Kanal24, Malang – Ancaman pencemaran mikroplastik di Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas kian menjadi perhatian karena berpotensi memengaruhi kualitas lingkungan, kesehatan masyarakat, hingga upaya pencegahan stunting. Menyikapi persoalan tersebut, Universitas Brawijaya (UB) menggelar Focus Group Discussion (FGD) bertajuk “Sustainable Sanitation and Stunting Prevention”, Rabu (11/6/2026), guna memperkuat kolaborasi riset dan merumuskan solusi berkelanjutan berbasis ilmu pengetahuan.
Wakil Rektor Bidang Perencanaan, Kerjasama, dan Internasionalisasi UB, Prof. Andi Kurniawan, menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam mendorong pembangunan berkelanjutan berbasis riset.
“Universitas Brawijaya sebagai lembaga pendidikan merupakan center of culture tentu saja harus berkontribusi secara konkret dan sistematis. Dalam pembangunan dunia, keberlanjutan menjadi keyword utama,” ujarnya.
Baca juga:
ICSDGs 2026 Jadi Panggung Kolaborasi Global, UB Dorong Solusi SDGs di Tengah Ketidakpastian Dunia
Ia menjelaskan, forum diskusi seperti FGD menjadi sarana penting untuk menghasilkan kajian akademis berbasis data terbaru. “Untuk bisa sampai ke keberlanjutan tentu saja harus ada kajian akademis yang didasarkan pada informasi yang update. Ini bisa dilakukan lewat FGD seperti ini sehingga kita bisa mengarahkan dampak kita ke SDGs,” kata Andi.

Dalam forum tersebut, UB secara khusus mengangkat isu pengelolaan Daerah Aliran Sungai (DAS) Brantas, dengan fokus pada pencemaran mikroplastik. Menurut Andi, mikroplastik merupakan emerging pollutant yang kini semakin mendapat perhatian.
“Kita membahas bagaimana hubungan pencemaran mikroplastik dan pengelolaan DAS Brantas. Dari diskusi, kita menyadari bahwa mikroplastik sudah lama ada, hanya baru disadari sekarang,” jelasnya.
Ia menambahkan, keberadaan mikroplastik tidak bisa dilepaskan dari gaya hidup masyarakat, khususnya dalam pola konsumsi dan produksi. Hal ini berkaitan langsung dengan SDGs poin ke-12 tentang responsible consumption and production.
“Pengaturan gaya hidup, baik konsumsi maupun produksi, menjadi kunci dalam mengatasi persoalan ini,” tegasnya.
Sebagai bentuk kontribusi konkret, UB mendorong penguatan riset dan kolaborasi lintas sektor. Sejumlah inisiatif telah dikembangkan, mulai dari konsep bioindikator berbasis biofilm, perumusan indeks mikroplastik, hingga penguatan basis data melalui penelitian dosen dan mahasiswa.
“Semua ini adalah bagian dari ikhtiar bersama untuk menata ulang dan menebarkan inspirasi untuk kebaikan,” ujarnya.
Ke depan, UB juga berkomitmen terlibat dalam implementasi solusi berbasis alam (nature-based solution) dalam pengelolaan DAS Brantas, serta memperluas kolaborasi dengan pemerintah dan komunitas masyarakat.
“Kami akan ikut berkontribusi dalam program pengelolaan wilayah sungai, termasuk kerja sama dengan komunitas yang melakukan aksi bersih sungai. Ini adalah langkah konkret agar dampaknya tidak hanya regional, tapi juga global,” pungkas Andi. (qrn)













