Kanal24, Malang – Fakultas Vokasi Universitas Brawijaya (UB) menggelar kuliah umum bertajuk Smart and Sustainable Hospitality yang menyoroti sinergi teknologi digital, penguatan sumber daya manusia (SDM), serta transformasi kebijakan dalam pengembangan pariwisata Indonesia. Wakil Menteri Pariwisata Republik Indonesia, Ni Luh Enik Ermawati, menekankan bahwa kemajuan teknologi dan perubahan tren global harus diimbangi dengan kualitas SDM yang mampu memberikan pelayanan terbaik di sektor pariwisata.
Ia menyampaikan bahwa meskipun digitalisasi akan terus berkembang, industri pariwisata tetap membutuhkan manusia yang mampu memberikan pelayanan dengan hati. Hal tersebut disampaikannya dalam kuliah umum yang digelar pada Kamis (12/3/2026) di Gedung Widyaloka Universitas Brawijaya, Malang. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Fakultas Vokasi UB dan diikuti oleh mahasiswa serta sivitas akademika yang tertarik mendalami perkembangan industri hospitality dan pariwisata di Indonesia.
Baca juga:
BUDDY, Inovasi Deteksi Kanker Payudara Berbasis AI Karya Mahasiswa UB Raih Juara Internasional

Pariwisata Terus Berubah di Era Digital
Dalam paparannya, Ni Luh Enik Ermawati mengapresiasi Universitas Brawijaya yang telah memberikan ruang diskusi antara pemerintah dan dunia akademik. Menurutnya, kolaborasi seperti ini penting untuk memperkuat pemahaman mahasiswa mengenai dinamika industri pariwisata yang terus mengalami perubahan.
Ia menjelaskan bahwa dunia pariwisata sangat dipengaruhi oleh perubahan pola masyarakat, perkembangan teknologi, serta tren global yang terus berkembang. Digitalisasi menjadi salah satu faktor yang mengubah cara wisatawan mencari informasi, memesan layanan, hingga berbagi pengalaman perjalanan.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa teknologi tidak dapat sepenuhnya menggantikan peran manusia dalam industri hospitality. Keramahan dan pelayanan yang tulus tetap menjadi faktor utama yang membuat wisatawan memiliki pengalaman berkesan selama berkunjung ke suatu destinasi.
Menurutnya, Indonesia memiliki keunggulan besar dalam hal tersebut. Budaya keramahtamahan masyarakat Indonesia dikenal luas di dunia dan menjadi nilai tambah yang mampu memperkuat posisi Indonesia dalam peta pariwisata global.
Peran SDM dalam Industri Hospitality
Lebih lanjut, Wakil Menteri Pariwisata menyoroti pentingnya penguatan kualitas SDM di sektor pariwisata. Ia menilai bahwa perkembangan teknologi harus diiringi dengan peningkatan kompetensi tenaga kerja agar mampu beradaptasi dengan kebutuhan industri yang semakin kompleks.
Mahasiswa vokasi, menurutnya, memiliki peran strategis karena pendidikan vokasi dirancang untuk menghasilkan lulusan yang siap kerja dan memiliki keterampilan praktis. Oleh karena itu, kolaborasi antara perguruan tinggi dan industri perlu terus diperkuat agar kurikulum pendidikan selaras dengan kebutuhan dunia kerja.
Ia juga mendorong generasi muda untuk memanfaatkan peluang yang ada di sektor pariwisata, baik sebagai profesional di industri hospitality maupun sebagai wirausaha yang mampu mengembangkan destinasi wisata lokal.
Menurutnya, sektor pariwisata tidak hanya berkaitan dengan destinasi wisata semata, tetapi juga melibatkan berbagai bidang seperti ekonomi kreatif, teknologi digital, transportasi, hingga pengelolaan lingkungan yang berkelanjutan.
Strategi Hadapi Tantangan Global
Dalam sesi diskusi, Ni Luh Enik Ermawati juga menyinggung tantangan global yang saat ini dihadapi sektor pariwisata, termasuk situasi geopolitik internasional yang dapat memengaruhi mobilitas wisatawan.
Ia menjelaskan bahwa di tengah situasi global yang tidak menentu, Indonesia justru memiliki peluang karena dinilai sebagai salah satu negara yang relatif aman bagi wisatawan internasional. Hal ini menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas sektor pariwisata nasional.
Kementerian Pariwisata, lanjutnya, telah menyiapkan strategi untuk mengantisipasi dampak kondisi global tersebut, salah satunya dengan melakukan pergeseran pasar wisatawan. Pemerintah kini memperkuat pasar di kawasan Asia dan Oseania yang tidak terlalu terdampak oleh gangguan konektivitas penerbangan di kawasan Timur Tengah.
Data menunjukkan bahwa sebagian besar wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia masih didominasi oleh negara-negara Asia dan Australia. Malaysia menjadi penyumbang terbesar kunjungan wisatawan, disusul oleh Australia dan China. Selain itu, pertumbuhan wisatawan dari India, Korea Selatan, dan Taiwan juga menunjukkan tren positif.

Potensi Pasar Wisata Jawa Timur
Ia juga menyoroti potensi pasar wisata di Jawa Timur yang memiliki pola serupa dengan tren nasional. Kunjungan wisatawan mancanegara ke wilayah ini masih didominasi oleh negara-negara ASEAN, khususnya Malaysia.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pasar regional memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas sektor pariwisata. Oleh karena itu, penguatan promosi dan konektivitas dengan negara-negara Asia menjadi salah satu strategi utama yang terus dikembangkan pemerintah.
Menurutnya, dengan strategi yang tepat serta dukungan dari dunia akademik dan industri, sektor pariwisata Indonesia memiliki peluang untuk tetap tumbuh meskipun menghadapi berbagai tantangan global.
Kuliah umum ini diharapkan dapat memberikan wawasan bagi mahasiswa mengenai arah perkembangan pariwisata Indonesia, sekaligus mendorong lahirnya generasi muda yang siap berkontribusi dalam membangun industri hospitality yang cerdas, berkelanjutan, dan berdaya saing global. (nid/qrn)














