autonomous and Offline Aquaponics Monitoring”. Teknologi ini merupakan sistem pemantauan akuaponik cerdas berbasis Dual-Brain Edge Artificial Intelligence yang dirancang untuk mendukung budidaya pangan terintegrasi secara otomatis tanpa ketergantungan koneksi internet.
AQUASENSE menggabungkan teknologi Internet of Things (IoT), edge computing, computer vision, hingga Retrieval-Augmented Generation (RAG)-based Expert AI Agent dalam satu ekosistem terpadu. Sistem tersebut mampu melakukan monitoring kondisi akuaponik secara real-time, mendeteksi penyakit pada daun tanaman, hingga menganalisis kesiapan panen selada menggunakan model object detection YOLOv11.
Tidak hanya itu, teknologi tersebut juga dapat memberikan rekomendasi penanganan tanaman secara otomatis berdasarkan hasil analisis AI dan basis pengetahuan yang telah dikembangkan tim.
Perjalanan menuju panggung internasional dimulai sejak tim Universitas Brawijaya dinyatakan lolos tahap seleksi paper ilmiah. Setelah melewati berbagai tahapan administrasi dan persiapan intensif, tim kemudian berangkat ke Malaysia untuk mempresentasikan inovasi mereka bersama ratusan inovator muda dari berbagai negara.
Pada tahap final kompetisi, tim delegasi UB melakukan demonstrasi langsung sistem AQUASENSE sekaligus pitching di hadapan dewan juri internasional dan investor industri global. Presentasi tersebut dilakukan untuk menunjukkan potensi implementasi sekaligus peluang komersialisasi teknologi yang mereka kembangkan.
Ajang ITEX-WYIE 2026 sendiri menjadi salah satu kompetisi inovasi internasional terbesar yang mempertemukan peneliti muda, startup teknologi, akademisi, hingga investor global dalam satu wadah kolaborasi. Berdasarkan data Indonesian Invention and Innovation Promotion Association, kompetisi tahun ini diikuti lebih dari 1.000 inovasi dari 17 negara, di antaranya Malaysia, China, Indonesia, Korea Selatan, Taiwan, Thailand, Qatar, Arab Saudi, Oman, Hong Kong, hingga Aljazair.
World Young Inventors Exhibition 2026 diselenggarakan oleh Malaysian Invention and Design Society bekerja sama dengan Indonesian Invention and Innovation Promotion Association. Kompetisi ini mengusung semangat kreativitas dan inventiveness untuk mendorong generasi muda menghadirkan solusi nyata terhadap berbagai tantangan global secara berkelanjutan.
Keberhasilan tersebut menjadi bukti bahwa mahasiswa FTAB UB mampu bersaing di level internasional melalui riset dan inovasi berbasis kolaborasi multidisiplin. Capaian ini juga menunjukkan pentingnya sinergi antara teknologi, agroindustri, dan keberlanjutan dalam menciptakan solusi yang berdampak luas bagi masyarakat.
Inez Syawalytrie Favourita mengatakan pengalaman mengikuti kompetisi internasional tersebut memberikan banyak pelajaran berharga, terutama dalam menyatukan berbagai perspektif keilmuan menjadi inovasi yang utuh dan aplikatif.
“Bagi saya, kompetisi ini bukan hanya tentang memenangkan penghargaan, tetapi juga tentang bagaimana kami belajar membangun solusi bersama dari latar belakang ilmu yang berbeda-beda. Justru melalui kolaborasi tersebut, kami dapat menciptakan inovasi yang lebih kuat, adaptif, dan memiliki dampak yang lebih luas. Saya berharap pencapaian ini dapat menjadi motivasi untuk terus berkarya dan berani membawa inovasi Indonesia ke panggung dunia,” ujar Inez.
Prestasi yang diraih delegasi Universitas Brawijaya di ITEX-WYIE 2026 diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi generasi muda Indonesia untuk terus berinovasi, memperkuat kolaborasi lintas disiplin ilmu, serta menghadirkan solusi teknologi yang mampu menjawab tantangan masa depan dunia. (nid)














