Kanal24, Malang — Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya (FIA UB) terus memperluas jejaring akademik global melalui pengembangan kelas internasional dan program double degree. Langkah ini menjadi bagian dari strategi FIA UB untuk meningkatkan kualitas pendidikan sekaligus memperkuat daya saing lulusan di tingkat internasional.
Komitmen tersebut disampaikan dalam konferensi pers pengembangan kelas internasional dan double degree yang digelar di FIA Co Working Space, Gedung A FIA UB, Kamis (12/3/2026).
Dekan FIA UB Prof. Dr. Hamidah Nayati Utami, S.Sos., M.Si. menegaskan bahwa internasionalisasi pendidikan menjadi bagian penting dari upaya meningkatkan kualitas akademik sekaligus memperluas perspektif mahasiswa.
“Program double degree dan kelas internasional ini merupakan bagian dari komitmen Fakultas Ilmu Administrasi untuk meningkatkan kualitas pendidikan serta membangun daya saing lulusan di tingkat global,” ujarnya.
FIA UB Perluas Program Studi dan Akreditasi Internasional
Prof. Hamidah menjelaskan, FIA UB saat ini memiliki 11 program studi, terdiri dari 6 program sarjana, 3 program magister, dan 2 program doktor. Dalam waktu dekat jumlah tersebut akan bertambah dengan hadirnya program magister yang diselenggarakan di Kampus Jakarta.
“Semester depan kami mulai membuka program studi magister di Kampus Jakarta yang telah mendapatkan izin penyelenggaraan serta akreditasi dari LAM. Dengan demikian jumlah program studi di FIA akan terus berkembang,” jelasnya.
Selain itu seluruh program studi di FIA UB saat ini telah meraih akreditasi unggul dan akreditasi internasional, yang menjadi fondasi penting dalam memperluas kolaborasi pendidikan global.

Pengalaman Akademik Lintas Negara
Prof. Hamidah menegaskan pengembangan kelas internasional dan double degree tidak sekadar membuka kesempatan belajar di luar negeri, tetapi juga memperluas pengalaman akademik mahasiswa dalam konteks global.
“Mahasiswa tidak hanya memperoleh pengalaman akademik di Indonesia, tetapi juga memiliki kesempatan belajar di berbagai universitas mitra di luar negeri. Hal ini akan memperluas perspektif mereka dalam memahami ilmu administrasi dalam konteks global,” katanya.
Program double degree FIA UB sendiri telah berjalan sejak 2007 hingga 2022 melalui kerja sama dengan sejumlah universitas di Jepang, antara lain Tohoku University, Kyushu University, Takushoku University, National Graduate Institute for Policy Studies (GRIPS), University of Tsukuba, serta Ritsumeikan Asia Pacific University (APU).
Pada periode 2010 hingga 2015, FIA UB juga mengembangkan kerja sama serupa dengan universitas di Thailand, seperti Burapha University dan Prince of Songkla University.
Saat ini kerja sama internasional tersebut masih berlanjut dengan GRIPS dan Asia Pacific University di Jepang, serta diperluas melalui kolaborasi baru dengan Victoria University di Australia.
“Mahasiswa FIA UB saat ini sudah ada yang menjalani studi di Jepang melalui program double degree di GRIPS dan APU. Sementara kerja sama dengan Victoria University di Australia juga akan mulai dijalankan,” jelas Prof. Hamidah.
Tidak hanya pada jenjang magister, FIA UB juga mulai membuka peluang double degree untuk program sarjana, salah satunya melalui kerja sama dengan Massey University di Selandia Baru.

Tantangan Sistem Pendidikan Global
Sementara itu Wakil Dekan Bidang Akademik FIA UB Dr. Fadillah Amin, M.A., Ph.D. menjelaskan bahwa program global degree di FIA UB saat ini masih didominasi oleh jenjang magister (S2).
Namun sebenarnya FIA UB juga pernah mengembangkan skema serupa pada jenjang doktoral (S3) bekerja sama dengan beberapa universitas di Thailand dan Taiwan. Program tersebut sempat terhenti ketika pandemi COVID-19 membatasi mobilitas internasional.
“Ketika pandemi COVID-19 mobilitas internasional sangat terbatas sehingga beberapa skema kerja sama pada level doktor terhenti. Saat ini kami berupaya untuk mengaktifkannya kembali,” jelasnya.
Menurut Dr. Fadillah, pengembangan double degree pada jenjang sarjana menghadapi tantangan tersendiri karena perbedaan sistem pendidikan antara Indonesia dan beberapa negara mitra.
Di Indonesia mahasiswa S1 diwajibkan menulis skripsi, sementara di sejumlah negara lain—terutama yang menggunakan sistem pendidikan Commonwealth—skripsi tidak selalu menjadi syarat kelulusan.
“Perbedaan sistem ini menjadi salah satu tantangan dalam menyusun skema double degree pada jenjang sarjana,” ujarnya.
Meski demikian, FIA UB tetap berupaya mengembangkan kerja sama dengan negara-negara yang memiliki sistem pendidikan yang relatif serupa, seperti Thailand dan Malaysia.
Dalam skema double degree tersebut, mahasiswa tetap membayar UKT di universitas asal, sementara universitas mitra biasanya menyediakan fasilitas akomodasi selama masa studi.
Melalui penguatan kelas internasional dan program double degree ini, FIA UB berharap dapat memperluas pengalaman akademik mahasiswa sekaligus menyiapkan lulusan yang mampu berkontribusi dalam kebijakan publik maupun dunia bisnis di tengah dinamika global.(Din)














