Kanal24, Malang – Kontribusi perguruan tinggi tidak lagi berhenti pada ruang akademik, tetapi dituntut hadir menjawab persoalan global yang nyata. Di tengah meningkatnya krisis air dunia, peran kampus menjadi strategis—bukan hanya sebagai pusat ilmu, tetapi sebagai jembatan pengetahuan yang berdampak langsung bagi masyarakat.
Universitas Brawijaya (UB) menunjukkan posisi tersebut dengan dipercaya oleh UNESCO untuk menerjemahkan ringkasan eksekutif laporan PBB tentang kondisi sumber daya air dunia tahun 2026. Kepercayaan ini bukan sekadar simbol reputasi akademik, melainkan bentuk pengakuan bahwa Indonesia mampu berkontribusi dalam agenda global yang krusial.
Rektor UB Prof. Widodo menegaskan bahwa mandat ini memiliki makna yang lebih dalam.
“Kepercayaan kepada UB yang diberikan oleh UNESCO merupakan kehormatan sekaligus tanggung jawab besar,” kata Widodo.
Representasi Indonesia Berujung Dampak Nyata
Hasil terjemahan tersebut diterbitkan dalam buku berjudul Air untuk Semua yang diluncurkan secara internasional di Paris bertepatan dengan peringatan Hari Air Sedunia. Buku ini tidak hanya menyajikan data, tetapi juga memetakan tantangan dan strategi pengelolaan air secara komprehensif di tingkat global.
Langkah ini menandai pergeseran penting peran perguruan tinggi—dari sekadar produsen pengetahuan menjadi aktor dalam distribusi pengetahuan global. UB tidak hanya membangun reputasi akademik, tetapi juga menghadirkan manfaat nyata bagi kemanusiaan, khususnya dalam isu krisis air yang semakin mendesak.
Wakil Rektor Bidang Kerja Sama dan Internasionalisasi Prof. Andi Kurniawan menegaskan bahwa posisi ini membawa tanggung jawab representasi nasional.
“UB tidak hanya bertindak sebagai institusi pendidikan, tetapi juga sebagai representasi Indonesia. Kami memiliki tanggung jawab memastikan informasi ilmiah ini dapat diakses dan dipahami masyarakat luas,” kata Andi.

Menurutnya, laporan PBB tersebut merupakan referensi ilmiah penting dalam memetakan kondisi air dunia, sehingga penerjemahan menjadi langkah strategis agar pengetahuan tersebut dapat diakses lebih luas.
Tantangan Global Krisis Air dan Ketimpangan
Di balik capaian tersebut, terdapat tantangan besar yang menjadi latar belakang kerja sama ini. Krisis air kini tidak lagi menjadi isu sektoral, melainkan persoalan global yang berdampak pada berbagai aspek kehidupan, mulai dari kesehatan hingga ketahanan ekonomi.
Andi menegaskan bahwa peran perguruan tinggi harus melampaui batas konvensional.
“Kalau kita berbicara tentang globalisasi peran perguruan tinggi, maka tidak cukup hanya bekerja sama dengan kampus luar negeri. Kita harus masuk ke lembaga strategis dunia, dan salah satu yang paling relevan dengan bidang pendidikan dan sumber daya air adalah UNESCO,” jelasnya.
Ia juga menyoroti bahwa krisis air kini semakin nyata dan menjadi tantangan bersama lintas negara.
“Hari ini kita melihat bahwa permasalahan lingkungan semakin nyata di depan mata. Fakta-fakta ilmiah menunjukkan bahwa krisis air terus berkembang dan menjadi tantangan besar bagi masyarakat dunia. Ini bukan lagi isu lokal atau parsial, tetapi sudah menjadi isu strategis global,” tegas Andi.
Laporan tersebut juga mengangkat isu penting lain, yakni ketimpangan gender dalam akses air. Direktur Regional UNESCO di Jakarta, Maki Katsuno-Hayashikawa, menekankan pentingnya akses informasi dalam bahasa lokal untuk mendukung kebijakan yang inklusif.
“Tersedianya Ringkasan Eksekutif dalam Bahasa Indonesia membantu memastikan bahwa pengetahuan ini dapat mendasari keputusan dan tindakan yang lebih inklusif di Indonesia. Kolaborasi dengan institusi akademik adalah kunci untuk mewujudkan hal ini, dan kontribusi Universitas Brawijaya melalui penerjemahan adalah contoh nyata bagaimana kemitraan semacam itu dapat membantu meningkatkan kesadaran akan tantangan terkait air dan membuat pengetahuan lebih mudah diakses di tingkat nasional,” kata Maki.

UB Bidik Peran Lebih Besar di Level Dunia
Keterlibatan UB dalam proyek ini tidak berdiri sendiri. Kampus tersebut juga tengah mempersiapkan langkah strategis untuk mengajukan diri sebagai UNESCO Chair di bidang pengelolaan sumber daya air, khususnya kawasan pesisir.
Langkah ini menjadi bagian dari strategi internasionalisasi yang lebih luas—tidak hanya membangun jejaring global, tetapi juga menghadirkan solusi konkret atas persoalan dunia. Dengan posisi tersebut, UB diharapkan mampu merumuskan model pengelolaan air yang dapat diterapkan di tingkat regional hingga global.
Pada akhirnya, inisiatif ini menunjukkan bahwa peran perguruan tinggi Indonesia mulai bergeser: dari sekadar peserta dalam diskursus global menjadi kontributor aktif dalam penyelesaian masalah dunia. Dan di tengah krisis air yang kian kompleks, kehadiran pengetahuan yang inklusif dan dapat diakses menjadi salah satu kunci utama menuju solusi yang berkelanjutan.(Din)













