Kanal24, Malang – Ketegangan geopolitik antara Iran dan Israel mulai memberikan dampak nyata terhadap dunia usaha di Indonesia. Sejumlah pelaku usaha mengaku mulai merasakan tekanan, terutama pada sektor-sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap impor bahan baku, energi, serta distribusi logistik global.
Konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah tersebut memicu kekhawatiran akan terganggunya stabilitas pasokan energi dunia. Selat Hormuz yang menjadi jalur utama distribusi minyak global berada dalam wilayah rawan konflik. Kondisi ini mendorong kenaikan harga minyak mentah internasional, yang kemudian berdampak langsung pada biaya produksi di dalam negeri.
Para pengusaha menyebutkan bahwa kenaikan harga energi menjadi salah satu tantangan utama. Biaya operasional meningkat, terutama bagi industri yang bergantung pada bahan bakar seperti manufaktur, transportasi, dan logistik. Hal ini mempersempit margin keuntungan, terutama bagi pelaku usaha kecil dan menengah yang memiliki daya tahan terbatas terhadap fluktuasi biaya.
Baca juga:
Diet Fiskal Belum Tuntas: Belanja Pegawai Jatim Masih Sentuh 31 Persen
Selain sektor energi, industri padat karya menjadi salah satu yang paling terdampak. Kenaikan harga bahan baku impor serta biaya distribusi membuat pelaku usaha harus melakukan penyesuaian, baik dengan menaikkan harga jual maupun melakukan efisiensi. Namun, langkah tersebut tidak mudah dilakukan di tengah daya beli masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
Ketidakpastian global akibat konflik juga turut memengaruhi biaya logistik internasional. Premi risiko yang meningkat membuat ongkos pengiriman barang menjadi lebih mahal, meskipun tidak terjadi gangguan langsung pada jalur distribusi. Hal ini berdampak pada harga barang impor dan ekspor, yang pada akhirnya memengaruhi daya saing produk Indonesia di pasar global.
Di sisi lain, pelaku usaha juga mengkhawatirkan potensi penurunan permintaan dari pasar ekspor. Negara-negara tujuan ekspor utama Indonesia cenderung bersikap hati-hati dalam melakukan impor di tengah ketidakpastian ekonomi global. Kondisi ini berpotensi menekan kinerja ekspor nasional, terutama pada sektor manufaktur dan komoditas non-unggulan.
Sektor pariwisata turut merasakan imbas dari konflik tersebut. Ketidakpastian global membuat sebagian wisatawan menunda perjalanan, yang berdampak pada penurunan tingkat kunjungan. Industri perhotelan, transportasi, dan usaha mikro di kawasan wisata menjadi pihak yang ikut terdampak secara langsung.
Tak hanya sektor riil, dampak konflik juga menjalar ke sektor keuangan. Ketegangan geopolitik mendorong volatilitas di pasar global, termasuk arus keluar modal dari negara berkembang. Hal ini berpotensi menekan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat, yang pada akhirnya meningkatkan biaya impor dan beban utang luar negeri.
Meski demikian, beberapa sektor justru berpotensi mendapatkan keuntungan dari situasi ini. Sektor energi dan komoditas seperti batu bara dan minyak kelapa sawit dapat meraup keuntungan dari kenaikan harga global. Namun, manfaat tersebut tidak serta-merta dirasakan secara merata oleh seluruh pelaku usaha.
Pengamat ekonomi menilai bahwa dampak konflik Iran-Israel terhadap Indonesia sangat bergantung pada durasi dan eskalasi yang terjadi. Jika konflik berlangsung dalam waktu singkat, dampaknya cenderung terbatas. Namun, jika berlarut-larut, tekanan terhadap inflasi, nilai tukar, dan pertumbuhan ekonomi nasional dapat semakin besar.
Para pengusaha kini cenderung mengambil langkah antisipatif dengan melakukan efisiensi biaya, diversifikasi pasar, serta mencari alternatif sumber bahan baku. Langkah ini dilakukan untuk menjaga keberlangsungan usaha di tengah ketidakpastian global yang terus berkembang.
Pemerintah juga diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi domestik melalui kebijakan yang tepat, khususnya dalam pengendalian harga energi dan bahan pokok. Selain itu, dukungan terhadap sektor usaha kecil dan menengah menjadi krusial agar mereka mampu bertahan menghadapi tekanan eksternal.
Secara keseluruhan, konflik Iran-Israel menjadi pengingat bahwa dinamika global memiliki dampak langsung terhadap perekonomian nasional. Dunia usaha dituntut untuk lebih adaptif dan tangguh dalam menghadapi berbagai risiko yang muncul akibat ketidakpastian geopolitik. (nid)














