Kanal24, Malang – Kenaikan harga minyak dunia di tengah ketegangan geopolitik global justru dinilai membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisi ekonominya. Di balik ancaman terhadap stabilitas energi dan fiskal, pemerintah dan sejumlah pengamat melihat momentum ini sebagai “angin segar” bagi sektor energi nasional, khususnya dalam mendorong ekspor dan optimalisasi penerimaan negara.
Lonjakan harga minyak dalam beberapa pekan terakhir dipicu konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan global. Harga minyak bahkan sempat menembus level tinggi akibat kekhawatiran pasar terhadap distribusi energi dunia yang tersendat.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pemerintah terus memantau situasi tersebut. Ia memastikan kebijakan energi nasional masih dalam kendali meski tekanan global meningkat. “Belum (menaikkan harga BBM subsidi)… kita tunggu saja,” ujarnya.
Baca juga:
OECD Proyeksikan Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,8 Persen
Di sisi lain, pemerintah melihat bahwa kenaikan harga minyak mentah Indonesia (ICP) berpotensi meningkatkan penerimaan negara, terutama dari sektor migas. Ketika harga global naik, pendapatan ekspor minyak dan gas ikut terdongkrak, memberikan ruang fiskal tambahan bagi APBN.
Sejumlah analis energi menilai kondisi ini bisa menjadi peluang strategis jika dimanfaatkan dengan tepat. Indonesia sebagai negara produsen sekaligus konsumen energi memiliki posisi unik untuk meraih keuntungan dari kenaikan harga, terutama melalui peningkatan lifting migas dan ekspor komoditas energi turunan.
Selain itu, kenaikan harga minyak dunia juga berdampak pada sektor lain seperti batu bara dan energi alternatif. Ketika harga minyak tinggi, permintaan terhadap energi substitusi cenderung meningkat, sehingga memberi efek domino positif pada ekspor komoditas energi Indonesia.
Namun demikian, peluang tersebut tetap dibayangi risiko. Kenaikan harga minyak berpotensi membebani subsidi energi jika tidak diantisipasi dengan baik. Dalam APBN 2026, asumsi harga minyak berada di kisaran tertentu, sehingga lonjakan di atas asumsi dapat menekan anggaran negara.
Pemerintah pun telah menyiapkan berbagai skenario mitigasi, termasuk realokasi anggaran dan efisiensi belanja negara untuk menjaga stabilitas fiskal. Langkah ini penting agar dampak negatif dari lonjakan harga minyak tidak lebih besar dibanding manfaat yang diperoleh.
Pengamat ekonomi dari berbagai lembaga juga menekankan pentingnya momentum ini untuk mempercepat transisi energi. Ketergantungan terhadap impor BBM harus dikurangi melalui penguatan energi domestik, termasuk pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).
Selain itu, hilirisasi sektor migas dinilai menjadi kunci agar Indonesia tidak hanya menjadi pengekspor bahan mentah, tetapi juga mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi. Dengan demikian, keuntungan dari kenaikan harga minyak dapat dimaksimalkan untuk jangka panjang.
Di tengah dinamika global yang penuh ketidakpastian, Indonesia dihadapkan pada pilihan strategis: sekadar bertahan dari gejolak harga minyak atau memanfaatkannya sebagai peluang untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Jika dikelola dengan tepat, lonjakan harga minyak dunia bukan sekadar ancaman, melainkan peluang emas untuk mendorong kemandirian energi dan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. (nid)














