Kanal24, Pasuruan – Perdagangan karbon mulai menjadi peluang ekonomi baru bagi masyarakat pengelola hutan. Namun, minimnya kapasitas teknis masih menjadi tantangan bagi banyak kelompok perhutanan sosial dalam memenuhi berbagai persyaratan administrasi dan perencanaan.
Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Fakultas Bio-Industri Pertanian dan Kehutanan Universitas Brawijaya (FBiPK UB) bersama dosen pembimbing mendampingi Kelompok Tani Organik (KTO) Sumber Makmur Abadi (SUMADI) di Desa Jatiarjo, Kecamatan Prigen, Kabupaten Pasuruan, menyusun Dokumen Rencana Aksi Mitigasi (DRAM) sebagai langkah awal menuju implementasi perdagangan karbon sektor kehutanan.
Program pendampingan yang berlangsung sepanjang Juli 2026 ini tidak hanya membantu memenuhi persyaratan regulasi, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola hutan secara berkelanjutan sekaligus membuka peluang peningkatan kesejahteraan melalui skema perdagangan karbon.
Baca juga:
FK UB Siapkan Double Degree Manchester

DRAM Jadi Kunci Menuju Perdagangan Karbon
Dosen Pembimbing KKN, Rifqi Rahmat Hidayatullah, S.Hut., M.Si., menjelaskan bahwa penyusunan DRAM merupakan salah satu tahapan penting dalam implementasi perdagangan karbon di sektor kehutanan.
Menurutnya, Indonesia kini telah memiliki landasan regulasi yang semakin kuat melalui Peraturan Menteri Kehutanan Nomor 6 Tahun 2026 mengenai tata cara perdagangan karbon melalui mekanisme offset emisi gas rumah kaca sektor kehutanan. Pemerintah juga telah menyiapkan berbagai instrumen pendukung, seperti SRN-PPI, Indonesia Forestry Carbon Hub, hingga Bursa Karbon Indonesia.
Meski demikian, tantangan terbesar masih berada di tingkat lapangan karena banyak kelompok perhutanan sosial belum memiliki kemampuan teknis dalam menyusun DRAM yang membutuhkan data, analisis, dan perencanaan yang cukup kompleks.
“Kehadiran mahasiswa KKN diharapkan dapat menjadi pendamping teknis sekaligus media transfer pengetahuan kepada masyarakat,” ujar Rifqi.
Kolaborasi Kampus, Desa, dan Kelompok Tani
Program ini mendapat apresiasi dari Kepala Desa Jatiarjo, Dardiri. Ia menilai penyusunan DRAM bukan hanya menjadi syarat menuju perdagangan karbon, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai dokumen perencanaan dalam berbagai program pengelolaan hutan lestari di masa depan.
Kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan kelompok masyarakat dinilai menjadi fondasi penting dalam memperkuat pengelolaan hutan berbasis masyarakat.
Hal senada disampaikan Ketua KTO SUMADI, Nur Hidayat. Ia mengaku selama ini kelompoknya memiliki keinginan menyusun DRAM, namun terkendala keterbatasan sumber daya dan kemampuan teknis.
Melalui pendampingan mahasiswa UB, kelompok tani kini lebih memahami tahapan penyusunan dokumen tersebut sehingga memiliki kesiapan lebih baik untuk mengikuti skema perdagangan karbon di masa mendatang.
Mahasiswa Turun Langsung Susun Data Mitigasi
Selama proses pendampingan, mahasiswa bersama pengurus kelompok tani melakukan berbagai tahapan penyusunan DRAM secara partisipatif.
Kegiatan meliputi identifikasi kondisi awal kawasan (baseline), pengumpulan data biofisik dan sosial, penyusunan proyeksi penurunan emisi, hingga perumusan rencana aksi mitigasi berbasis Afforestation, Reforestation, and Revegetation (ARR) yang disesuaikan dengan karakteristik kawasan kelola.
Melalui proses tersebut, anggota kelompok tani tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga terlibat aktif dalam setiap tahapan penyusunan dokumen.
Universitas Brawijaya berharap pendampingan ini dapat menjadi model kolaborasi antara perguruan tinggi dan kelompok perhutanan sosial dalam mendukung target penurunan emisi nasional, sekaligus menciptakan peluang ekonomi baru melalui perdagangan karbon yang berkelanjutan. (nid)














