Kanal24, Malang – Organisasi Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD) memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia akan mencapai 4,8 persen pada tahun 2026. Proyeksi ini mencerminkan kondisi ekonomi global yang masih diliputi ketidakpastian, meskipun Indonesia dinilai tetap memiliki fondasi ekonomi yang cukup kuat untuk bertahan.
Dalam laporan terbarunya, OECD menyebutkan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia cenderung melambat dibandingkan dengan target yang ditetapkan pemerintah. Perlambatan ini tidak lepas dari tekanan eksternal, seperti melemahnya pertumbuhan ekonomi global, ketegangan geopolitik, serta fluktuasi perdagangan internasional yang berdampak pada kinerja ekspor.
Meski demikian, konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional. Stabilitas daya beli masyarakat dinilai mampu menjaga laju pertumbuhan tetap positif, terutama di tengah kondisi global yang tidak menentu. Selain itu, peningkatan aktivitas ekonomi domestik juga turut berkontribusi dalam menopang pertumbuhan.
Baca juga:
Yang Perlu Kamu Tahu: Bagaimana Perang Iran Berdampak ke Indonesia
OECD juga menyoroti bahwa investasi masih menjadi tantangan yang perlu diatasi. Ketidakpastian global membuat investor cenderung berhati-hati dalam menanamkan modal, baik di sektor riil maupun keuangan. Oleh karena itu, diperlukan upaya lebih lanjut dari pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang kondusif dan menarik.
Dari sisi eksternal, kinerja ekspor Indonesia diperkirakan mengalami tekanan akibat menurunnya permintaan global. Harga komoditas yang fluktuatif juga menjadi faktor yang memengaruhi penerimaan negara dan kinerja sektor perdagangan. Kondisi ini membuat kontribusi ekspor terhadap pertumbuhan ekonomi menjadi terbatas.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, kebijakan pemerintah dinilai memiliki peran strategis. Belanja negara yang diarahkan pada pembangunan infrastruktur dan program perlindungan sosial diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan. Kebijakan ini juga bertujuan untuk meningkatkan daya beli masyarakat dan memperkuat sektor domestik.
Selain kebijakan fiskal, kebijakan moneter juga menjadi instrumen penting dalam menjaga stabilitas ekonomi. Inflasi yang relatif terkendali memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk menjaga suku bunga tetap kompetitif. Langkah ini diharapkan dapat mendorong konsumsi dan investasi, sehingga pertumbuhan ekonomi tetap terjaga.
Proyeksi OECD sebesar 4,8 persen ini berada di bawah target pemerintah Indonesia yang menargetkan pertumbuhan ekonomi di atas 5 persen pada 2026. Pemerintah optimistis target tersebut dapat tercapai melalui berbagai kebijakan strategis, termasuk percepatan pembangunan infrastruktur, hilirisasi industri, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia.
Di sisi lain, sejumlah lembaga keuangan domestik dan internasional memiliki pandangan yang lebih optimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia. Mereka menilai bahwa reformasi struktural yang terus dilakukan pemerintah dapat meningkatkan daya saing ekonomi nasional dan menarik lebih banyak investasi asing.
Indonesia juga dinilai memiliki keunggulan dari sisi struktur ekonomi yang didominasi oleh konsumsi domestik. Hal ini membuat ekonomi Indonesia relatif lebih tahan terhadap guncangan eksternal dibandingkan negara yang bergantung pada ekspor. Dengan jumlah penduduk yang besar, potensi pasar domestik menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi.
Ke depan, OECD menekankan pentingnya reformasi struktural untuk mendorong pertumbuhan jangka panjang. Reformasi tersebut mencakup peningkatan kualitas pendidikan, penguatan sektor industri, serta penyederhanaan regulasi untuk mendukung iklim usaha. Langkah-langkah ini diharapkan dapat meningkatkan produktivitas dan daya saing ekonomi Indonesia di tingkat global.
Secara keseluruhan, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menunjukkan adanya tantangan sekaligus peluang. Meskipun menghadapi tekanan global, Indonesia tetap memiliki potensi untuk mempertahankan pertumbuhan yang stabil. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan sinergi antara pemerintah, pelaku usaha, serta masyarakat, pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan diyakini dapat tercapai. (nid)














