Kanal24, Malang — Tunjangan Hari Raya (THR) yang diterima masyarakat menjelang Lebaran 2026 diharapkan tidak hanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif semata. Di tengah bayang-bayang ketidakpastian ekonomi global, para perencana keuangan mengimbau agar THR dimanfaatkan secara lebih bijak, salah satunya melalui investasi dan penguatan ketahanan finansial.
Seorang perencana keuangan menyampaikan bahwa kondisi ekonomi global yang masih dibayangi ketegangan geopolitik dan potensi perlambatan ekonomi membuat masyarakat perlu lebih waspada dalam mengelola keuangan. Ia menilai, penggunaan THR secara produktif dapat menjadi langkah awal untuk menghadapi berbagai kemungkinan risiko ekonomi di masa mendatang. Pernyataan tersebut disampaikan dalam konteks meningkatnya kekhawatiran terhadap stabilitas ekonomi global yang berdampak pada daya beli masyarakat.
Baca juga:
Pasar Murah TNI Bantu Warga Sambut Lebaran
Fenomena penggunaan THR yang cenderung habis dalam waktu singkat akibat pengeluaran konsumtif masih menjadi kebiasaan yang berulang setiap tahun. Padahal, jika dikelola dengan baik, dana tersebut dapat memberikan manfaat jangka panjang yang signifikan. Oleh karena itu, diperlukan perubahan pola pikir dalam memanfaatkan THR agar tidak hanya berorientasi pada kebutuhan sesaat.
Prioritas Dana Darurat dan Kebutuhan Pokok
Dalam pengelolaan THR, para ahli menyarankan agar masyarakat terlebih dahulu memprioritaskan kebutuhan utama, termasuk pembayaran kewajiban serta pembentukan dana darurat. Dana darurat dinilai penting sebagai bantalan finansial untuk menghadapi situasi tak terduga, seperti kehilangan pekerjaan atau kebutuhan mendesak lainnya.
Idealnya, sebagian THR dapat dialokasikan untuk dana darurat dengan porsi tertentu, sehingga keuangan tetap stabil meskipun terjadi gangguan pendapatan. Dengan adanya dana cadangan, masyarakat tidak perlu bergantung pada utang ketika menghadapi kondisi darurat.
Selain itu, kebutuhan Lebaran seperti konsumsi, transportasi, dan tradisi berbagi tetap dapat dipenuhi dengan alokasi yang terencana. Hal ini penting agar keseimbangan antara kebutuhan jangka pendek dan tujuan keuangan jangka panjang tetap terjaga.
Investasi Jadi Alternatif Strategis
Setelah kebutuhan pokok dan dana darurat terpenuhi, sisa THR dapat dimanfaatkan untuk investasi. Instrumen investasi yang relatif aman dan likuid menjadi pilihan utama, terutama di tengah kondisi ekonomi yang tidak menentu.
Beberapa instrumen yang disarankan antara lain reksa dana pasar uang, deposito, serta surat berharga negara. Instrumen-instrumen tersebut dinilai memiliki risiko yang lebih rendah dibandingkan investasi agresif, sehingga cocok bagi masyarakat yang baru memulai investasi.
Selain itu, emas juga masih menjadi pilihan populer sebagai aset lindung nilai. Dalam situasi ekonomi yang bergejolak, emas cenderung mampu menjaga nilainya dan memberikan rasa aman bagi investor.
Meski demikian, para ahli menekankan pentingnya memahami profil risiko sebelum memilih instrumen investasi. Setiap individu memiliki tingkat toleransi risiko yang berbeda, sehingga keputusan investasi harus disesuaikan dengan kondisi keuangan masing-masing.
Ubah Pola Konsumtif Menjadi Produktif
Momentum penerimaan THR seharusnya dapat dimanfaatkan untuk membangun kebiasaan finansial yang lebih sehat. Perubahan dari pola konsumtif menuju pola produktif menjadi kunci dalam menciptakan kestabilan ekonomi jangka panjang.
Tanpa perencanaan yang matang, THR berpotensi habis dalam waktu singkat tanpa memberikan dampak berarti bagi kondisi keuangan. Oleh karena itu, penting bagi masyarakat untuk membuat perencanaan sejak awal, termasuk menentukan alokasi dana untuk investasi dan tabungan.
Sejumlah pengamat juga menilai bahwa generasi muda mulai menunjukkan kesadaran yang lebih tinggi terhadap pentingnya investasi. Mereka memanfaatkan THR sebagai modal awal untuk membangun portofolio keuangan tanpa mengganggu kebutuhan sehari-hari.
Strategi Alokasi yang Seimbang
Dalam praktiknya, pengelolaan THR dapat dilakukan dengan membagi dana ke dalam beberapa pos pengeluaran. Sebagian dialokasikan untuk kebutuhan Lebaran, sebagian untuk tabungan atau dana darurat, dan sisanya untuk investasi serta kegiatan sosial seperti zakat atau sedekah.
Pembagian ini dinilai mampu menciptakan keseimbangan antara kepentingan jangka pendek dan jangka panjang. Disiplin dalam menjalankan rencana keuangan juga menjadi faktor penting dalam memastikan manfaat THR dapat dirasakan secara optimal.
Dengan strategi yang tepat, THR tidak hanya menjadi sumber kebahagiaan sesaat saat Lebaran, tetapi juga dapat menjadi fondasi bagi masa depan keuangan yang lebih stabil. Di tengah ancaman krisis global, langkah kecil seperti berinvestasi dari THR dapat memberikan dampak besar dalam membangun ketahanan finansial masyarakat. (nid)














