Kanal24, Malang — Kinerja ekspor Indonesia kembali menunjukkan tren positif pada awal 2026. Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor nasional pada Februari 2026 mencapai USD 22,17 miliar, atau tumbuh tipis 1,01 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Capaian ini memperpanjang optimisme terhadap daya tahan sektor perdagangan luar negeri di tengah dinamika ekonomi global.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Ateng Hartono, menyampaikan bahwa peningkatan tersebut terutama ditopang oleh kinerja ekspor nonmigas yang masih menjadi tulang punggung. “Pada Februari 2026, ekspor mencapai USD 22,17 miliar atau naik 1,01 persen dibandingkan Februari 2025,” ujar Ateng dalam konferensi pers, Rabu (1/4/2026).
Secara rinci, nilai ekspor nonmigas tercatat sebesar USD 21,09 miliar atau tumbuh 1,30 persen secara tahunan. Sementara itu, ekspor migas justru mengalami kontraksi sebesar 4,25 persen menjadi USD 1,08 miliar. Kondisi ini menegaskan ketergantungan ekspor Indonesia terhadap komoditas nonmigas, terutama dari sektor industri pengolahan.
BPS mencatat sejumlah komoditas unggulan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekspor pada Februari. Produk lemak dan minyak hewan atau nabati mencatat kenaikan signifikan hingga 16,19 persen, memberikan kontribusi penting terhadap peningkatan total ekspor. Selain itu, komoditas nikel dan turunannya melonjak tajam hingga 74,84 persen, diikuti mesin dan perlengkapan elektrik yang naik 28,43 persen.
Menurut Ateng, peningkatan ini tidak lepas dari kombinasi faktor harga dan volume ekspor di pasar global. Permintaan dari negara mitra dagang utama juga masih relatif kuat, terutama untuk komoditas berbasis sumber daya alam dan manufaktur.
Namun demikian, kinerja ekspor Februari terbilang lebih moderat dibandingkan Januari 2026. Pada bulan sebelumnya, nilai ekspor tercatat sebesar USD 22,16 miliar dengan pertumbuhan tahunan mencapai 3,39 persen. Artinya, terjadi perlambatan laju pertumbuhan ekspor secara year-on-year meski nilainya relatif stabil.
Di sisi lain, neraca perdagangan Indonesia tetap mencatatkan surplus. Pada Februari 2026, surplus neraca dagang mencapai USD 1,27 miliar, melanjutkan tren positif yang telah berlangsung selama puluhan bulan terakhir. Surplus ini ditopang oleh selisih antara ekspor sebesar USD 22,17 miliar dan impor yang berada di level USD 20,89 miliar.
Secara kumulatif, sepanjang Januari hingga Februari 2026, total nilai ekspor Indonesia mencapai USD 44,32 miliar atau tumbuh 2,19 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Angka ini menunjukkan bahwa sektor ekspor masih menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional di tengah ketidakpastian global.
Meski demikian, sejumlah tantangan tetap membayangi. Fluktuasi harga komoditas global, ketegangan geopolitik, hingga potensi perlambatan ekonomi di negara mitra dagang utama dapat memengaruhi kinerja ekspor ke depan. Selain itu, ketergantungan terhadap komoditas tertentu juga dinilai masih menjadi pekerjaan rumah bagi pemerintah.
Pengamat ekonomi menilai, diversifikasi produk ekspor dan penguatan industri hilir menjadi kunci untuk menjaga momentum pertumbuhan. Langkah hilirisasi yang selama ini didorong pemerintah, khususnya pada komoditas mineral seperti nikel, mulai menunjukkan dampak positif terhadap nilai tambah ekspor.
Ke depan, pemerintah diharapkan terus memperluas pasar ekspor sekaligus meningkatkan daya saing produk dalam negeri. Dengan demikian, kinerja ekspor tidak hanya bertahan, tetapi juga mampu tumbuh lebih kuat dan berkelanjutan di tengah persaingan global yang semakin ketat. (nid)














