Kanal24, Malang – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) tidak lagi sekadar wacana teknologi masa depan. Ia telah menjadi kompetensi yang menentukan arah pembangunan, sekaligus membuka tantangan baru bagi perguruan tinggi untuk menyiapkan talenta yang tidak hanya memahami teori, tetapi juga mampu menghadirkan solusi nyata bagi masyarakat.
Kesadaran itulah yang melatarbelakangi digelarnya Workshop Artificial Intelligence Talent Factory (AITF) oleh Kementerian Komunikasi dan Digital Republik Indonesia bekerja sama dengan Universitas Brawijaya, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM), Rabu (11/3/2026), di Auditorium lantai 2 Fakultas Ilmu Komputer (FILKOM) UB.
Program ini menjadi ruang kolaborasi antara pemerintah, perguruan tinggi, dan industri untuk mempercepat pengembangan talenta AI nasional. Kepala Pusat Pengembangan Talenta Digital Kementerian Komunikasi dan Digital, Dr. Eng. Said Mirza Pahlevi, menjelaskan bahwa AITF dirancang untuk menjembatani kesenjangan antara kompetensi yang diajarkan di perguruan tinggi dan kebutuhan nyata dunia industri.
“AITF ini sebenarnya menjembatani antara skill yang diberikan di pendidikan formal dengan skill yang dibutuhkan industri. Karena perkembangan AI sangat cepat, maka pelatihan dan kurikulumnya juga harus terus diperbarui,” ujarnya.

Peserta Meningkat, Kolaborasi Kampus Semakin Luas
Program AITF yang memasuki tahun kedua ini menunjukkan perkembangan signifikan. Jika pada tahun sebelumnya hanya melibatkan satu universitas dengan sekitar 34 peserta, tahun ini kegiatan tersebut diikuti oleh tiga perguruan tinggi dengan jumlah mahasiswa yang hampir tiga kali lipat.
“Tahun lalu ada sekitar 34 peserta. Tahun ini ada 98 mahasiswa dari tiga universitas yang terlibat,” jelas Said Mirza.
Tidak hanya dari sisi peserta, jumlah use case atau kasus nyata yang dijadikan proyek pembelajaran juga meningkat. Tahun lalu hanya terdapat dua kasus, sementara tahun ini terdapat lima kasus yang akan dikerjakan oleh peserta.
Salah satu kasus yang menjadi fokus adalah pengembangan solusi AI untuk mendukung program Sekolah Rakyat, sebuah program strategis nasional yang bertujuan memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu.
“Tahun ini ada satu use case terkait sekolah rakyat yang merupakan program prioritas nasional. Kita ingin AI bisa membantu memberikan solusi nyata di bidang pendidikan,” katanya.
AI untuk Kepentingan Publik
Pengembangan solusi AI dalam program ini bukan hanya bersifat eksperimen akademik. Beberapa hasil dari AITF sebelumnya bahkan telah dimanfaatkan secara langsung oleh pemerintah.
Salah satu contohnya adalah model AI yang dikembangkan oleh tim AITF Komdigi bersama Universitas Brawijaya untuk membantu mendeteksi situs judi online.
“Tahun lalu sudah dimanfaatkan model AI yang dapat mendeteksi secara cepat dan masif situs judi online. Dengan model itu, proses penanganan dan penghapusan situs bisa dilakukan lebih cepat,” jelas Said Mirza.
Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa kolaborasi antara kampus dan pemerintah mampu menghasilkan inovasi yang langsung berdampak pada persoalan publik.

UB Siapkan Talenta AI untuk Masa Depan
Rektor Universitas Brawijaya Prof. Widodo menyambut baik keberlanjutan program ini. Menurutnya, keterlibatan UB dalam AITF merupakan bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang mampu menghadapi transformasi digital.
“Kami berterima kasih kepada Kementerian Komunikasi dan Digital yang terus mengajak Universitas Brawijaya untuk meningkatkan kompetensi mahasiswa dan menyiapkan talenta-talenta AI untuk membangun Indonesia,” ujarnya.
Ia menambahkan, penggunaan Sekolah Rakyat sebagai use case dalam program ini menjadi sangat relevan karena menyentuh agenda besar pembangunan sumber daya manusia di Indonesia.
“Kita tahu bahwa sekolah rakyat adalah program nasional untuk memberikan akses pendidikan bagi masyarakat yang kurang beruntung. Dengan dukungan AI, pendidikan di sekolah rakyat diharapkan bisa menjadi lebih personal dan berkualitas,” kata Widodo.
Ia berharap teknologi AI dapat membantu menciptakan sistem pembelajaran yang lebih adaptif sehingga kualitas pendidikan tidak lagi ditentukan oleh latar belakang sosial atau ekonomi.
“Sekolah rakyat diharapkan tetap menjadi sekolah unggulan yang tidak kalah dengan sekolah-sekolah terbaik yang ada,” ujarnya.
FILKOM Perluas Ekosistem Pengembangan AI
Dekan FILKOM UB Ir. Tri Astoto Kurniawan menjelaskan bahwa kegiatan ini juga menjadi bagian dari strategi fakultas dalam memperkuat kompetensi mahasiswa di bidang kecerdasan buatan.
Menurutnya, pengalaman langsung mengerjakan studi kasus nyata akan membantu mahasiswa memahami bagaimana AI digunakan untuk menyelesaikan persoalan riil.
“Dengan use case yang ada, mahasiswa dapat membangun kompetensinya secara lebih nyata sesuai dengan perkembangan teknologi AI,” ujarnya.
Selain melalui program AITF, FILKOM juga berupaya membuka ruang pengembangan AI di tingkat internal universitas.
“Kami juga sedang menyiapkan skema kegiatan serupa di lingkungan UB sehingga mahasiswa yang belum terlibat dalam AITF tetap memiliki kesempatan untuk mengembangkan kompetensinya di bidang AI,” kata Tri Astoto.
Ia menambahkan bahwa minat mahasiswa terhadap bidang ini sangat tinggi. Pada seleksi AITF tahun ini saja, terdapat lebih dari 120 pendaftar, namun hanya sekitar 38 mahasiswa yang dapat lolos seleksi.
“Artinya potensi talenta AI di kampus masih sangat besar dan perlu terus dikembangkan,” ujarnya.
Menyiapkan Generasi AI Indonesia
Workshop AITF menunjukkan bahwa pengembangan talenta digital tidak bisa berjalan sendiri. Ia membutuhkan kerja sama antara pemerintah, perguruan tinggi, dan ekosistem industri agar kompetensi yang lahir dari kampus benar-benar relevan dengan kebutuhan masa depan.
Di tengah percepatan transformasi digital global, kehadiran program seperti AITF menjadi salah satu upaya strategis untuk memastikan Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga pencipta solusi berbasis kecerdasan buatan.
Bagi mahasiswa yang terlibat, program ini bukan sekadar pelatihan teknologi. Ia adalah ruang belajar untuk memahami bahwa AI pada akhirnya bukan hanya soal algoritma, tetapi tentang bagaimana teknologi digunakan untuk menjawab persoalan nyata masyarakat.(Din/Qrn)














