Kanal24, Malang – Kasus Tuberkulosis (TBC) masih menjadi tantangan serius dalam sektor kesehatan masyarakat di Indonesia, termasuk di Kota Malang. Rendahnya kesadaran masyarakat terkait gejala, penularan, hingga stigma terhadap pasien TBC dinilai menjadi hambatan besar dalam upaya eliminasi penyakit tersebut. Berangkat dari kondisi itu, mahasiswa Program Studi Hubungan Internasional FISIP Universitas Brawijaya bersama komunitas YABHYSA Peduli TBC Kota Malang menggelar webinar dan talkshow interaktif bertajuk “Lessons Learned: Upaya dan Tantangan Pencegahan TBC di Kota Malang” pada Sabtu (16/05/2026), secara daring melalui Zoom Meeting.
Kegiatan yang merupakan bagian dari Praktikum Mata Kuliah Kesehatan Global tersebut menghadirkan Nur Bayti Ikhsanita, S.K.M., M.Kes., selaku Manajer Kasus YABHYSA Peduli TBC Kota Malang sebagai pemateri. Sementara itu, jalannya diskusi dipandu oleh mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Brawijaya, Bintang Corvi Diphda.
Baca juga:
Saat Landmark UB disulap Jadi Kanvas Cahaya, Kampanye SDGs Hadir Lewat Media Art

Webinar ini menjadi ruang edukasi sekaligus diskusi interaktif bagi mahasiswa dan masyarakat umum untuk memahami berbagai upaya pencegahan, pengendalian, hingga pengobatan TBC. Selain itu, peserta juga diajak memahami tantangan yang masih dihadapi dalam penanggulangan TBC, khususnya di wilayah Kota Malang.
Dalam pemaparannya, Nur Bayti Ikhsanita menjelaskan bahwa TBC merupakan penyakit menular yang menyebar melalui percikan dahak atau droplet. Karena itu, pemahaman masyarakat mengenai gejala, penularan, serta langkah pencegahan menjadi hal yang sangat penting untuk menekan angka kasus.
Ia juga menyoroti masih kuatnya stigma negatif terhadap pasien TBC di tengah masyarakat. Menurutnya, sebagian masyarakat masih menganggap TBC sebagai penyakit turunan, kutukan, atau sesuatu yang berkaitan dengan hal mistis.
“Padahal TBC adalah penyakit yang dapat dicegah dan disembuhkan apabila pasien menjalani pemeriksaan serta pengobatan secara tepat dan tuntas,” jelas Nur Bayti dalam sesi webinar.
Selain membahas aspek medis, diskusi juga menyoroti pentingnya kedisiplinan pasien dalam menjalani pengobatan. Pasien TBC diwajibkan mengonsumsi obat secara rutin sesuai aturan yang telah ditentukan agar proses penyembuhan berjalan optimal.
Nur Bayti menjelaskan bahwa pasien juga memerlukan pendampingan dari Pengawas Menelan Obat (PMO) agar tidak menghentikan pengobatan di tengah jalan. Sebab, penghentian pengobatan secara sepihak dapat menyebabkan TBC Resisten Obat (TBC RO), yakni kondisi ketika bakteri TBC menjadi kebal terhadap obat.
“TBC RO membuat proses pengobatan menjadi lebih panjang, lebih berat, dan membutuhkan pendampingan yang lebih intensif dibandingkan TBC Sensitif Obat,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, YABHYSA Peduli TBC Kota Malang juga menjelaskan berbagai peran komunitas dalam mendukung penanganan pasien TBC. Mulai dari investigasi kontak, pendampingan pasien, edukasi keluarga, pelatihan PMO, hingga penguatan kapasitas kader kesehatan masyarakat.
Kolaborasi antara komunitas, fasilitas layanan kesehatan, pemerintah daerah, mahasiswa, dan masyarakat dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung target eliminasi TBC di Indonesia.

Sesi diskusi turut membahas faktor risiko yang dapat meningkatkan kerentanan terhadap TBC, termasuk kebiasaan merokok dan penggunaan vape. Narasumber menegaskan bahwa kebiasaan tersebut dapat memperburuk kondisi paru-paru dan meningkatkan risiko gangguan kesehatan pernapasan.
Kegiatan webinar kemudian ditutup dengan ajakan untuk menggaungkan gerakan TOS TB atau Temukan TBC Obati Sampai Sembuh. Gerakan ini menekankan pentingnya deteksi dini, pengobatan yang tepat, serta pendampingan pasien hingga benar-benar sembuh.
Melalui kegiatan ini, mahasiswa diharapkan mampu menjadi agent of change dalam menyebarkan informasi yang benar mengenai TBC, mendorong kesadaran deteksi dini, sekaligus membantu mengurangi stigma terhadap pasien.
Pesan utama yang diangkat dalam kegiatan tersebut adalah bahwa masyarakat perlu menjauhi penyakitnya, bukan orangnya. Dengan kolaborasi antara dunia akademik dan komunitas, peningkatan literasi kesehatan masyarakat terkait TBC diharapkan dapat terus diperkuat secara berkelanjutan. (nid)













