Kanal24, Malang – Rektor Universitas Brawijaya, Prof. Widodo, S.Si., M.Si., Ph.D.Med.Sc., menegaskan pentingnya peran dosen dalam mendampingi mahasiswa secara menyeluruh, tidak hanya dalam proses pembelajaran di kelas, tetapi juga dalam pengembangan keilmuan dan aspek psikologis mahasiswa. Hal tersebut disampaikannya dalam acara Halal Bihalal Fakultas Ilmu Administrasi Universitas Brawijaya pada Rabu (01/04/2026).
Dalam paparannya, Prof. Widodo menyoroti bahwa tantangan pendidikan tinggi saat ini tidak hanya berkaitan dengan kualitas akademik, tetapi juga bagaimana perguruan tinggi mampu merespons perubahan global, termasuk dalam membangun hubungan yang lebih humanis antara dosen dan mahasiswa.
Ia menekankan bahwa paradigma lama yang menempatkan mahasiswa sebagai objek pembelajaran sudah tidak relevan. Menurutnya, mahasiswa harus diposisikan sebagai mitra atau partner dalam proses pengembangan ilmu pengetahuan. Dengan pendekatan ini, diharapkan tercipta hubungan kolaboratif yang mampu mendorong inovasi dan kreativitas di lingkungan kampus.
Baca juga:
Halal Bihalal FIA UB Perkuat Integritas Akademik
“Mahasiswa bukan sekadar objek yang diajar, tetapi mitra dalam membangun keilmuan. Karena itu, dosen perlu mendekatkan diri dan mendampingi mereka secara aktif,” ujarnya.
Lebih lanjut, Prof. Widodo menjelaskan bahwa peran dosen tidak berhenti pada kegiatan mengajar di ruang kelas. Dosen juga memiliki tanggung jawab untuk membimbing mahasiswa dalam mengembangkan potensi akademik maupun non-akademik. Pendampingan ini, menurutnya, dapat dilakukan melalui keterlibatan mahasiswa dalam berbagai program kolaboratif, termasuk kerja sama dengan pemerintah daerah.
Keterlibatan tersebut dinilai menjadi sarana penting dalam proses transfer pengetahuan secara langsung. Mahasiswa tidak hanya memperoleh teori, tetapi juga pengalaman praktis yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan memiliki kompetensi yang lebih adaptif terhadap tantangan dunia kerja.
Selain aspek akademik, Prof. Widodo juga memberikan perhatian serius terhadap isu kesehatan mental mahasiswa. Ia mengungkapkan bahwa persoalan ini menjadi tren global yang tidak bisa diabaikan oleh institusi pendidikan tinggi.
Berdasarkan data dari Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) dan Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, sekitar 10 persen populasi mengalami masalah kesehatan mental. Kondisi ini, menurutnya, juga terjadi pada kalangan mahasiswa yang rentan terhadap tekanan akademik maupun sosial.
“Kesehatan mental menjadi isu yang sangat penting. Ini bukan hanya terjadi di Indonesia, tetapi juga di seluruh dunia, bahkan sudah menjangkiti anak-anak hingga remaja, termasuk mahasiswa,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa perguruan tinggi memiliki tanggung jawab untuk menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan mental mahasiswa. Hal ini dapat dilakukan melalui pendekatan yang lebih personal dari dosen, serta penyediaan layanan pendampingan yang memadai.
Menurutnya, dosen perlu memiliki kepekaan terhadap kondisi mahasiswa, termasuk mengenali tanda-tanda awal gangguan kesehatan mental. Dengan demikian, langkah pencegahan dan penanganan dapat dilakukan lebih dini.
Selain itu, Prof. Widodo juga mendorong adanya kolaborasi antara berbagai pihak di lingkungan kampus, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, hingga unit layanan konseling, untuk bersama-sama menjaga kesejahteraan mahasiswa.
Ia menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tinggi tidak hanya diukur dari capaian akademik, tetapi juga dari kemampuan institusi dalam mencetak lulusan yang sehat secara mental dan mampu beradaptasi dengan perubahan zaman.
Dalam konteks yang lebih luas, ia mengajak seluruh civitas akademika untuk membangun ekosistem pendidikan yang inklusif dan suportif. Melalui momentum Halal Bihalal FIA UB tersebut, ia berharap nilai kebersamaan dan kepedulian terhadap mahasiswa dapat semakin diperkuat. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya berkembang secara intelektual, tetapi juga memiliki ketahanan mental yang kuat.
Melalui penegasan ini, Universitas Brawijaya menunjukkan komitmennya dalam meningkatkan kualitas pendidikan tinggi yang tidak hanya berorientasi pada akademik, tetapi juga pada kesejahteraan mahasiswa secara holistik. (nid/wan)













