Kanal24, Malang – Kemajuan teknologi digital telah mengubah cara masyarakat mencari informasi, berkomunikasi, hingga menjalankan berbagai aktivitas sehari-hari. Di balik berbagai kemudahan tersebut, ancaman hoaks, penipuan daring, pencurian data pribadi, hingga penyalahgunaan teknologi juga terus meningkat. Kondisi ini menjadikan literasi digital sebagai bekal penting agar masyarakat mampu memanfaatkan teknologi secara cerdas, aman, dan bertanggung jawab.
Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa FBD 13 Pandanmulyo menggelar sosialisasi literasi digital bagi ibu-ibu PKK Desa Pandanmulyo pada Senin (20/7/2026). Bertempat di Balai Desa Pandanmulyo, kegiatan ini menghadirkan edukasi mengenai pemanfaatan Artificial Intelligence (AI), cara mengenali hoaks, serta langkah-langkah sederhana menghadapi berbagai ancaman kejahatan siber yang semakin marak.
Baca Juga:
Lulusan Arsitektur FTUB Siap Berkarya Berbekal Nilai Nusantara
Bekali Warga Hadapi Tantangan Era Digital
Sosialisasi berlangsung dalam suasana hangat dan interaktif dengan diikuti anggota PKK Desa Pandanmulyo. Tim FBD 13 menyampaikan materi menggunakan bahasa yang sederhana, komunikatif, dan mudah dipahami, disertai berbagai contoh yang dekat dengan kehidupan sehari-hari sehingga peserta dapat langsung memahami penerapannya.

Kegiatan ini digelar sebagai respons terhadap masih terbatasnya literasi digital di tengah masyarakat. Seiring pesatnya perkembangan teknologi, penyebaran hoaks melalui media sosial maupun aplikasi percakapan masih kerap terjadi. Di sisi lain, berbagai modus kejahatan siber, seperti penipuan daring, phishing, hingga penyalahgunaan data pribadi, juga semakin sering menyasar masyarakat.
Melalui sosialisasi tersebut, peserta diajak memahami bahwa teknologi digital tidak hanya menawarkan kemudahan, tetapi juga menuntut kemampuan berpikir kritis agar dapat dimanfaatkan secara tepat, aman, dan bertanggung jawab.
Kenalkan AI, Hoaks, dan Keamanan Digital
Pada sesi pertama, peserta diperkenalkan dengan konsep dasar Artificial Intelligence (AI), mulai dari pengertian, contoh penerapan dalam kehidupan sehari-hari, hingga manfaatnya dalam membantu mencari informasi, menyusun dokumen, maupun mendukung berbagai pekerjaan administratif.
Peserta juga diingatkan bahwa meski AI menawarkan banyak kemudahan, teknologi tersebut tidak dapat dijadikan satu-satunya rujukan informasi. Informasi yang dihasilkan AI tetap perlu diverifikasi melalui sumber yang kredibel sebelum dipercaya maupun disebarluaskan.
Materi kemudian dilanjutkan dengan pembahasan mengenai pencegahan hoaks. Peserta diajak memahami cara mengenali berita palsu, memeriksa kredibilitas sumber informasi, serta membiasakan diri melakukan pengecekan fakta sebelum membagikan informasi kepada orang lain.
Selain hoaks, peserta juga mendapatkan edukasi mengenai berbagai bentuk kejahatan siber yang banyak terjadi di masyarakat. Beberapa kasus yang dibahas meliputi penipuan daring, pencurian data pribadi, tautan palsu (phishing), hingga modus penipuan yang mengatasnamakan anggota keluarga maupun instansi tertentu.
Sebagai langkah pencegahan, peserta diberikan sejumlah tips sederhana, seperti menggunakan kata sandi yang kuat, tidak pernah membagikan kode OTP kepada siapa pun, mengaktifkan autentikasi dua faktor apabila tersedia, serta selalu berhati-hati saat menerima pesan maupun tautan yang mencurigakan.
Antusiasme Peserta Warnai Sosialisasi
Usai penyampaian materi, kegiatan dilanjutkan dengan sesi diskusi dan tanya jawab yang berlangsung aktif. Berbagai pertanyaan diajukan peserta, mulai dari pemanfaatan AI dalam kehidupan sehari-hari, cara membedakan informasi yang valid dengan hoaks, hingga pengalaman menghadapi berbagai modus penipuan digital.
Suasana semakin semarak ketika panitia memberikan hadiah kepada peserta yang aktif bertanya maupun menjawab pertanyaan. Cara tersebut tidak hanya membuat diskusi berlangsung lebih hidup, tetapi juga mendorong peserta untuk terlibat aktif sepanjang kegiatan.
Salah satu anggota PKK mengaku senang mengikuti sosialisasi tersebut. Menurutnya, materi yang disampaikan sangat relevan dengan kehidupan sehari-hari sehingga membantunya memahami cara memanfaatkan teknologi digital secara aman, mengenali hoaks, serta melindungi data pribadi dari berbagai ancaman di ruang digital.
Kegiatan ditutup dengan sesi dokumentasi dan pembuatan konten bersama sebagai bagian dari kampanye literasi digital kepada masyarakat yang lebih luas. Melalui edukasi ini, FBD 13 Pandanmulyo berharap masyarakat tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga mampu menjadi agen literasi digital di lingkungan keluarga dan sekitarnya. Dengan meningkatnya kesadaran tersebut, Desa Pandanmulyo diharapkan semakin siap menghadapi perkembangan teknologi secara cerdas sekaligus mampu menekan risiko penyebaran hoaks dan berbagai bentuk kejahatan siber di lingkungan masyarakat. (gal)














