Kanal24, Malang – Bayang-bayang krisis global menghantui. Kali ini bukan pandemi, melainkan konflik bersenjata di Timur Tengah yang dinilai berpotensi memicu guncangan ekonomi lebih dahsyat dari COVID-19. Pemerintah Jerman pun angkat suara, memberi peringatan keras kepada dunia soal dampak perang Iran yang kian meluas.
Menteri Pertahanan Jerman Boris Pistorius secara terbuka menyebut konflik tersebut sebagai ancaman nyata bagi stabilitas ekonomi global. Ia menegaskan, efeknya sudah mulai terasa hanya dalam hitungan minggu sejak eskalasi meningkat. āDampaknya benar-benar terlihat, bahkan setelah sedikit lebih dari dua minggu,ā ujarnya dalam sebuah pernyataan resmi.
Peringatan itu bukan tanpa dasar. Sejumlah lembaga ekonomi di Jerman langsung merevisi proyeksi pertumbuhan mereka untuk tahun 2026. Dari sebelumnya diperkirakan tumbuh 1,3 persen, kini ekonomi Jerman dipangkas menjadi sekitar 0,6 persen. Penurunan tajam ini dipicu oleh lonjakan harga energi dan terganggunya rantai pasok global akibat konflik yang terus memanas.
Baca juga:
Yang Perlu Kamu Tahu: Bagaimana Perang Iran Berdampak ke Indonesia
Tak hanya pertumbuhan yang tertekan, inflasi juga diprediksi ikut melonjak. Para ekonom memperkirakan kenaikan inflasi hingga mendekati 3 persen dalam dua tahun ke depan. Faktor utamanya adalah naiknya harga minyak dunia yang terdampak langsung oleh situasi geopolitik, terutama di jalur distribusi strategis seperti Selat Hormuz.
Dalam skenario terburuk, dampaknya bahkan bisa lebih serius. Analisis dari lembaga ekonomi Jerman menunjukkan bahwa jika konflik berlangsung lama, pertumbuhan ekonomi bisa merosot hingga mendekati stagnasi. Direktur lembaga tersebut, Sebastian Dullien, mengingatkan bahwa situasi ini berpotensi mempercepat gejala deindustrialisasi di Jerman. āRisikonya bukan hanya perlambatan, tapi juga tekanan struktural terhadap industri,ā tegasnya.
Efek domino dari konflik ini juga merambat ke berbagai negara. Lonjakan harga energi menjadi tekanan utama bagi negara-negara yang bergantung pada impor minyak. Selain itu, ketidakpastian global membuat pasar keuangan bergejolak dan menghambat investasi.
Berbeda dengan pandemi COVID-19 yang menghantam mobilitas dan sektor kesehatan, konflik Iran membawa ancaman langsung ke sektor energi dan perdagangan internasional. Dampaknya lebih cepat terasa di pasar global, terutama melalui kenaikan harga komoditas strategis.
Bagi Jerman, situasi ini menjadi ujian berat. Sebagai salah satu kekuatan ekonomi terbesar di Eropa, negara tersebut sangat bergantung pada stabilitas pasokan energi. Kenaikan harga energi otomatis meningkatkan biaya produksi industri, yang pada akhirnya menekan daya saing ekspor.
Di sisi lain, pemerintah Jerman terus mendorong upaya diplomasi untuk meredakan konflik. Pistorius menegaskan bahwa pihaknya tidak menginginkan eskalasi lebih lanjut dan berharap penyelesaian damai dapat segera dicapai.
Dampak konflik ini juga menjadi perhatian bagi Indonesia. Kenaikan harga minyak dunia berpotensi memengaruhi stabilitas harga dalam negeri, termasuk bahan bakar dan kebutuhan pokok lainnya. Jika tidak diantisipasi, kondisi ini bisa memicu tekanan inflasi dan memperlambat pertumbuhan ekonomi nasional.
Situasi global saat ini menunjukkan bahwa konflik geopolitik memiliki daya rusak ekonomi yang sangat besar. Bahkan, dalam banyak hal, dampaknya bisa melampaui krisis kesehatan global seperti pandemi.
Peringatan Jerman menjadi sinyal tegas bahwa dunia tengah berada di persimpangan berbahaya. Jika konflik Iran terus bereskalasi, bukan tidak mungkin krisis ekonomi baru akan munculālebih kompleks, lebih luas, dan lebih sulit dipulihkan dibandingkan sebelumnya. (nid)














