Kanal24, Malang – Lima tahun menjelang tenggat pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs) 2030, dunia justru dihadapkan pada tantangan yang semakin kompleks. Ketimpangan sosial masih tinggi, perubahan iklim kian nyata, konflik geopolitik memicu ketidakpastian, sementara berbagai target pembangunan berkelanjutan terancam meleset. Di tengah situasi tersebut, Universitas Brawijaya (UB) mempertemukan akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, pelaku industri, dan mahasiswa dari berbagai negara dalam International Conference on Sustainable Development Goals (ICSDGs) 2026 untuk mencari solusi berbasis riset dan kolaborasi lintas disiplin.
Mengusung tema “Sustainable Development in Times of Uncertainty: Equity, Innovation, and Resilience”, konferensi internasional yang diselenggarakan secara hybrid di UB (11/6/2026) ini menjadi ruang pertemuan berbagai gagasan untuk menjawab persoalan pembangunan berkelanjutan yang semakin kompleks.
Ketua Panitia ICSDGs 2026, Fitri Hariani Oktaviani, S.S., S.E., M.Commun., Ph.D., mengatakan pembangunan berkelanjutan tidak lagi cukup dipahami hanya dari aspek lingkungan dan pertumbuhan ekonomi. Menurutnya, kesetaraan, pendidikan, dan produksi pengetahuan juga menjadi fondasi penting dalam menciptakan perubahan yang berdampak.
“Tema tahun ini merefleksikan komitmen bersama untuk menjawab tantangan global melalui pengetahuan yang inklusif, inovasi, dan aksi kolektif. Perubahan yang berkelanjutan membutuhkan institusi yang inklusif, praktik yang adil, serta kemitraan yang bermakna,” ujarnya.
ICSDGs 2026 diikuti oleh 311 peserta dengan model keterlibatan hybrid yang menjembatani partisipasi luring dan daring. Para peserta berasal dari 15 negara, yakni Azerbaijan, Brunei Darussalam, China, Inggris, India, Indonesia, Irlandia, Jepang, Malaysia, Nepal, Nigeria, Pakistan, Filipina, Thailand, dan Turki.

Konferensi ini juga menghadirkan 20 pakar internasional yang terdiri atas tiga keynote speakers, tujuh invited speakers, serta sepuluh anggota komite ilmiah dari berbagai negara. Kehadiran mereka tidak hanya memperkaya diskusi akademik, tetapi juga membuka peluang kolaborasi riset lintas negara.
Fitri menilai capaian tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan global tidak dapat dilakukan secara parsial.
“Yang membuat konferensi ini istimewa adalah jangkauan internasionalnya. Kehadiran peserta dari berbagai negara menunjukkan adanya komitmen bersama untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dan setara,” katanya.
Sementara itu, Wakil Rektor Bidang Akademik Universitas Brawijaya, Prof. Dr. Ir. Imam Santoso, MP., menegaskan bahwa SDGs telah menjadi bagian dari arah kebijakan Universitas Brawijaya dalam menjalankan tridarma perguruan tinggi.
“Universitas Brawijaya memastikan program-program akademik, riset dan inovasi, pengabdian kepada masyarakat, serta berbagai program lainnya berjalan selaras dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals,” ujarnya.
Menurutnya, perguruan tinggi memiliki posisi strategis untuk menghadirkan solusi atas berbagai tantangan global melalui pendidikan, penelitian, inovasi, serta penguatan kolaborasi internasional.
“Kami terus mendorong kolaborasi multidisiplin dengan berbagai mitra di tingkat global untuk membantu menyelesaikan berbagai persoalan dunia yang semakin kompleks,” tambahnya.
Sebagai bagian dari rangkaian kegiatan, Universitas Brawijaya juga meluncurkan inisiatif SDGs UB sebagai refleksi komitmen institusi dalam memperkuat implementasi pembangunan berkelanjutan di seluruh sektor kampus.
Sepanjang konferensi, peserta terlibat dalam diskusi melalui lima jalur ilmiah, yaitu No Poverty and Social Equity, Green Technology, Decent Work and Sustainable Economic Growth, Quality Education and Knowledge Production, serta Health, Well-being and Resilient Societies. Berbagai topik tersebut menunjukkan bahwa pencapaian SDGs memerlukan pendekatan lintas disiplin, lintas sektor, dan lintas negara.
Fitri turut menyampaikan apresiasi kepada Program EQUITY LPDP, Universitas Brawijaya, mitra internasional, komite ilmiah, reviewer, moderator, pembicara, serta seluruh panitia yang mendukung terselenggaranya konferensi.
“Yang terpenting, saya ingin berterima kasih kepada seluruh peserta. Kehadiran Anda hari ini menunjukkan komitmen bersama untuk membangun masa depan yang lebih berkelanjutan dan setara,” ujarnya.
Di tengah semakin dekatnya tenggat pencapaian SDGs 2030, forum seperti ICSDGs menjadi pengingat bahwa tantangan global tidak dapat diselesaikan oleh satu negara atau satu disiplin ilmu semata. Kolaborasi, pertukaran pengetahuan, dan keberanian melahirkan inovasi menjadi kunci untuk memastikan agenda pembangunan berkelanjutan tidak berhenti sebagai komitmen di atas kertas, melainkan menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat.(Din)














