Kanal24, Malang – Kesadaran masyarakat terhadap isu kesehatan mental dan perkembangan anak semakin meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, masih banyak istilah yang sering digunakan secara tidak tepat, salah satunya adalah autis dan autisme. Kedua istilah ini kerap dianggap memiliki arti yang sama, padahal sebenarnya memiliki perbedaan makna yang cukup penting, terutama dalam konteks medis dan sosial.
Secara umum, anak dengan autisme memiliki beberapa karakteristik yang cukup khas. Mereka bisa menunjukkan perilaku berulang seperti mengayunkan tangan, memutar benda tertentu, atau melakukan aktivitas yang sama secara terus-menerus. Beberapa anak juga memiliki minat yang sangat fokus pada satu hal tertentu dan sulit dialihkan ke aktivitas lain.
Perbedaan Istilah Autis dan Autisme
Kesalahpahaman ini sering muncul karena kurangnya literasi mengenai kesehatan mental dan perkembangan anak. Padahal, penggunaan istilah yang tepat dapat membantu meningkatkan pemahaman masyarakat sekaligus mengurangi stigma terhadap individu dengan autisme.
Autisme merupakan gangguan perkembangan saraf yang mempengaruhi kemampuan seseorang dalam berkomunikasi, berinteraksi sosial, serta berperilaku. Kondisi ini termasuk dalam kategori gangguan spektrum autisme atau Autism Spectrum Disorder (ASD). Disebut spektrum karena gejala dan tingkat keparahannya bisa sangat berbeda pada setiap individu yang mengalaminya.
Sementara itu, autis adalah kata sifat yang digunakan untuk mendeskripsikan seseorang yang menyandang autisme. Contoh penggunaannya adalah āanak autisā atau āindividu autisā. Penggunaan kata sifat ini membantu kita merujuk pada orang yang hidup dengan kondisi autisme.
Autisme sebagai Gangguan Perkembangan Saraf
Gangguan ini biasanya mulai terlihat sejak usia dini, bahkan sebelum anak berusia tiga tahun. Anak dengan autisme sering menunjukkan kesulitan dalam berinteraksi dengan orang lain, misalnya tidak merespons ketika dipanggil, jarang melakukan kontak mata, atau kesulitan memahami ekspresi emosi orang di sekitarnya. Selain itu, mereka juga dapat mengalami keterlambatan perkembangan bahasa dan komunikasi.
Di sisi lain, istilah autis sebenarnya merujuk pada individu yang memiliki kondisi autisme. Dengan kata lain, autisme adalah nama kondisi atau gangguannya, sedangkan autis adalah sebutan bagi orang yang mengalaminya. Dalam kehidupan sehari-hari, masyarakat sering menggunakan kedua istilah ini secara bergantian tanpa memahami perbedaan tersebut.
Karakteristik yang Sering Ditemukan
Selain itu, sebagian individu dengan autisme juga memiliki sensitivitas sensorik yang tinggi. Mereka bisa merasa sangat terganggu oleh suara keras, cahaya terang, atau sentuhan tertentu.
Kondisi ini membuat mereka membutuhkan lingkungan yang lebih nyaman dan stabil agar dapat beradaptasi dengan baik. Meski memiliki berbagai tantangan, individu dengan autisme juga dapat memiliki kemampuan dan potensi yang luar biasa.
Beberapa di antaranya memiliki daya ingat yang kuat, kemampuan berpikir logis yang tinggi, atau bakat khusus di bidang seni, musik, maupun matematika. Dengan dukungan yang tepat, mereka dapat berkembang dan berkontribusi dalam berbagai bidang kehidupan.
Pentingnya Deteksi Dini dan Dukungan Lingkungan
Para ahli menekankan bahwa autisme bukanlah penyakit yang dapat disembuhkan, melainkan kondisi perkembangan yang perlu dipahami dan didampingi. Oleh karena itu, pendekatan yang dilakukan biasanya berupa terapi dan pendampingan jangka panjang.
Beberapa terapi yang umum dilakukan antara lain terapi perilaku, terapi wicara, serta terapi okupasi untuk membantu meningkatkan kemampuan komunikasi dan kemandirian anak.
Deteksi dini menjadi salah satu langkah penting dalam menangani autisme. Semakin cepat kondisi ini dikenali, semakin besar peluang anak untuk mendapatkan intervensi yang tepat. Orang tua dianjurkan untuk memperhatikan perkembangan anak, terutama dalam hal komunikasi, interaksi sosial, dan perilaku sehari-hari.
Peran keluarga dan lingkungan juga sangat penting dalam mendukung perkembangan anak dengan autisme. Dukungan emosional, penerimaan, serta lingkungan yang inklusif dapat membantu mereka merasa lebih percaya diri dan mampu beradaptasi dengan kehidupan sosial.
Meningkatkan Pemahaman Masyarakat tentang Autisme
Selain keluarga, masyarakat juga memiliki peran besar dalam menciptakan lingkungan yang lebih ramah bagi individu dengan autisme. Edukasi publik mengenai kondisi ini dapat membantu mengurangi stigma dan kesalahpahaman yang masih sering terjadi.
Dengan pemahaman yang lebih baik mengenai perbedaan antara autis dan autisme, diharapkan masyarakat dapat menggunakan istilah yang lebih tepat serta menunjukkan sikap yang lebih empati terhadap individu dengan kondisi tersebut.
Pada akhirnya, peningkatan literasi ini menjadi langkah penting dalam menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan menghargai keberagaman setiap individu. (wan)













