Kanal24, Malang – Di kampus, riset terus lahir setiap tahun. Namun hanya sedikit yang benar-benar sampai menjadi produk yang digunakan masyarakat. Di tengah cepatnya perubahan industri dan teknologi, perguruan tinggi kini menghadapi tantangan besar: bagaimana mengubah penelitian menjadi inovasi yang relevan, dipakai publik, sekaligus mampu menjawab kebutuhan pasar.
Tantangan itu yang coba dijawab Universitas Brawijaya (UB) melalui Glow Innovation Talks di Auditorium Lt.2 UB, Rabu (13/5/2026). Melalui forum tersebut, Direktorat Inovasi dan Kawasan Sains dan Teknologi (DIKST) UB mendorong lahirnya ekosistem hilirisasi riset agar inovasi mahasiswa dan peneliti tidak berhenti di laboratorium, tetapi berkembang menjadi produk yang memiliki dampak nyata bagi masyarakat dan industri.

Direktur DIKST UB, Mohammad Iqbal mengatakan, agenda tersebut bertujuan membangun kesadaran pentingnya inovasi yang berdampak langsung bagi masyarakat. Menurutnya, perguruan tinggi kini tidak cukup hanya menghasilkan riset, tetapi juga harus mampu menghadirkan produk yang siap digunakan publik. “Kita ingin menunjukkan urgensi dari proses riset, mentransformasi riset from lab to market. Perguruan tinggi negeri harus bisa berkontribusi pada masyarakat dalam aspek menyiapkan inovasi yang siap hilir,” ujarnya.
Baca Juga :
Kampanye Mental Sehat Mahasiswa FEB UB Digelar
Dalam kegiatan itu, UB turut menggandeng Martha Tilaar Group untuk memperkuat proses research and development produk kesehatan dan kecantikan berbasis inovasi kampus. Iqbal menjelaskan, kolaborasi tersebut melibatkan peneliti, inventor, hingga pengembangan produk yang lebih ramah lingkungan dan mendukung Sustainable Development Goals (SDGs). “Kami ingin membangun ekosistem inovasi berkelanjutan melalui riset yang nature friendly dan relevan dengan arah industri kecantikan yang sekarang lebih mengarah ke green product,” katanya.
Glow Innovation Talks juga menghadirkan sejumlah narasumber dari industri dan pemerintah guna membagikan pengalaman hilirisasi produk inovasi. Iqbal menyebut, acara ini bukan sekadar talk show, melainkan wadah menghadirkan praktik nyata agar dapat memotivasi peneliti muda dan civitas akademika. “Best practices itu kita bawa ke sini supaya membangun awareness yang lebih kuat,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Inovasi dan Transfer Teknologi UB, Dias Satria menjelaskan, UB sebelumnya telah meluncurkan produk inovasi bernama Bomi hasil kolaborasi dengan Martha Tilaar. Menurutnya, acara ini sekaligus menjadi langkah mempertemukan inovasi kampus dengan kebutuhan pasar. “Problem yang terjadi sekarang adalah riset dan inovasi itu ada jurang terpisah dengan produk yang ada di pasar,” jelas Dias.
Baca juga : DIKST Gaspol Kolaborasi, Riset UB Siap Masuk Industri
Dias menambahkan, pihaknya turut mengundang Staf Presiden Bidang Ekonomi Kreatif untuk memperkuat jembatan antara inovasi dan industri kreatif nasional. Ia menilai kreativitas menjadi bahan bakar penting dalam pengembangan inovasi Indonesia ke depan. “Ekonomi itu bergerak dari resource base menjadi innovation. Untuk membuat Indonesia punya masa depan yang lebih baik, inovasi menjadi poin penting dan kreativitas adalah bahan bakar dari sebuah inovasi,” ujarnya.
Selain membahas hilirisasi produk, perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau AI juga menjadi sorotan dalam diskusi. Dias menegaskan AI bukan ancaman bagi manusia, melainkan alat pendukung dalam proses riset dan pengembangan pasar. “AI itu bukan menggantikan manusia, tapi AI melengkapi yang ada di dalam sebuah proses, apakah itu riset, teknologi, maupun pengembangan market,” pungkasnya. (ger)














