Kanal24, Malang – Selama ini, duka kerap dianggap sebagai emosi yang hanya dimiliki manusia. Namun, berbagai penelitian ilmiah menunjukkan bahwa sejumlah hewan juga memiliki kemampuan merasakan kehilangan, bahkan mengekspresikannya melalui perilaku yang kompleks. Temuan ini mengubah cara pandang terhadap kehidupan emosional hewan yang ternyata jauh lebih dalam dari sekadar naluri bertahan hidup.
Perilaku Duka pada Hewan Liar
Dalam kajian perilaku hewan, ditemukan bahwa spesies sosial seperti gajah, paus, dan serigala memiliki ikatan emosional yang kuat dengan anggota kelompoknya. Ketika salah satu dari mereka mati, respons yang muncul tidak sekadar reaksi biasa, tetapi menunjukkan tanda-tanda kehilangan yang mirip dengan duka pada manusia. Hal ini terlihat dari perubahan perilaku, interaksi sosial, hingga respons fisiologis yang mereka alami.
Baca juga:
Benarkah Mukena Bukan Syarat Sah Shalat Bagi Perempuan?
Ekspresi Duka Gajah serta Hewan Laut
Gajah menjadi salah satu contoh paling menonjol dalam menunjukkan perilaku berduka. Hewan ini dikenal memiliki memori yang kuat dan hubungan sosial yang erat. Ketika kehilangan anggota kelompok, gajah sering kembali ke lokasi kematian, menyentuh tulang belulang, dan bahkan mencoba mengangkat tubuh rekannya yang telah mati. Perilaku ini menunjukkan adanya ikatan emosional yang mendalam serta kesadaran terhadap kematian.
Di lingkungan laut, paus dan lumba-lumba juga memperlihatkan respons serupa. Induk paus kerap terlihat menggendong anaknya yang telah mati selama berhari-hari, seolah tidak ingin melepaskannya. Fenomena ini menjadi bukti bahwa hubungan antara induk dan anak pada hewan laut tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga emosional.
Respons Duka pada Hewan Peliharaan
Fenomena duka tidak hanya ditemukan pada hewan liar. Hewan peliharaan seperti kucing dan anjing juga menunjukkan perubahan perilaku setelah kehilangan teman atau pemiliknya. Beberapa di antaranya menjadi lebih pasif, kehilangan nafsu makan, atau justru lebih sering mencari perhatian. Perubahan ini menunjukkan bahwa ikatan emosional yang terbentuk dalam lingkungan domestik juga memiliki pengaruh yang besar terhadap kondisi mental hewan.
Perdebatan Ilmiah dan Perspektif Baru
Meski demikian, para ilmuwan masih berhati-hati dalam menyimpulkan apakah perilaku tersebut benar-benar dapat disamakan dengan duka pada manusia. Sebagian berpendapat bahwa respons tersebut mungkin merupakan bentuk stres atau adaptasi terhadap perubahan lingkungan. Namun, banyak juga yang meyakini bahwa kompleksitas perilaku tersebut sulit dijelaskan tanpa melibatkan aspek emosional.
Yang jelas, temuan-temuan ini memperlihatkan bahwa hewan bukanlah makhluk yang sepenuhnya digerakkan oleh naluri. Mereka memiliki kehidupan sosial yang kompleks, membangun hubungan, dan merasakan dampak dari kehilangan. Kesadaran bahwa hewan juga mampu merasakan duka mempertegas bahwa mereka bukan sekadar makhluk yang hidup berdasarkan naluri, melainkan memiliki dimensi emosional yang kompleks. (wan)














